Ketua DPRD Jepara Dorong Pembakuan Busana Adat Pengantin: Jaga Identitas Budaya dan Buka Ruang Ekonomi Kreatif

Foto, Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna Audiensi bersama HARPI

Global7.id – Jepara, 

Upaya pelestarian budaya lokal kembali mendapat perhatian serius. Ketua DPRD Jepara menyampaikan dukungan terhadap rencana pembakuan busana adat pengantin khas Jepara agar memiliki bentuk baku yang dapat digunakan dalam berbagai upacara adat maupun kegiatan resmi.

 

Hal ini setelah ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pembakuan busana adat pengantin khas Jepara yang digagas Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Jepara.

 

Program ini dinilai penting sebagai langkah pelestarian identitas budaya daerah.

 

Audiensi antara DPC Harpi Melati dan Ketua DPRD Jepara berlangsung di Ruang Ketua DPRD, Selasa (4/11/2025).

 

Hal ini sejalan dengan dorongan sejumlah tokoh budaya yang menilai bahwa Kabupaten Jepara memiliki kekayaan identitas visual, terutama dalam motif tradisi dan seni ukir, yang seharusnya tercermin dalam busana adat pengantin sebagai simbol kehormatan keluarga dan daerah.

 

Ketua DPRD Jepara menilai, pembakuan busana adat bukan semata urusan tampilan, namun merupakan langkah strategis menjaga nilai-nilai sejarah dan jati diri masyarakat Jepara.

 

“Jepara memiliki kultur yang kuat. Busana adat pengantin yang mencerminkan sejarah dan nilai lokal harus dijaga. Pembakuan ini tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga memberi ruang ekonomi bagi penjahit, desainer, pengrajin aksesoris hingga UMKM daerah,” ujarnya.

 

Bacaan Lainnya

Ditanggapi Pelaku Seni dan Budayawan

Sejumlah budayawan Jepara  menyebut bahwa Jepara memiliki beberapa varian tradisi busana pernikahan yang telah berubah dari generasi ke generasi. Karena itu, perlunya kodifikasi dan penyeragaman unsur visual agar busana adat tidak kehilangan identitasnya.

 

Mereka menilai, pembakuan tidak berarti mematikan kreativitas, melainkan menjadi rujukan dasar yang tetap bisa dikembangkan secara artistik oleh perancang lokal.

“Selama ini busana adat Jepara sering tercampur dengan gaya dari daerah lain. Kalau ada pakem yang jelas, identitas menjadi kuat dan tidak mudah hilang,” ungkap salah satu pegiat budaya sebagaimana diberitakan Radar Kudus.

 

Diharapkan Jadi Program Resmi Daerah

Ketua DPRD mengusulkan agar pemerintah daerah menggandeng:

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Dewan Kesenian Jepara

Paguyuban perias & desainer lokal

Tokoh adat dan budayawan

untuk menyusun formulasi busana adat yang representatif, historis, dan berkarakter Jepara.

 

“Kalau nanti sudah masuk dalam Perbup atau Keputusan Bupati, maka statusnya kuat. Ini bukan sekadar simbol acara, tapi identitas Jepara yang diwariskan,” lanjutnya.

 

Program Edukasi Budaya ke Generasi Muda

Selain pembakuan, DPRD juga mendorong agar busana adat diperkenalkan dalam kurikulum seni budaya, pawai adat, hingga perayaan daerah.

“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal Jepara sebagai kota ukir dan wisata pantai, tetapi tidak tahu bagaimana busana adat pengantin leluhur mereka,” tegasnya.

 

Dengan langkah ini, Jepara diharapkan semakin menunjukkan identitas budaya yang kuat, elegan, dan membanggakan baik di tingkat regional maupun nasional, Pungkas Agus Sutisna.

Pos terkait