Global7.id – Semarang,
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Semarang sejak Ahad malam hingga Senin dini hari, 16 Februari 2026, menyebabkan banjir merendam sejumlah kawasan permukiman. Air yang terus naik membuat ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan, sementara aktivitas lalu lintas di jalur utama ikut lumpuh akibat genangan yang meluas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebutkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi berlangsung cukup lama sehingga sistem drainase tidak mampu menampung debit air. Akibatnya, aliran air meluap dan menggenangi area perumahan yang berada di titik rendah maupun dekat aliran sungai.
Permukiman Terendam, Warga Berlarian Selamatkan Diri
Sejumlah kawasan yang terdampak banjir di antaranya Perumahan Argo Residence dan RW 1 di Kelurahan Rowosari serta beberapa kompleks perumahan di wilayah Meteseh, termasuk Grand Batik Semarang, Grand Permata Tembalang, dan Dinar Indah. Air dilaporkan masuk ke rumah-rumah warga saat sebagian besar penghuni tengah beristirahat.
Situasi mendadak ini membuat warga panik. Banyak keluarga memilih segera mengungsi ke tempat yang lebih aman sambil membawa barang-barang penting seadanya. Anak-anak dan lansia menjadi prioritas evakuasi karena ketinggian air terus meningkat dalam waktu singkat.
Sekitar 550 warga dilaporkan harus mengungsi sementara. Posko darurat pun disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, serta perlengkapan tidur dapat terpenuhi.
Hujan Lebat dan Drainase Jadi Pemicu Utama
Kepala BPBD Kota Semarang menyampaikan bahwa penyebab utama banjir kali ini adalah curah hujan tinggi yang berlangsung dalam durasi panjang. Kondisi drainase yang tidak mampu mengalirkan air secara cepat memperparah situasi, terutama di kawasan permukiman padat yang minim ruang resapan.
Fenomena ini kembali menegaskan persoalan klasik perkotaan: pertumbuhan pembangunan yang cepat tidak selalu diimbangi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur pengendalian air. Ketika hujan deras datang bersamaan dengan tingginya debit sungai, banjir menjadi ancaman yang sulit dihindari.
Jalur Pantura Lumpuh, Kendaraan Mogok di Tengah Genangan
Tak hanya kawasan hunian, banjir juga menggenangi jalur nasional Pantai Utara yang menghubungkan Semarang dan Demak. Air meluap dari Sungai Babon setelah tidak lagi mampu menampung volume air hujan yang besar.
Kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas tersendat dari kedua arah. Kemacetan panjang terjadi karena banjir datang bersamaan dengan jam berangkat kerja di kawasan industri sekitar pantura. Banyak pengendara sepeda motor terpaksa berhenti setelah mesin kendaraan mereka mogok akibat terendam air.
Para pengguna jalan terlihat mendorong kendaraan ke area yang lebih tinggi, sementara sebagian lainnya memilih menunggu hingga air surut. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan aktivitas ekonomi dan distribusi barang di jalur utama tersebut.
Warga Waswas, Ancaman Banjir Berulang Bayangi Musim Hujan
Peristiwa ini menambah daftar panjang kejadian banjir yang rutin melanda wilayah Semarang setiap musim hujan. Warga di kawasan terdampak mengaku sudah beberapa kali mengalami kejadian serupa, namun tetap merasa cemas karena intensitas hujan yang semakin sulit diprediksi.
Sejumlah warga berharap adanya peningkatan kapasitas drainase dan normalisasi aliran sungai untuk mengurangi risiko banjir ke depan. Mereka juga meminta adanya sistem peringatan dini yang lebih cepat agar masyarakat bisa melakukan antisipasi sebelum air masuk ke rumah.
Pemerintah Siaga dan Imbau Warga Tetap Waspada
Petugas BPBD bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan di lokasi terdampak. Evakuasi serta pendataan kerusakan dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan cepat. Warga yang tinggal di area rawan diminta tetap siaga mengingat curah hujan masih berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak memaksakan melintas di jalan yang tergenang karena arus air dapat membahayakan keselamatan. Pengendara juga diminta mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan parah.
Banjir Jadi Alarm Serius untuk Kota Pesisir
Banjir yang melanda Semarang bukan sekadar peristiwa musiman, tetapi menjadi sinyal penting bahwa kota pesisir menghadapi tantangan besar terkait tata kelola air dan perubahan iklim. Urbanisasi yang masif, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta curah hujan ekstrem menjadi kombinasi yang meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi jangka panjang, kejadian serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan berdampak lebih luas terhadap ekonomi maupun keselamatan warga.
Di tengah situasi ini, solidaritas antarwarga terlihat kuat. Banyak relawan membantu proses evakuasi dan pendistribusian bantuan, menunjukkan bahwa semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama saat bencana datang.
Bagi warga Semarang, banjir dini hari ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan harus tetap dijaga sepanjang musim hujan karena dalam hitungan jam, hujan deras dapat mengubah malam yang tenang menjadi perjuangan menyelamatkan diri dari kepungan air.
G7/TMP










