Gelar Doa Bersama dan Ruwatan Ageng Karimunjawa Lestari di Taman Kerang Jepara

Foto, tangkap layar dari fleyer resmi save Karimunjawa (Ruwatan Ageng Karimunjawa Lestari di Taman Bukur atau Kerang Jepara).

Global7.id – Jepara,

Kegiatan yang dilaksanakan hari Senin,(19 Februari 2024) malam ini akan dimulai pukul 19.00 WIB hingga tengah malam dengan tujuan untuk membuang segala keburukan dan sekaligus menjaga kelestarian alam Karimunjawa sebagai anugerah Allah SWT untuk umat manusia. Selain itu, ada beragam acara lainnya.

 


Fleyer resmi save Karimunjawa Ruwatan Ageng.

 


Dalam acara itu, awak media mencoba wawancara dan mengenal sosok Nano Warsono yang merupakan salah satu putra kelahiran asli Jepara, sebab menurutnya Jepara sangat kaya dengan potensi budaya dan sumber daya alam yang harus dijaga serta dilestarikan bersama.


 

Ketika tahun 2019 ia mendengar suara kegelisahan para aktivis lingkungan, nelayan, petani rumput laut dan warga Karimunjawa karena kehadiran tambak udang ilegal, ia kemudian memilih cawe-cawe (peduli).


 

Apalagi tambak udang ilegal tersebut telah merusak kawasan konservasi yang menjadi magnet utama Karimunjawa. Juga terjadinya pembungkaman dan kriminalisasi para aktivis dengan jeratan UU ITE.


Karena itu, Nano sebagai dosen di ISI Yogyakarta yang menekuni seni rupa grafis, patung, bermusik, atau menggambar ini kemudian terlibat aktif dalam gerakan #SAVEKARIMUNJAWA.


 

Bahkan Nano kemudian menginisiasi Japara Poster Syndicate untuk membangun jaringan dan kekuatan seniman – budayawan untuk melakukan perlawanan terhadap tambak udang dan kriminalisasi aktivis.


Tema yang dipilih adalah “Enviromental Justice” yang merupakan prioritas dari Japara Poster Syndicate.


 

“Sebab Karimunjawa adalah salah satu aset biosfer dunia. Juga taman nasional dan Kawasan Strategis Pawisitasa Nasional. Karena itu yang diterapkan seharusnya konsep pembvangunan berkelanjutan yang memastikan anak cucu kita mendapatkan hak yang sama untuk menikmati anugerah Allah,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

 

Karena itu menurut Nano Warsono yang juga menjabat sebagai Direktur Gallery R.J. Katamsi ISI Yogyakarta, harusnya negara dengan perangkat yang dimilikinya mulai pusat hingga daerah hadir untuk melindungi Karimunjawa dari kerusakan dan eksploitasi yang sewenang-wenang.


 

“Ironisnya orang-orang yang dengan ikhlas berjuang untuk menjaga kelestarian alam malah dikriminalisasi. Sementara perusak lingkungan justru dibiarkan, seakan tak tersentuh hukum,” tuturnya, Senin (19/2/2024).


 

Poster-poster berupa kritik terhadap kerusakan alam itu akan ditampilkan dalam doa bersama dan ruwatan ageng Karimunjawa Lestari di Taman Bukur atau Kerang Jepara.***


Sumber: SB.

 

Pos terkait