Global7.id – Jepara,
Proyek Jalan di Jepara kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, tambalan aspal di Jembatan Mambak–Wonorejo justru memicu emosi para pengguna jalan karena kondisinya yang tidak rata dan menyerupai wahana kejut bagi pengendara.
Di lokasi terlihat jelas dua gundukan mencolok pada badan jalan. Transisi yang seharusnya halus malah berubah menjadi tonjolan ekstrem, memaksa pengendara mengerem mendadak atau menghantamnya dengan risiko kerusakan kendaraan dan kecelakaan.
Kondisi ini menuai kritik tajam dari para pengguna jalan, termasuk sopir angkutan barang yang setiap hari melintas di jalur tersebut.
Aris Bayu, Relawan Ambulans Jepara, bahwa kondisi jalan seperti ini tidak bisa dianggap sepele, terutama bagi kendaraan darurat.
Kalau ambulans bawa pasien, gundukan seperti ini sangat berbahaya. Apalagi Pasien patah tulang bisa kesakitan , alat medis bisa terguncang. Jalan itu seharusnya membantu penyelamatan, bukan malah menambah risiko,” tegas Aris Bayu.
Menurutnya, pekerjaan jalan yang asal jadi menunjukkan tidak adanya empati terhadap fungsi vital jalur tersebut, apalagi sering dilalui ambulans dan kendaraan layanan publik.
Keluhan serupa disampaikan Yudi, sopir pengantar telur, yang mengaku kerap was-was saat melintasi jembatan itu.
Muatan saya telur, Mas. Kalau kena gundukan seperti itu, banyak yang pecah dan saya harus menggantinya, Ini bukan jalan rusak karena usia, tapi dari awal memang sudah tidak benar,” ujar Yudi dengan nada kesal.
Ia bahkan menyebut kondisi tersebut lebih mirip jebakan untuk dirinya daripada hasil pembangunan.
Fakta di lapangan ini memunculkan pertanyaan serius, apakah proyek ini diawasi dengan benar?
Jika ada pengawasan teknis, hasil seperti ini seharusnya tidak mungkin lolos. Namun jika tetap dibiarkan, publik wajar menduga adanya pembiaran sistematis, bahkan kemungkinan praktik saling menutup mata antara pelaksana dan pengawas.
Sambungan cor dan aspal bukan pekerjaan coba-coba. Ada standar teknis yang mengatur kelandaian, kekuatan, dan keselamatan. Mengabaikannya sama saja dengan mengorbankan pengguna jalan demi target formalitas proyek.
Jembatan Mambak–Wonorejo merupakan jalur aktif masyarakat. Membiarkan kondisi seperti ini berarti membiarkan potensi kecelakaan terbuka lebar, terutama pada malam hari yang minim penerangan apalagi saat hujan.
Masyarakat mendesak instansi terkait untuk
Melakukan evaluasi dan perbaikan ulang secara teknis, Memastikan uang rakyat tidak kembali dibuang untuk perbaikan asal-asalan.
Jika tidak segera ditangani, tambalan jalan ini hanya akan menjadi simbol kegagalan pengawasan dan bukti bahwa keselamatan publik masih kalah oleh pola kerja asal jadi.
G7/AR










