Musim Pancaroba Kasus DBD di Jepara Meningkat: Satu Warga Meninggal, Dinkes Imbau Masyarakat Lakukan Pencegahan

Foto, ilustrasi warga terkena gigitan nyamuk DBD

Global7.id – Jepara, 

Kabupaten Jepara kembali dihadapkan pada ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) seiring masuknya musim pancaroba. Angka kasus mulai merangkak naik dan satu warga dikabarkan meninggal dunia, menjadi pengingat bahwa ancaman ini nyata dan berada sangat dekat dengan lingkungan kita sendiri.

 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara melaporkan, hingga pekan ke-44 tahun ini tercatat 2.327 kasus DBD dan demam dengue (DD). Pada pekan sebelumnya, minggu ke-43, terdapat 19 kasus. Sementara pekan berikutnya meningkat menjadi 27 kasus, dengan rincian 24 kasus DD dan 2 kasus DBD. Dengan dilaporkan satu orang meninggal dunia.

 

Sebaran kasus DBD/ DD hampir merata ke seluruh kecamatan di Jepara. Direktorat di Dinkes meminta agar setiap desa/kelurahan mengaktifkan kembali gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin.

Peningkatan ini bukan sekadar angka statistik.
Di baliknya, ada rumah yang kehilangan anggota keluarga, ada anak yang kembali dari sekolah tanpa melihat sosok yang biasanya menyambut di depan pintu.

 

Musim Pancaroba: Saat Nyamuk Menang Tanpa Pertempuran

Musim yang tidak menentu pagi panas terik, sore gerimis sebentar menciptakan ruang nyaman bagi Aedes aegypti berkembang biak.

Genangan kecil, seringkali yang kita anggap remeh, menjadi tempat lahirnya ancaman:

Wadah pot bunga yang jarang dibersihkan,

Talang atap yang menampung air,

Kaleng bekas di sudut halaman,

Bahkan tutup botol air mineral.

Bacaan Lainnya

Di situlah nyamuk memulai siklusnya. Diam. Tapi mematikan.

 

Imbauan & Langkah Pencegahan

Dinkes Jepara dan Pemkab Jepara menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam pencegahan. Beberapa langkah yang ditekankan:

 

Melakukan gerakan 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas/trash yang bisa menampung air hujan; serta menaburkan larvasida di tempat-yang sulit dikuras.

 

Pemantauan dan pelaporan dini jika ditemukan kasus demam tinggi atau gejala DBD ke puskesmas/RS terdekat.

 

Mengaktifkan gerakan “Satu Rumah – Satu Jumantik” (petugas penyuluh jentik mandiri) di tingkat RT/RW, serta keterlibatan sekolah dalam edukasi anak-anak.

 

Dinkes Jepara: Fogging Bukan Solusi Utama

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jepara, Agus Chardra, mengingatkan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum kasus membesar.

“Musim pancaroba membuat kasus meningkat. Masyarakat perlu lebih aktif melakukan pembersihan lingkungan secara rutin,” ujarnya.

 

Fogging sering dianggap jawaban paling cepat.
Namun fogging hanya membunuh nyamuk dewasa.
Jentik tetap hidup, dan dalam hitungan hari, nyamuk baru akan lahir kembali.

Jadi perang melawan DBD bukan di asap fogging. Tapi di ember, talang air, dan halaman rumah kita.

 

Kita Sedang Melawan Kelalaian, Bukan Hanya Nyamuk

Ancaman DBD bukan sekadar urusan tenaga kesehatan atau pemerintah daerah.
Ini adalah urusan kita semua.

Karena:

Satu jentik yang dibiarkan tumbuh = satu kampung terancam.

 

Dan setiap korban yang jatuh, selalu menyisakan penyesalan:
“Seandainya kita lebih peduli lebih cepat.”

 

Jepara tidak sedang baik-baik saja.
Musim pancaroba masih panjang, dan ancaman ini bergerak tanpa suara.

Pencegahan dimulai dari rumah sendiri.
Karena nyawa manusia tidak sebanding dengan satu wadah air yang lupa dikuras.

 

 

G7/Dinkes Jepara

Pos terkait