Cerita Wondo Kedungmalang Jepara Tekuni Usaha Pembuatan Teri Tempong Selama 20 Tahun 

Foto, pak Wondo asal Desa Kedungmalang, kecamatan Kedung, Jepara. Sumber Foto: Seputar Kabar Muria.

Global7.id – Jepara,

Bila musim angin barat berlalu biasanya masyarakat nelayan di Jepara panen ikan teri. Hasil tangkapan yang cukup melimpah lantas mereka olah menjadi blenyik agar tahan lama dan sebagai simpanan persediaan lauk di musim hujan atau dijual sebagai sumber penghasilan tambahan.

Tempong atau Blenyik adalah kumpulan ikan teri kecil yang dibentuk menjadi kepalan seperti bakwan. Karena dicampur dengan garam, rasanya cenderung asin. Namun bisa pula dibuat dengan mencampurkan telur. Makanan ini biasanya dikonsumsi saat turun hujan sebagai teman makan nasi. Kepalan ikan ini bisa diolah dengan cara digoreng atau dikukus.

Tempong sangat gurih untuk lauk pauk dengan digoreng. Tapi biasanya warga Jepara mengukusnya dengan dibumbui irisan bawang merah dan putih, sedikit garam, yang paling khas adalah irisan cabai hijau. Tinggal menyiram sedikit minyak sayur, bisa menjadi sedemikian gurih untuk lauk nasi liwet hangat.

Desa Kedungmalang, kecamatan Kedung, Jepara menjadi sentral usaha pembuatan ikan kering atau tempong. Di Kedungmalang ada beberapa warga yang mempunyai usaha pembuatan ikan teri tempong salah satunya Wondo yang bertempat tinggal dipinggir jalan raya Kedungmalang – Pecangaan. Ia lebih 20 tahun menekuni usaha ini dengan penuh suka duka.

Ia baru produksi beberapa hari ini karena sebelumnya hujan mengguyur, “Kalau dihitung ya hampir 4 bulan ini saya tidak produksi membuat ikan teri tempong. Cuaca hujan terus namun penjualan terus jalan karena masih ada stok banyak di rumah dari penjemuran di musim kemarau yang lalu, ” ujar Wondo, Kamis (13/3).

Beberapa hari ini ketika ada panas, ia mencoba kulakan teri untuk dibuat tempong. Namun, karena kehujanan terus akhir gagal produk dan harus dibuang.

“Ya beberapa hari yang lalu pernah membuang produk yang setengah jadi, karena tidak bisa diselamatkan ya terpaksa saya buang. Kalau dihitung ya sekitar Rp 1, 2 juta terbuang sia-sia, “ kata Wondo menceritakan.

Pembuatan tempong dan ikan asin yang ditekuninya ini bisa membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga terdekat. Jika bahan baku banyak tenaga yang cetak tepong ini bisa mencapai 10 orang. Namun, jika pembuatan normal 4 sampai 5 orang dengan sistem borong per papan dan 1 papan dinilai dalam pekerjaan yakni Rp 5.000.

Perlu diketahui, jika mau membuat masakan dengan berbahan dasar Tempong Anda bisa pilih masakan dibawah ini.

1. Tempong Kicik
Caranya Tempong di kukus di dalam mangkuk yang didalamnya terdapat minyak goreng, irisan bawang putih, irisan bawang merah, irisan cabai rawit, irisan cabai keriting.

2. Tempong Goreng
Caranya seperti menggoreng biasa, yaitu panaskan minyak goreng kemudian masukan tempong, setelah warna tempong coklat keemasan siap di sajikan.***

Sumber: Kabar Seputar Muria/Wiki.

Pos terkait