Global7.id – Bengkulu Utara,
Duka menyelimuti dunia pendidikan di Kabupaten Bengkulu Utara. Seorang pelajar Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan konsumsi paket dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.
Kabar meninggalnya siswa tersebut pertama kali menyebar luas melalui media sosial dan grup WhatsApp wali murid. Dalam tangkapan layar percakapan grup “Kelas 1B MIN 2 BU” yang beredar, para orang tua sempat diimbau agar tidak mengonsumsi paket MBG yang belum sempat dimakan anak-anak mereka. Imbauan tersebut muncul setelah seorang siswa mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG berupa roti burger, pisang, dan kacang.
Foto korban saat mendapatkan penanganan medis juga beredar dan memicu kepanikan di kalangan orang tua. Kekhawatiran pun meluas, mengingat program MBG merupakan salah satu upaya pemenuhan gizi bagi siswa sekolah dasar yang selama ini diharapkan mendukung tumbuh kembang anak.
Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Bakti Kautsar Ali, membenarkan kabar duka tersebut saat dikonfirmasi pada Minggu (1/3/2026). Ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban sekaligus memastikan bahwa proses penyelidikan tengah berjalan.
“Kami turut berbelasungkawa atas meninggalnya ananda. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pastinya. Kami sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang akan keluar pada jam kerja,” ujarnya.
Sebelumnya, pihak kepolisian menyatakan bahwa dari banyaknya siswa penerima MBG di sekolah tersebut, hanya satu siswa yang dilaporkan mengalami gejala sakit. Namun dengan adanya korban meninggal dunia, penyelidikan kini diperluas dan dilakukan secara lebih komprehensif.
Polisi telah mengamankan sampel makanan yang diduga dikonsumsi korban untuk diuji di laboratorium. Selain itu, sejumlah pihak juga telah dimintai keterangan, mulai dari pihak sekolah, penyedia makanan, hingga tenaga medis yang menangani korban saat dirawat.
Hingga saat ini belum ada kesimpulan resmi terkait penyebab kematian siswa tersebut. Aparat menegaskan bahwa belum dapat dipastikan apakah insiden ini murni akibat keracunan makanan atau terdapat faktor medis lain yang berperan.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Pengawasan distribusi makanan, proses penyimpanan, hingga kualitas bahan baku menjadi sorotan publik. Banyak pihak mendesak agar evaluasi menyeluruh dilakukan demi mencegah kejadian serupa terulang.
Baca Juga: KPK Turun Tangan Petakan Celah Korupsi Program MBG, Isu Mark Up Bahan Pangan Disorot
Di sisi lain, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi sebelum hasil uji laboratorium diumumkan secara resmi. Penyebaran informasi yang belum terverifikasi dikhawatirkan dapat memperkeruh situasi dan menimbulkan keresahan yang lebih luas.
Program MBG sendiri dirancang untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi siswa sekolah, terutama di daerah yang membutuhkan perhatian khusus. Karena itu, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaannya menjadi hal yang sangat krusial.
Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat Bengkulu Utara bahkan nasional. Banyak pihak menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan apakah terdapat unsur kelalaian dalam proses penyediaan makanan atau insiden tersebut merupakan kasus medis yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas menu MBG.
Duka mendalam masih dirasakan keluarga korban dan lingkungan sekolah. Aktivitas belajar mengajar pun diliputi suasana haru. Para orang tua berharap investigasi berjalan objektif dan menyeluruh agar kebenaran terungkap dengan jelas.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa setiap program yang menyasar anak-anak harus dilaksanakan dengan standar keamanan tertinggi. Keselamatan peserta didik adalah prioritas utama. Publik kini menanti kepastian hasil laboratorium sebagai dasar langkah selanjutnya, baik dalam penegakan hukum maupun evaluasi kebijakan distribusi makanan di sekolah.
G7/Bengkulu Today










