Gegara Kencing di Pohon Nangka, Jumadi Kedung Jepara Diteror Pocong

Foto, ilustrasi seseorang sedang kencing di pohon nangka.

Global7.id – Jepara,

Jumadi asal kecamatan Kedung, Jepara tak pernah menyangka, kencing sembarangan bisa mengubah hidupnya jadi mimpi buruk. Malam Jumat itu, selepas pulang dari ronda di pos kamling RT sebelah, ia mampir sebentar ke kebun belakang rumah untuk buang air kecil. Gelap dan sepi. Tapi ia sudah terbiasa. Pohon nangka tua yang menjulang di pojok kebun jadi tempat pelampiasan. Tanpa rasa takut, ia kencing di bawahnya, lalu kembali ke rumah, mandi, dan tidur, hal ini terjadi pada Minggu (11/5/3025).


Malam itu, mimpi Jumadi aneh. Ia merasa ada yang mengintai dari balik semak. Sosok putih tinggi, dengan wajah pucat dan mata merah menyala. Pocong. Jumadi terbangun dengan keringat dingin, tapi menepisnya sebagai mimpi buruk biasa.

Namun, pekan berikutnya, teror datang lebih nyata.

Malam Jumat kedua, tepat pukul dua dini hari, terdengar suara ketukan di jendela. Tok… tok… tok… Pelan, tapi berulang. Ketika Jumadi mengintip dari sela gorden, tubuhnya langsung lemas. Sesosok pocong berdiri di bawah cahaya bulan, matanya menatap tajam ke arahnya. Wajahnya membusuk, dan tubuhnya masih basah, seolah baru keluar dari liang kubur.

Pocong itu hanya berdiri… lalu menghilang begitu saja.

Esok harinya, wajah Jumadi pucat pasi. Ia tak lagi berani keluar rumah selepas Magrib. Tapi teror belum berhenti. Justru makin menjadi.

Malam Jumat ketiga, Jumadi mendengar suara langkah berloncatan di atap rumahnya. Duk… duk… duk! Seolah pocong itu bermain-main, mengejek ketakutannya.

Tak tahan lagi, Jumadi memutuskan pergi ke rumah Mbah Rowi, seorang dukun tua yang dikenal sakti di Desa Kedung.

“Apa kowe kencing di panggonan wingit, Le?” tanya Mbah Rowi sambil memandang tajam.

Jumadi mengangguk, gemetar. “Nggih, Mbah… bawah pohon nangka di kebun…”

Mbah Rowi menghela napas panjang. “Kowe wis nggugah sing nggak kudhu. Kowe ngisingi panggonan lelembut. Makhluk itu marah.”

“Aku kudu piye, Mbah?” tanya Jumadi, hampir menangis.

“Kowe kudu siram bekas kencingmu kuwi nganggo banyu kembang telon, saben Magrib, telung dina berturut-turut. Niatno njaluk ngapura. Yen ora, pocong kuwi ora bakal mandek.”

Jumadi mengangguk. Ia tak peduli harus melakukan apa saja. Asal teror itu berhenti.

Bacaan Lainnya

Sesuai pesan Mbah Rowi, sore itu tepat setelah adzan Magrib berkumandang, Jumadi membawa segayung air bunga telon—melati, mawar, dan kenanga—menuju kebun belakang. Tubuhnya gemetar, langkahnya berat. Angin sore itu terasa dingin menusuk tulang. Pohon nangka tua di pojok kebun berdiri diam, tapi auranya menyeramkan.

Dengan komat-kamit membaca doa, Jumadi menyiramkan air bunga ke tanah tempat ia dulu kencing. Setelah itu, buru-buru ia kembali ke rumah, mengunci semua pintu dan jendela.

Tapi malam itu, teror justru semakin menjadi.

Tepat pukul dua dini hari, suara menggaruk jendela terdengar. Krek… krek… krek… Diikuti suara seperti nafas berat dari luar kamar. Dengan penuh ketakutan, Jumadi membaca Ayat Kursi dan surah Al-Ikhlas berulang-ulang. Tapi semakin ia membaca, suara itu makin dekat. Bahkan terdengar suara hiiiiiikkkk… hikkkk…—seperti suara tercekik dari luar pintu kamar.

Tubuh Jumadi menggigil, peluh dingin mengucur deras. Ia tak tidur semalaman.

Hari kedua, ia tetap melanjutkan ritual. Tapi wajahnya sudah tampak pucat dan matanya cekung. Tetangga mulai bertanya-tanya, bahkan anak istrinya ikut cemas melihat kondisinya.

Malam kedua setelah penyiraman, Jumadi melihat pocong itu lagi. Tapi kali ini, makhluk itu tidak hanya berdiri diam. Ia mendekat. Melompat-lompat ke arah rumah dengan gerakan aneh dan pelan. Dari balik tirai, Jumadi melihat wajahnya: kulit mengelupas, lidah menjulur panjang, dan matanya… seakan menangis darah.

Jumadi menjerit ketakutan. Ia jatuh pingsan di ruang tengah. Esok paginya, ia demam tinggi. Badannya panas, tapi tangannya dingin membeku.

“Dia sakit bukan karena penyakit biasa,” ujar istrinya kepada tetangga.

Hari ketiga, Jumadi dipapah saat menyiram pohon. Tubuhnya lemas, wajahnya seperti orang linglung. Ia berbisik terus-menerus, seperti berbicara dengan sesuatu yang tak kasat mata.

“Aku nyuwun ngapura… aku ora ngerti… aja ganggu aku maneh…”

Tapi malam Jumat ketiga itu, Jumadi tak hanya diganggu secara fisik.

Ia bermimpi berada di bawah tanah, terkubur hidup-hidup. Di sekelilingnya banyak tangan pucat mencakar dari balik tanah. Di ujung liang, berdiri sosok pocong yang menatapnya tajam lalu berbisik,
“Aku seng nang endi, koe seng ndatengi aku…”

Pagi harinya, tubuh Jumadi menggigil hebat. Istrinya, Mbak Sari, menangis memandangi suaminya yang kini lebih sering melamun dan berbicara sendiri. Di antara igauan panasnya, Jumadi menyebut satu kalimat berulang-ulang:

“Kuburan… di bawah nangka… kuburan…”

Mendengar itu, Mbak Sari memutuskan kembali mengunjungi Mbah Rowi.

“Aku rasa, Mbah… suamiku ndelok sesuatu… mungkin pocong itu beneran ana seng disimpen di kono,” katanya lirih.

Mbah Rowi menunduk lama, seakan menimbang sesuatu yang berat. Lalu ia berkata pelan,
“Yen pancen kaya ngono, berarti ora cukup mung siraman… Kowe kudu nyelametno sing ana ing kono.”

Sore harinya, Mbah Rowi datang ke rumah Jumadi, membawa kelapa gading, kemenyan, dan segenggam bunga tujuh rupa. Ia minta agar tak ada warga lain yang ikut, cukup dirinya, Jumadi, dan dua lelaki tetangga sebagai saksi.

Maghrib, setelah azan berkumandang, mereka mulai menggali tanah tepat di bawah pohon nangka tempat Jumadi dulu kencing. Tak ada yang bicara. Hanya suara cangkul menghantam tanah dan suara malam yang mencekam.

Beberapa menit kemudian…
CANG!
Cangkul salah satu lelaki itu mengenai sesuatu yang keras. Mereka mengeduk lebih hati-hati. Lalu, dari balik tanah, muncul sebuah kain kafan lusuh yang telah sobek di beberapa bagian.

Semua langsung terdiam. Wangi busuk bercampur anyir menusuk hidung.

Jumadi gemetar, tubuhnya nyaris tumbang. Dari kain kafan itu, tampak sepotong tulang kecil… seperti tulang tangan manusia. Mbah Rowi langsung membacakan doa-doa, menaburkan bunga, dan menyuruh semua yang hadir untuk tetap tenang.

“Sak durunge pohon iki ditanem, ana sing dikubur tanpa jenazah lengkap. Arwahnya ora tenang, lan kowe ngisin panggonane,” kata Mbah Rowi sambil menatap dalam ke mata Jumadi.

Mereka tak menyentuh tulang itu. Mbah Rowi hanya mengadakan ritual khusus di tempat tersebut, mengembalikan tanah seperti semula, dan menancapkan batang janur kuning sebagai penanda.

“Mulai sak iki, panggonan iki ora kena diganggu. Kowe kudu puasa telung dina, lan bengi Jum’at terakhir wulan iki, kowe kudu ngaji di kene, karo aku.”

Jumadi mengangguk pelan. Meski tubuhnya masih lemas dan ketakutan tak hilang sepenuhnya… malam itu ia tidur tanpa teror.

Namun… menjelang subuh, ia bermimpi…
Pocong itu tersenyum. Tapi di belakangnya, ada sosok lain… lebih besar… lebih gelap…
Seakan teror ini belum benar-benar selesai.

Tiga hari berturut-turut, Jumadi berpuasa seperti pesan Mbah Rowi. Ia tak makan atau minum sejak fajar hingga magrib, meskipun tubuhnya masih lemah dan sering bermimpi buruk. Tapi di tengah rasa takut itu, ia mulai merasa ada yang berubah. Malam-malamnya menjadi lebih sunyi, tak ada lagi suara loncatan pocong, tak ada napas berat dari balik pintu.

Namun, Mbah Rowi memperingatkan,
“Jum’at legi iki, kowe kudu rawuh nang pohon nangka jam 12 bengi. Iki bengi penentuan.”

Malam Jumat pun tiba.

Tepat tengah malam, di bawah cahaya rembulan yang pucat, Jumadi berdiri gemetar di depan pohon nangka. Di sampingnya, Mbah Rowi duduk bersila, membakar kemenyan dan membacakan doa-doa. Angin malam berhembus kencang, dan aroma bunga campur asap kemenyan memenuhi udara.

Mbah Rowi menyuruh Jumadi bersujud di depan pohon, lalu berkata tegas,
“Ucapno maafmu. Tulus. Niatno ora arep ngulang maneh.”

Dengan suara bergetar, Jumadi menunduk dalam, menaruh dahinya di tanah, dan berkata lirih namun jelas:
“Aku nyuwun ngapura… aku ora ngerti yen panggonan iki keramat. Aku ora bakal ngulang maneh, insyaAllah…”

Sejenak… suasana hening. Angin berhenti. Daun-daun nangka tak bergerak sama sekali.

Lalu, Jumadi merasakan seolah ada yang lewat di belakangnya. Hembusan angin dingin menyapu lehernya, dan suara berat berbisik tepat di telinganya:
“Wis cukup…”

Setelah itu, malam kembali hening. Tidak ada lagi suara. Tidak ada lagi pocong.

Sejak malam itu, teror yang membayangi hidup Jumadi benar-benar lenyap. Demamnya sembuh, pikirannya pulih. Ia kembali bekerja seperti biasa, namun tak pernah lagi ia melewati kebun itu tanpa membaca doa. Pohon nangka itu tetap berdiri, kini ditandai dengan janur dan batu kecil sebagai pengingat.

Mbah Rowi berkata saat pamit terakhir:
“Lelembut kuwi ora bakal ganggu menungsa, nek menungsa iso ngajeni panggonane. Ojo semena-mena, ojo sembrono. Alam iki nduweni penunggu, lan penunggu butuh dihormati.”

Jumadi mengangguk. Ia telah belajar—dengan cara yang mengerikan—bahwa di dunia ini, ada yang tak kasat mata, tapi nyata adanya.

Pos terkait