Ayo Uleman Ojo Lali Potangan, Kenali Bahasa Kondangan ala Jepara

Foto, kolase (Uleman rokok 1 slop di wilayah kabupaten Jepara).

Global7.id – Jepara,

Mengenal tradisi dan budaya di wilayah pulau Jawa yang beragam memang menarik untuk disimak. Salah satu kabupaten di Jawa Tengah yaitu Jepara yang terletak di pinggir pantai utara dari gunung Muria.


 

Pada acara sunatan, pernikahan tak lepas dari undangan atau kondangan, namun untuk bahasa Jawa di Jepara yaitu Uleman diambil dari kata ulem-ulem yang disederhanakan menjadi Uleman yakni menghadiri acara pernikahan dengan membawa amplop ataupun kado untuk diberikan kepada yang punya acara atau hajatan dan untuk yang perempuan membawa baskom yang berisikan beras atau gula yang ditutupi serbet makan.


 

Di wilayah karisidenan Pati yaitu Jepara, Pati dan Kudus bahkan wilayah Semarang dari Demak, Purwodadi, Grobogan masih menggunakan bahasa Uleman. Biasanya masa-masa Uleman yang ramai itu di bulan setelah bulan Suro atau jelang Hari Raya Idul Adha.


 

Misalkan, Edi melaksanakan acara pernikahan dengan mengundang banyak teman-temannya, maka temannya itu harus membawa amplop ataupun kado. Begitupun sebaliknya, jika temannya Edi menikah maka Edi harus bergantian datang ke acara pernikahan dengan membawa amplop ataupun kado.


 

Untuk di wilayah Jepara mulai dari Desa Kuwasen sampai ke kecamatan Kelet dan kembang masih menggunakan budaya kondangan atau Uleman dengan membawa (kado) satu slop rokok yang isinya 10 bungkus itu.


 

Dulu, sekitar tahun 1980an sampai tahun 2005an biasa, Uleman dengan membawa rokok 1 slop merk Djarum super. Kemudian, setelah tahun 2005 berganti dengan membawa rokok 1 slop bermerek Sukun, karena harga lebih murah ketimbang rokok Djarum super.


 

“Ya mas, besok aku Uleman ke tiga tempat. Tau sendiri kan klo Uleman itu harus membawa rokok 1 slop. Kalau 3 tempat Uleman ya lumayan duitnya, ” ucap salah seorang warga Jepara.


 

Bacaan Lainnya

“Ya tapi temen-temen yang aku Ulemi itu ya Potangan ke aku. Suatu saat klo aku menikah ya dia wajib datang dan membawa rokok 1 slop dan sesuai merk rokok yang aku bawa dulu, misalkan harganya berubah atau naik ya resikonya, ” jelasnya.


 

Adapun seseorang yang rajin Uleman hingga bertahun-tahun dan tiba saatnya ia melaksanakan pernikahan, ia bisa mendapatkan hasil Uleman dari teman-temannya dan tetangga mencapai 2 lemari penuh isinya rokok 1 slop. Lalu besoknya ada pedagang toko kelontong yang datang untuk membeli tumpukan rokok yang penuhi 2 lemarinya itu. Pedagang toko kelontong membeli dengan harga lebih miring sedikit dari harga normal. Setelah itu, besoknya dia beli motor baru bahkan bisa beli mobil meski tidak baru yang bisa buat jalan-jalan dengan istrinya.


 

Tapi, ada bahasa Jawa lain untuk sebutan hutang kondangan atau Uleman, yakni Potangan.


Ia menambahkan, “Temenku yang rajin Uleman, trus pas temenku nikah bisa dapat 600 slop rokok loh, klo 1 slop rokok harganya 250 ribu dikalikan 600 tamu ya lumayan gede duitnya, 150 juta loh. Ibaratnya dia nabung bertahun-tahun. Misalnya dulu harga rokok 1 slop 200 ribu trus sekarang naik jadi 250 ribu ya resiko. Ya gimana lagi. Semua itu bukan untuk bisnis ataupun cari keuntungan saja tapi kan memang waktunya dia menikmati hasil dia Uleman atau ibaratnya nabung bertahun-tahun. Klo ada yang Potangan tidak datang ya dia akan diomongkan negatif oleh temen-temennya dan akan terbalaskan secara alami dengan tidak ada yang datang di acara pernikahannya. Gitu, ” pungkasnya.***

 

Sumber: G7.

Pos terkait