Doa Selalu di Ijabah, Inilah Kegiatan Fadila Alvia Jepara Saat Naik Haji Bersama Ibunya

Foto, jamaah haji asal Jepara, Firmaningsih dan Fadila Alvia Magfiroh saat di dekat Ka'bah.

Global7.id – Jepara,

Jemaah haji (reguler) Indonesia berada atau tinggal di Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji itu sekira 40 hari. Rinciannya mereka tinggal di Madinah selama 8 hari dan di Mekkah selama 32 hari.


 

Padahal puncak pelaksanaan ibadah haji itu sendiri hanya 5-6 saja, yakni pada tanggal 8-12 Dzulhijjah atau tanggal 8-13 Dzulhijjah. Nah, selama 35 atau 34 hari di luar tanggal 8-12 Dzulhijjah atau tanggal 8-13 Dzulhijjah itu. Lalu apa saja yang dilakukan jemaah haji?

 


Diantara kuota haji tahun ini terselip pula sejumlah calon jemaah haji muda yang menggantikan posisi orang tuanya yang meninggal dunia. Salah satunya, Hj. Fadila Alvia Magfiroh (sekarang) kelahiran 1 Agustus 2003 yang menjadi calon jemaah haji dari kabupaten Jepara, Jawa tengah yang tergabung di Kloter 73 Embarkasi Solo, Jawa tengah. Ia menuaikan ibadah haji bersama ibunya Hj. Firmaningsih (sekarang) asal Jambu, kecamatan Mlonggo, kabupaten Jepara.


 

Dalam kegiatan naik haji, Fadila Alvia sedikit menceritakan pengalaman dan kegiatan naik haji, “Ya, disana harus benar-benar punya fisik yang kuat dan penuh keikhlasan serta kesabaran untuk beribadah. Klo dari hotel ke arafah jalan kaki bersama ribuan jemaah haji dari berbagai negara di dunia itu untuk pulang pergi sekitar 19 km itu. Trus dari hotel untuk ke Muzdalifah itu pulang pergi sekitar 8 km. Trus klo ke Mina pulang pergi 14 km. Trus Ziarah ke Jabal Rahmah pulang pergi 18 km dan Ziarah ke Jabal Nur pulang pergi 3 km, ” ujarnya saat ditemui awak media di kediamannya di Banjaran, Bangsri, Jepara, Minggu (14/7/2024).


 

Ia menambahkan, “Oya, maaf, sedikit cerita lagi. Harga bakso disana 37 riyal klo 1 riyal nya 4.500 ya harganya ya Rp 166,500. Ya wajar sih, ” imbuhnya.


 

Selain itu, Fadila sangat bersyukur karena bisa naik haji bersama ibunya dan satu hal yang paling istimewa yaitu doa kita selalu di ijabah atau di kabulkan.


 

Ia melanjutkan, “Doanya seketika langsung di ijabah. Trus disana sehabis umroh dan habis sholat jumat trus di tempat Sa’i. Trus aku nge batin kok ga ada yang ngasih makanan ya, langsung di hotel di kirimin saudaranya Mamah makanan seabrek, ” ucapnya.


 

Bacaan Lainnya

Lanjutnya, “Enak doanya kebanyakan langsung terkabul disana. Iyaa cuma tinggal kitanya menyadari apa tidak gitu. Eh pengen ketemu Witan Sulaeman dari Timnas, dari rumah udah nge batin semoga ketemu Witan, eh malah ketemu temenan (beneran) gak sengaja di sana, ” tuturnya.


Tak hanya itu, menurutnya, “Banyak pokoknya doa yang selalu di ijabah di sana. Kayak pengen makan apa, trus kayak ada aja yang ngasih. Pokoknya kalo kita mikir positif insyaAllah kejadian. Aku aja terkadang pengen ketemu anak kecil, eh di sana bisa ketemu langsung di samperin. Trus pengen gelang India tiba-tiba ada yang ngasih ya orang India asli, ” lanjutnya.


 

“Untuk pengalaman paling mengesankan ya bisa cium Hajar Aswad, cium Ka’bah, cium makam Nabi Ibrahim itu, Padahal disana kan saingannya untuk ke Hajar Aswad orang besar besar hitam-hitam dan Alhamdulillah bisa ke Raudhah 3x padahal dapet jatah 1x saja, ” pungkasnya.


 

Sebagai informasi, untuk aktivitas jemaah haji selama 8 hari di Madinah pada umumnya mereka melaksanakan Arbain, yakni melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi selama 8 hari berturut-turut hingga jumlahnya mencapai 40 kali salat (arbain sendiri artinya 40).


 

Di sela-sela melaksanakan arbain, jemaah haji mungkin melakukan aktivitas yang berbeda. Ada yang berziarah ke Masjid Quba, ada yang berziarah ke Masjid Qiblatain, ada yang berziarah ke Jabal Uhud, ada yang berziarah ke Maqbarah (pekuburan) Baqi, ada yang berziarah ke Raudhah, dan lain-lain.


 

Puncak pelaksanaan ibadah haji tanggal 8-12 Dzulhijjah atau tanggal 8-13 Dzulhijjah itu di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ketiganya masih berada di wilayah kota Mekkah. Jadi kita ambil 32 hari dikurangi 6 hari = 26 hari.


 

Akan tetapi tidak seperti di Masjid Nabawi ada “tuntutan” harus melaksanakan Arbain, di Masjidil Haram tidak. Hal itu membuat tidak jemaah haji berbondong-bondong salat lima waktu di Masjidil Haram.


 

Jemaah haji yang tidak pergi shalat lima waktu ke Masjidil Haram, sebagian shalat lima waktu di masjid sekitar hotel. Tapi banyak juga jemaah haji yang melaksanakan shalat lima waktu di musholla hotel.


 

Di luar itu jemaah haji melakukan aktivitas yang beragam. Banyak jemaah haji yang melakukan umrah sunnat. Mereka biasanya mengambil miqat dari salah satu tempat miqat: Tan’im, Ji’ranah, atau Hudaibiyah.


 

Selain melakukan umrah sunnat, banyak jemaah haji yang melakukan aktivitas ziarah ke tempat-tempat bersejarah di kota Mekkah. Seperti ziarah ke Jabal Rahmah, Jabal, Nur, atau Jabal Tsur.


 

Sama seperti halnya di Madinah, jemaah haji yang tidak melakukan aktivitas-aktivitas seperti di atas, mereka biasanya beristirahat di hotel, rebahan, duduk-duduk sambil berbincang di lobby hotel atau di selasar hotel, dan lain-lain, termasuk mencuci pakaian.


 

Itulah aktivitas keseharian jemaah haji selama berada di Tanah Suci di luar puncak pelaksanaan haji selama 5-6 hari, yakni di luar tanggal 8-12 Dzulhijjah atau tanggal 8-13 Dzulhijjah.***

Sumber: FDL/KPS.

Pos terkait