Global7.id – Jombang | Minggu 28 Desember 2025
Drama patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, benar-benar meledak di publik. Sejak viral pada Minggu (28/12/2025), patung ini langsung menyedot perhatian warganet hingga jadi perbincangan nasional. Beragam komentar muncul, mulai dari yang menganggap lucu, unik, hingga menyoroti serius soal sumber anggarannya.
Tak ingin isu melebar liar, Kepala Desa Balongjeruk akhirnya angkat suara. Dengan tegas ia membongkar seluruh fakta yang selama ini dipertanyakan publik.
Klarifikasi Telak: Tidak Sentuh Dana Desa, Semua dari Kantong Pribadi!
Kepala Desa menegaskan keras bahwa pembangunan patung macan putih tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Dana Desa. Ia memastikan seluruh biaya dikeluarkan dari uang pribadinya.
Bukan hanya sekadar klaim, ia bahkan membeberkan detail anggaran secara blak-blakan:
• Rp2 juta untuk pemborong sekaligus pembuatan patung dan telapaknya
• Rp1,5 juta untuk material dan kebutuhan pendukung
Total biaya yang digelontorkan mencapai Rp3,5 juta.
“Ya, semuanya murni dana pribadi saya. Tidak ada satu rupiah pun Dana Desa dipakai. Rp2 juta untuk pemborong dan telapak, Rp1,5 juta untuk materialnya,” tegasnya.
Ada Deal Rp2,5 Juta + DP Rp500 Ribu, Jika Tak Sesuai Batal!
Tak berhenti di situ. Sang Kades juga mengungkap bahwa sebelum patung berdiri, sudah ada kesepakatan harga pembuatan sebesar Rp2,5 juta, dengan pengambilan langsung di Ngadiluwih. Ia bahkan sudah menyetor DP Rp500 ribu, disertai perjanjian keras: jika hasil tidak sesuai 90 persen dari ekspektasi, proyek batal.
“Kesepakatannya Rp2,5 juta ambil di Ngadiluwih. Saya sudah DP Rp500 ribu dan jelas ada perjanjian kalau tidak sesuai ekspektasi 90 persen, ya tidak jadi,” ungkapnya.
Namun setelah berdiri dan viral, patung justru menuai pro kontra tajam. Publik pun menanti sikap akhir pemerintah desa.
Akhirnya Diputuskan: Patung Akan Diganti!
Menimbang dinamika yang berkembang, Kepala Desa akhirnya mengambil langkah penting. Ia memastikan patung tersebut akan diganti.
Evaluasi kini tengah berjalan. Pemerintah desa tidak ingin persoalan estetika berubah menjadi konflik panjang. Tujuannya jelas: menjaga kondusivitas dan memastikan pembangunan desa tetap fokus.
Publik Bereaksi, Transparansi Kades Diapresiasi
Meski sempat menjadi bahan candaan nasional, sikap terbuka Kepala Desa justru menuai apresiasi. Ia tidak hanya menyampaikan klarifikasi, tetapi juga berani membuka detail angka sesuatu yang jarang terjadi.
Kasus ini menjadi pelajaran bahwa apa pun yang berada di ruang publik otomatis berada di mata publik. Transparansi, kejelasan, dan keberanian memberikan fakta menjadi kunci utama.
Kini, suasana Balongjeruk mulai mereda. Warga berharap rencana penggantian patung berjalan mulus dan tidak lagi memicu polemik.
G7/TEAM










