Viral Pungli Pelabuhan Gilimanuk: Jasa Keset Rp4 Ribu per Mobil Terungkap

Foto, Tangkap layar video Viral dugaan pungli jasa keset Rp4 ribu per mobil di Pelabuhan Gilimanuk Bali saat antre masuk kapal feri

Global7.id – Nasional, 

Pungli Pelabuhan Gilimanuk mendadak menjadi sorotan setelah video berdurasi 17 detik yang memperlihatkan dugaan aksi pungutan liar (pungli) di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, mendadak viral dan memicu kemarahan publik. Video tersebut diketahui pertama kali beredar luas di media sosial pada Minggu, 4 Januari 2026.

 

Dalam rekaman itu, tampak seorang pria mengenakan topi dan seragam biru menghentikan sebuah mobil jenis minibus yang hendak masuk kapal feri penyeberangan Gilimanuk–Ketapang. Pria tersebut terdengar meminta uang sebesar Rp4 ribu dengan alasan “jasa keset menuju kapal”.

 

Pengemudi minibus terlihat kebingungan dan mempertanyakan pungutan tersebut.

“Ini bayar apa?” tanya sang pengemudi.

 

Pria berseragam biru itu kemudian menjawab, “Jasa keset Rp4 ribu menuju kapal, bayarnya di sini.”

Percakapan singkat namun janggal itu sontak memicu reaksi keras warganet. Banyak yang menilai pungutan tersebut tidak memiliki dasar hukum yang jelas dan diduga kuat merupakan praktik pungli yang sudah lama meresahkan pengguna jasa penyeberangan.

 

Sejumlah komentar pedas bermunculan di media sosial. Warganet mempertanyakan mengapa pungutan dilakukan tanpa karcis resmi maupun papan informasi. Tak sedikit pula yang menyoroti lemahnya pengawasan di salah satu pelabuhan tersibuk di Bali tersebut.

 

Pelabuhan Gilimanuk yang berada di wilayah Kabupaten Jembrana merupakan pintu utama penghubung Pulau Bali dan Pulau Jawa. Setiap hari, ribuan kendaraan pribadi, bus, hingga truk logistik melintas melalui jalur penyeberangan ini.

 

Bacaan Lainnya

Pasca viralnya video tersebut, pada 6–7 Januari 2026, sejumlah media nasional melaporkan bahwa pihak terkait telah melakukan penelusuran dan menyatakan praktik “jasa keset” tersebut dihentikan. Pengelola pelabuhan juga disebut telah memberikan peringatan dan melakukan penertiban di area masuk kapal feri.

 

Meski demikian, publik mendesak agar kasus ini tidak berhenti pada klarifikasi semata. Masyarakat meminta adanya tindakan tegas dan transparan agar praktik serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.

 

Kasus ini kembali menjadi pengingat serius bahwa praktik pungli sekecil apa pun dapat mencederai kepercayaan publik, terlebih Bali sebagai destinasi wisata dunia yang menuntut pelayanan transportasi bersih, aman, dan profesional.

 

G7/TEAM

Pos terkait