Global7.id – Jepara,
Antri Tabung Gas Elpiji 3 Kg di Pecangaan Jepara Tak Kenal Hujan, Telat 2 Hari Pasti Ngantri Lagi
Puluhan warga yang berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, rela mengantre dan hujan-hujanan untuk mendapatkan gas (LPG) tabung 3 kilogram pada Senin, (17/2/2025).
Para warga tampak menumpuk tabung gas mereka yang telah kosong. Ditata menumpuk dan berbaris. Meskipun hujan tak mampu melunturkan niat mereka untuk mendapatkan satu tabung gas melon tersebut hal Itu dilakukan agar dapur mereka tetap bisa mengepul dan digunakan memasak.
Warga Pecangaan Kulon, Suhar, (74) mengaku antre setelah Dzuhur atau sebelum pukul 12.30. Sementara itu baru mendapatkan gas pada pukul 13.30.
“Ini lama karena menunggu kirim truk dari agen. Biasanya jam 10.00. Kadang pukul 13.00. Hari ini antre satu jam, pernah juga antre dua jam lebih,” ujarnya Senin (17/2).
Dulu, saat sistem pengecer tidak begitu dipermasalahkan, Suhar biasa mendapatkan kiriman ke rumah. Dengan syarat awal menumpuk (menyerahkan) KK dan KTP.
“Sekarang kalau gak antre begini ndak bisa dapat. Dijatah per kepala dapat satu, ini saya gunakan untuk masak sendiri, tidak dijual,” ujarnya.
Satu tabung gas melon untuknya, dapat gunakan minimal tiga hari. “Di sini setiap hari banyak orang, ya untuk beli gas harga Rp 23 ribu,” katanya.
Sementara itu, pada saat yang sama, warga Troso Farid, juga mengaku telah satu jaman mengantre tabung LPG 3 kg tersebut.
“Saya sendiri juga kurang tahu, mengapa sulit mendapatkan gas. Antre lama begini dapatnya juga cuma satu,” resahnya.
Farid menilai, pemerintah atau pihak terkait kurang tegas dalam sistem pengawasan pangkalan-pangkalan yang ada. Pasalnya dia telah beberapa kali menyaksikan warung-warung makan besar malah menggunakan tabung melon, bulan tabung pink.
“Masih banyak di daerah sini, selain Jepara, di Krasak ataupun daerah Rengging. Mereka biasa beli lewat belakang, misal dibeli bisa Rp 35 ribu per tabung, jauh dari jika yang beli masyarakat hanya Rp 23 ribu. Hal-hal seperti ini yang justru perlu ditertibkan,” timpalnya.
Pihaknya berharap ke depan untuk beli LPG 3 kg dapat lancar, gak lagi mesti antre. “Gak repot-repot antre berjam-jam, toh ini untuk masak sendiri,” singkatnya.
Dua pekan yang lalu, Farid juga mencoba memasak dengan kompor berbahan bakar lion (minyak tanah).
“Saya beli harganya Rp 180 ribuan, tapi kurang maksimal termasuk polusi. Yang paling efisien ya memang LPG, panasnya stabil, tidak ada asap apalagi rumah sekarang tertutup, ventilasi minim,” jelasnya.
Warga lain, Kholisoh menyambung, sempat mencoba beralih menggunakan kayu, namun malah perhitungannya jadi mahal. “Kayu itu seikat Rp 11 ribu, sementara gas Rp 23 ribu. Keadaan kok jadi seperti ini, semoga ke depan segera membaik,” harapnya.
Terpisah, Kepala Disperindag Kabupaten Jepara Zamroni Lestiaza menyampaikan bahwa di antara faktor susahnya gas ialah perihal skema pendistribusian barang.
Di Jepara sendiri ada 22 agen dan 1619 pangkalan. Masing-masing agen mendapatkan jatah yang berbeda-beda sesuai dengan pendistribusian agen.
“Terlambat satu atau dua hari jadi antrean panjang. Perjalanan pengiriman tabung dari darat juga riskan kena macet-banjir, apalagi lewat laut,” ujarnya.
Pihaknya berharap, pihak-pihak terkait bisa memperbaiki sistem distribusinya. Sebab gas LPG 3 Kg menjadi salah satu kebutuhan primer warga.
Area Manager Communication, Relations & Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan menyampaikan agar masyarakat membeli sesuai kebutuhan. Supaya menghindari terjadinya panic buying di tengah masyarakat.
Menurutnya, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah terus lakukan inspeksi mendadak (sidak) LPG 3 kg bersubsidi di Jawa Tengah dan DIY.
“Kami terus melakukan sidak bersama Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dan juga DPRD untuk terus melakukan pemantauan langsung akan distribusi LPG 3 kg di lapangan,” tanggapnya.
Dari hal tersebut, ditemukan rata-rata konsumen yang membeli tabung LPG 3 kg rata-rata di rumah atau usahanya sudah memiliki 2-3 tabung isi. “Mereka beli karena terpengaruh pemberitaan yang beredar di media, takut tidak dapat,” ujarnya.
Pertamina memastikan stok LPG 3 Kg Jawa Tengah dan DI Yogyakarta aman. Pasokan LPG 3 kg untuk di beberapa wilayah diantaranya Kabupaten Jepara 38.246 tabung per hari, Kabupaten Kudus 33.502, Kabupaten Pati 42.751, Kabupaten Grobogan 39.375, Kabupaten Blora 26.083, Kabupaten Rembang 20.422, serta Kabupaten Demak 39.265 perhari.
“Mulai minggu lalu operasional supply point kami sudah tingkatkan menjadi 24 jam, ini juga untuk menepis beredar info bahwa tidak ada penyaluran dari Pertamina. Hari libur pun kami tetap beroperasi,” jelasnya.***
Sumber: RK.










