Inilah Akibatnya, Istri pertama Berikan Semua Tanggungjawab ke Istri Kedua

Foto, ilustrasi (istri pertama dan kedua).

Global7.id – Cerita Keluarga,

“Semua hutang dan pengeluaran suamiku, kulimpahkan pada Aura. Kita lihat apa yang akan terjadi…”


“Rincian hutang dan pengeluaran setiap bulan. Gaji Mas Hakim 22 juta. Cicilan mobil 3 juta, cicilan rumah 2 juta, cicilan motor 1,5 juta, bayar listrik 1 juta, iuran kebersihan dan keamanan 100 ribu, bayar wifi 400 ribu, transfer uang bulanan ibu mertua 4 juta, biaya kuliah dan keperluannya Sarah 3 juta, jatah bulanan mbak Meri 2 juta, uang bensin, makan, dan rokok mas Hakim 5 juta. Apa maksudnya ini, Mbak?”


Aku tersenyum sangat manis melihat raut wajah Aura, istri baru suamiku. Yah, mas Hakim memang sudah menikah lagi tepat tadi pagi mereka melangsungkan akad pernikahan. Dan aku? Aku sudah mempersiapkan hal ini dari jauh hari sesaat setelah mas Hakim mengatakan padaku kalau dia ingin menikah lagi.


Sakit? Sudah pasti, siapa wanita yang tidak sakit hati ketika lelaki yang dicintainya dengan segenap jiwa raga nyatanya sudah mendua. Yah, hubungan mas Hakim dan juga Aura sudah terjalin 6 bulan sebelum akhirnya mas Hakim memberitahuku perihal pernikahannya dengan jalang itu.


Sebutan yang pantas bagi seorang wanita yang mau dengan suami orang bukan? Selama 6 bulan itu baik suamiku dan juga selingkuhannya yang bernama Aura sudah melakukan hubungan layaknya suami istri.


Yah, mereka sudah berzina, dan aku mengetahuinya. Bagaimana rasanya hatiku? Jangan ditanya lagi, hancur berkeping-keping. Namun, aku memang tidak mau mengamuk atau berkelakuan terlalu barbar untuk membalas rasa sakit hatiku pada mereka.


Aku punya caranya sendiri. Dan cara itu ya seperti sekarang ini. Semua hutang dan tanggungan suamiku, kulimpahkan pada Aura. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan setelah mengetahui kalau selama ini uang mas Hakim itu sudah habis tak bersisa untuk keperluan membayar hutang-hutangnya dan juga tuntutan keluarga suamiku yang semuanya benalu dan matre.


Masih lekat dalam ingatan sesaat setelah acara resepsi pernikahan kedua suamiku dan gundiknya usai. Bu Lela, nama ibu mertuaku, mengatakan kalau aku harus menyambut menantu barunya itu dengan baik. Sebab, Aura adalah menantu kesayangannya. Menantu yang memang ibu mertua jodohkan dengan mas Hakim karena katanya itu adalah amanat dari almarhum sahabatnya yang tak lain adalah mendiang ibunya Aura.


Hah, kurasa itu hanya akal-akalannya saja. Dan lagi memang dasarnya suamiku itu kegatalan jadinya ya mau-mau saja. Bukannya aku tak tau kalau sebenarnya mas Hakim dan Aura sudah menjalin hubungan sebelum bu Lela memberikan alasan seperti itu padaku. Dan aku bisa apa? Mau mencegah juga percuma sebab perselingkuhan bisa terjadi karena adanya kemauan dari kedua pelakunya.


Seandainya aku mencegah dan melarangnya yang ada juga percuma toh di belakangku mereka pasti tetap saja masih bisa bertemu dan melakukan dosa. Jadi, daripada mereka terus-terusan melakukan dosa-dosa itu lebih baik kan aku mengizinkan mas Hakim menikah. Dan sekarang saatnya aku serahkan semua tanggung jawabku sebagai istri pada Aura. Rencananya setelah ini aku akan menggugat cerai mas Hakim sebab aku tidak mau lagi hidup bersama pria benalu dna gak tau diri sepertinya. Sudah cukup selama 3 tahun aku memberikan bakti padanya.


“Mbak? Kenapa diam? Ini maksudnya apa? Kenapa kamu berikan catatan ini sama aku?” Suara Aura membuyarkan lamunanku.


“Kamu tidak buta huruf kan? Kamu bisa baca kan? Itu semua adalah rincian hutang dan pengeluaran wajib suamiku. Eh maksudnya suami kita. Tadinya kan itu semua aku yang mengurus, nah karena sekarang kamu juga istri mas Hakim jadi mulai sekarang itu semua kamu yang urus. Aku sebagai istri pertama tentu gak mau egois dengan mengurus yang ada di catatan itu sendiri. Jadi biar adil makanya aku bagi ke kamu. Gimana? Kamu setuju kan? Pasti setuju dong. Secara kamu kan pernah bilang kalau akan menerima kekurangan dan kelebihan dari mas Hakim karena kamu mencintai mas Hakim apa pun keadaannya. Nah, sekarang saatnya kamu buktikan ucapanmu itu.” Aku tersenyum sangat manis melihat wajah Aura yang tampak pias. Sedangkan mas Hakim kulihat berkali-kali meneguk saliva-nya sejak tadi aku menyerahkan rincian itu pada Aura.


Apakah mereka berdua syok? Ha ha ha rasakan itu. Salah siapa berani mempermainkanku. Sekarang terima lah akibatnya.


“Lho tapi kan, Mbak ….” Belum sempat Aura meneruskan kalimatnya aku sudah mengarahkan telapak tanganku ke arahnya hingga membuat Aura terdiam.

Bacaan Lainnya

“Aku tidak menerima alasan apa pun kalau itu soal penolakan. Yang aku tau yang namanya poligami, kan, harus adil. Nah aku, kan, ingin sekali membantu suamiku untuk berlaku adil. Jadi, kubagilah catatan rincian itu padamu. Aku sudah mengurus semua cicilan itu sejak 2 tahun yang lalu.


Masih ada sisa 3 tahun untuk mobil, 2 tahun untuk motor, 13 tahun untuk rumah dan seumur hidup untuk semua biaya keluarga mas Hakim. Bukankah mas Hakim dan keluarganya selalu mengatakan kalau kamu itu lebih dari segala-galanya?


Aura itu lebih pintar, Aura itu lebih pandai dalam mengatur keuangan karena dia seorang staff keuangan. Sedangkan mas Hakim seorang manajer keuangan jadi kalau kalian menikah maka akan menjadi pasangan yang cocok. Nah, kalau begitu buktikan kalau apa yang dikatakan keluarga mas Hakim adalah benar. Seorang Aura itu pandai mengatur keuangan.


Oh iya lupa dari semua perincian itu kenapa aku tidak menulis tentang rincian pengeluaran seperti makan, keperluan pribadi seperti sabun, shampo, skincare, terus keperluan lainnya seperti jalan-jalan atau sekedar shopping?


Aku kasih tau ya, semua yang aku sebutkan barusan itu selalu menggunakan uang pribadiku. Uang yang kuhasilkan dari keringatku jadi tidak kumasukkan ke dalam catatan. Nah, sekarang sudah menjadi tugasmu yang harus melanjutkan semua itu. Selamat datang di kehidupan rumah tangga kami yang sebenarnya maduku tersayang.”


Penulis: Vyra_fame.

Pos terkait