Global7.id – Jepara,
Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia mengenang dua peristiwa besar: tragedi G30S 1965 yang kemudian melahirkan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, dan tragedi Bom Bali II tahun 2005 yang menorehkan duka mendalam bagi kemanusiaan. Kedua peristiwa itu menjadi cermin betapa rapuhnya kehidupan berbangsa bila nilai kemanusiaan dan persatuan dikesampingkan.
Namun, makna “kesaktian” hari ini bukan lagi sebatas mengenang masa lalu. Ia justru mengajak kita menatap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sekarang. Salah satunya adalah polemik program makan bergizi gratis yang semestinya menjadi upaya mulia meningkatkan gizi generasi muda, tetapi justru diwarnai kasus keracunan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jepara.
Tragedi keracunan ini menggoreskan pelajaran berharga. Pancasila mengajarkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Artinya, setiap program kebijakan publik tidak boleh sekadar seremonial atau simbolis, melainkan harus menjamin keselamatan dan kebermanfaatan nyata bagi rakyat.
Seperti halnya peristiwa sejarah G30S dan Bom Bali yang meninggalkan luka, kasus keracunan akibat program makan gratis menjadi pengingat: kecerobohan dalam kebijakan bisa berujung pada penderitaan masyarakat kecil. Di sinilah relevansi Kesaktian Pancasila diuji. Apakah negara mampu menghadirkan rasa aman, keadilan, dan perlindungan bagi seluruh warganya?
Ketua PWO Jepara, Ali Achwan, mengingatkan bahwa momentum Hari Kesaktian Pancasila harus menjadi evaluasi serius bagi semua pihak, terutama pemerintah.
“Jangan sampai rakyat jadi korban dari kebijakan yang terburu-buru atau sekadar pencitraan. Pancasila mengajarkan kita untuk mengutamakan kemanusiaan dan keadilan. Kalau program makan bergizi gratis malah menimbulkan keracunan, itu artinya ada yang salah dalam pelaksanaannya. Kesaktian Pancasila hari ini adalah keberanian kita memperbaiki kebijakan agar benar benar berpihak pada keselamatan rakyat,” ujarnya.
Peringatan ini memberi pesan tersirat bahwa Pancasila harus hidup dalam tindakan nyata, memastikan setiap anak bangsa mendapatkan hak gizi tanpa ancaman, memastikan kebijakan publik berpihak pada keselamatan rakyat, dan memastikan perbedaan pendapat diselesaikan dengan dialog, bukan kekerasan.
Kesaktian Pancasila sejatinya bukan hanya bertahan menghadapi musuh, tetapi juga kesanggupan bangsa ini untuk belajar dari sejarah, memperbaiki diri, dan menjaga kemanusiaan di tengah tantangan zaman.
G7/AR










