Kemah Ceria Berujung Petaka! Bocah SD 10 Tahun Terjatuh Dari Lantai Dua Masjid di Jepara

Foto bocah SD terjatuh dari lantai dua di mindahan

Jepara, Global7.id – Kegiatan kemah yang seharusnya menjadi ruang belajar dan kebersamaan bagi anak-anak justru berubah menjadi insiden mengerikan. Seorang siswa SD berusia 10 tahun terjatuh dari lantai dua Masjid Baitussalam, Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Sabtu 29/08/2026.

 

Informasi yg di himpun awak media di lokasi, Korban diketahui bernama Irfan Maulana (10), pelajar SDN 4 Bantrung, warga Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.

 

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.15 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun media di lokasi, korban sebelumnya bersama teman-temannya telah selesai melaksanakan salat Zuhur dan kembali ke tenda untuk makan siang.

 

Namun, lantaran kondisi cuaca cukup panas, korban bersama beberapa temannya kembali ke Masjid Baitussalam untuk beristirahat.

 

Sesampainya di masjid, korban bersama teman-temannya naik ke lantai dua melalui tangga yang berada di sisi utara. Di lantai tersebut, anak-anak kemudian bermain dan berlari.

 

Saat bermain, Irfan diketahui berjalan mundur hingga mendekati tepian jendela masjid yang disebut tidak memiliki pembatas pengaman.

 

Fahrul Efendi mengatakan, bahwa dirinya  sempat memberikan peringatan agar korban berhenti. Namun, korban tetap bergerak mundur hingga akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjun bebas dari lantai dua.

 

Peristiwa tersebut sontak memicu kepanikan. Korban segera mendapatkan pertolongan sebelum kemudian dilarikan ke RSUD Kartini Jepara untuk mendapatkan penanganan medis.

Bacaan Lainnya

 

Saat di hubungi melalui via WhatsApp Kapolsek Batealit AKP Khasin Fais,  membenarkan adanya insiden tersebut.

 

“Benar, korban langsung dilarikan ke RSUD Kartini Jepara,” ujar Fais.

 

KESELAMATAN ANAK JANGAN DIABAIKAN

 

Insiden tersebut kini menyisakan keprihatinan sekaligus pertanyaan serius. Korban merupakan anak-anak yang tengah mengikuti kegiatan kemah, tetapi justru berada di area bangunan bertingkat yang memiliki risiko jatuh.

 

Area lantai dua yang digunakan anak-anak untuk beraktivitas, terlebih pada bagian tepian jendela yang disebut tidak dilengkapi pembatas pengaman, seharusnya menjadi perhatian utama sebelum lokasi tersebut diakses peserta kemah.

 

Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang bertanggung jawab mengawasi anak-anak saat berada di luar area tenda?

 

Apakah seluruh fasilitas yang digunakan peserta telah diperiksa secara menyeluruh?

 

Apakah area berbahaya sudah ditutup, diberi pengaman, atau dilarang untuk dimasuki anak-anak?

 

Jangan sampai pengawasan baru diperketat setelah korban berjatuhan. Jangan sampai ketiadaan pembatas dan kelengahan sesaat kembali dibayar dengan keselamatan anak.

 

Evaluasi tidak boleh berhenti pada pernyataan prihatin. Pengelola kegiatan, pendamping, pihak sekolah, dan pengelola fasilitas harus memastikan setiap lokasi yang digunakan benar-benar aman sebelum anak-anak diperbolehkan beraktivitas.

 

Kegiatan kemah semestinya menjadi pengalaman positif bagi anak-anak, bukan arena yang membuka peluang terjadinya kecelakaan fatal. Satu kelalaian saja bisa mengubah keceriaan menjadi petaka.

 

Kini, kondisi Irfan menjadi perhatian utama. Penanganan medis di RSUD Kartini Jepara diharapkan dapat segera memberikan penanganan terbaik bagi korban.

 

Di sisi lain, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak bahwa dalam setiap kegiatan yang melibatkan anak-anak, keselamatan bukan sekadar pelengkap, melainkan tanggung jawab mutlak yang tidak boleh ditawar.

 

G7/Obg

Pos terkait