Global7.id – Nasional,
MBG kembali jadi sorotan setelah seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Purbalingga dipecat usai unggahan kontroversialnya viral di media sosial.
Peristiwa yang memicu kemarahan publik kembali terjadi, kali ini datang dari dunia pelayanan publik di Purbalingga. Seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bernama Dyah Fatmi Asih harus menerima konsekuensi berat setelah unggahan kontroversialnya di media sosial menjadi viral dan menuai kecaman luas.
Kasus ini bermula dari sebuah status WhatsApp yang diunggah Dyah pada Minggu malam, 15 Maret 2026, sekitar pukul 19.30 WIB. Dalam unggahan tersebut, ia menulis kalimat yang dinilai merendahkan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni: “Peregangan sik, sebelum menghadapi komentar rakyat jelata yang kurang bersyukur, ehhh.”
Kalimat tersebut dengan cepat menyebar dalam bentuk tangkapan layar ke berbagai platform media sosial. Reaksi publik pun tak terbendung. Banyak warganet menilai ucapan tersebut tidak pantas dilontarkan oleh seorang pegawai yang bekerja dalam program pelayanan sosial, terlebih program yang menyasar masyarakat luas.
Tak hanya berhenti di situ, situasi semakin memanas setelah muncul berbagai konten turunan, termasuk video editan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memperluas jangkauan isu ini. Dalam waktu singkat, nama Dyah dan institusi tempatnya bekerja menjadi sorotan nasional.
Koordinator SPPG Kabupaten Purbalingga, Mei Sandra, mengonfirmasi kronologi kejadian tersebut. Ia menyebut bahwa unggahan itu langsung menjadi bahan perbincangan sejak malam hari hingga keesokan harinya.
“Postingan diunggah melalui status WhatsApp pada Minggu sekitar pukul 19.30 WIB, kemudian mulai ramai diperbincangkan sejak malam itu sampai hari ini,” jelasnya.
Melihat eskalasi yang begitu cepat dan dampak yang meluas, pihak SPPG bersama Yayasan Samingah Mendidik Indonesia selaku mitra tidak tinggal diam. Mereka segera mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Dyah Fatmi Asih dari jabatannya.
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab institusi sekaligus upaya menjaga kepercayaan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis. Selain itu, pihak terkait juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap internal organisasi guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Yang bersangkutan sudah membuat video klarifikasi permohonan maaf. Kemudian Kepala SPPG bersama mitra yayasan melakukan evaluasi untuk seluruh pihak yang ada di dalam SPPG,” tambah Mei.
Langkah evaluasi ini mencakup penegasan kembali etika komunikasi, khususnya dalam penggunaan media sosial oleh pegawai. Mengingat peran mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sikap dan ucapan menjadi bagian penting dari pelayanan itu sendiri.
Sementara itu, dalam video klarifikasinya, Dyah Fatmi Asih menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh penerima manfaat program MBG dan masyarakat luas. Ia mengakui bahwa pernyataannya tidak pantas dan telah menyinggung banyak pihak.
“Saya atas nama pribadi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penerima manfaat MBG dan masyarakat luas atas pernyataan saya,” ujarnya.
Baca Juga: Terbongkar! Dapur MBG Ponorogo Ditutup Usai Dugaan Intimidasi dan Sunat Anggaran
Ia juga menegaskan bahwa ucapannya merupakan kesalahan pribadi yang tidak mencerminkan sikap profesional sebagai bagian dari pelayanan publik. Dyah menyatakan siap menerima sanksi atas perbuatannya dan berkomitmen untuk memperbaiki diri ke depan.
“Saya menyadari bahwa ucapan tersebut tidak pantas, menyinggung perasaan, dan merupakan kesalahan pribadi saya,” tambahnya.
Kasus ini menjadi pelajaran penting, terutama bagi para aparatur dan pegawai yang bekerja di sektor pelayanan masyarakat. Di era digital saat ini, batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin tipis. Apa yang diunggah di media sosial, bahkan dalam lingkup terbatas seperti status WhatsApp, tetap memiliki potensi untuk menyebar luas dan berdampak besar.
Lebih dari itu, peristiwa ini juga menegaskan pentingnya empati dalam menjalankan tugas pelayanan publik. Program seperti Makan Bergizi Gratis hadir untuk membantu masyarakat, sehingga setiap pihak yang terlibat di dalamnya dituntut untuk menjaga sikap, bahasa, dan perilaku.
Kepercayaan publik adalah hal yang sangat berharga dan tidak mudah dibangun kembali jika sudah tercoreng. Oleh karena itu, profesionalisme dan etika harus menjadi landasan utama dalam setiap tindakan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Pada akhirnya, satu unggahan singkat telah membawa dampak panjang tidak hanya bagi individu yang bersangkutan, tetapi juga menjadi pengingat bagi banyak pihak bahwa bijak bermedia sosial bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
G7/UCP










