Global7.id – Jepara,
Deru api yang membumbung tinggi pada Rabu pagi, 21 Januari 2026, sekitar pukul 09.10 WIB, menjadi saksi pilu runtuhnya tempat berteduh sebuah keluarga di dukuh Telaga desa Kemojan Rt 02/03, Kecamatan Karimun Jepara. Sebuah rumah panggung berukuran 6 x 9 meter milik Akbar hangus terbakar akibat dugaan kuat korsleting listrik.
Dalam hitungan menit, si jago merah melalap seluruh bagian rumah tanpa menyisakan sedikit pun harta benda. Api bukan hanya menghabiskan dinding dan atap kayu, tetapi juga membakar habis seluruh isi rumah mulai dari pakaian, Kartu Keluarga, KTP, surat nikah, ijazah, hingga dokumen penting lainnya. Lebih memilukan lagi, uang tunai sebesar Rp7 juta yang disimpan untuk kebutuhan keluarga turut lenyap menjadi abu.
Tangis dan kepanikan menyelimuti lokasi kejadian. Akbar dan keluarganya hanya bisa menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung, berbagi tawa, dan menaruh harapan, kini tinggal puing hitam sisa kebakaran.
Pasca kejadian, Akbar bersama keluarga terpaksa menumpang dan hidup dalam keterbatasan. Tanpa rumah, tanpa dokumen, dan tanpa bekal, mereka kini hanya menggantungkan harapan pada kepedulian sesama.
Di tengah duka mendalam tersebut, secercah harapan datang dari kepedulian sosial. Sudarmaji, Ketua PAC GRIB Jaya Kecamatan Karimun, bersama para anggota, menjadi pihak pertama yang hadir memberikan bantuan langsung kepada Akbar dan keluarganya. Bantuan tersebut memang tidak besar, namun sarat makna.
Ini mungkin tidak seberapa, semoga bisa untuk membeli beras dan membantu bertahan hidup selama dua minggu ke depan,” ujar Sudarmaji dengan penuh empati.
Bantuan awal ini menjadi penguat moral bagi keluarga korban bahwa mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini. Kini, Akbar dan keluarganya masih menanti uluran tangan para dermawan, relawan kemanusiaan, dan pihak-pihak yang tergerak hatinya untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan.
Musibah ini menjadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja, dan kepedulian sosial adalah cahaya di tengah gelapnya kehilangan. Setiap bantuan, sekecil apa pun, sangat berarti bagi Akbar dan keluarganya untuk kembali menata hidup dari nol.
G7/AR










