Global7.id – Jepara,
Kabupaten Jepara memiliki potensi pesisir yang besar, baik dalam sektor perikanan, kelautan, maupun wisata. Namun, potensi tersebut sering kali belum dikelola secara optimal, terutama dalam mendukung ketahanan pangan bagi masyarakat pesisir.
Rembug Pangan Pesisir 2024 yang diinisiasi oleh Dewan Pengurus Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Kabupaten Jepara bertujuan untuk merumuskan langkah strategis guna meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir. Kegiatan ini menjadi platform diskusi bagi berbagai pemangku kepentingan, termasuk nelayan, pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha.
Beberapa permasalahan utama yang dihadapi dalam ketahanan pangan masyarakat pesisir Kabupaten Jepara adalah:
1. Degradasi Lingkungan Pesisir
Kerusakan ekosistem pesisir akibat pencemaran, abrasi, dan eksploitasi berlebihan menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan ikan dan sumber pangan laut lainnya.
2. Ketergantungan pada Komoditas Tunggal
Sebagian besar nelayan masih bergantung pada satu jenis hasil laut, yang rentan terhadap fluktuasi harga dan perubahan iklim.
3. Minimnya Infrastruktur dan Teknologi
Fasilitas pengolahan hasil laut, penyimpanan, dan distribusi masih terbatas sehingga mengurangi nilai tambah hasil tangkapan.
4. Kurangnya Edukasi dan Inovasi
Rendahnya akses terhadap pelatihan, pengetahuan, dan teknologi modern menyebabkan produktivitas nelayan tradisional stagnan.
5. Ketahanan Ekonomi Rentan
Masyarakat pesisir sering kali terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena pendapatan yang tidak stabil dan minimnya diversifikasi mata pencaharian.
Solusi dan Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, berikut beberapa solusi yang dapat diterapkan:
1. Pemulihan Ekosistem Pesisir
– Penanaman mangrove secara massal untuk mengatasi abrasi dan meningkatkan habitat ikan.
– Penegakan hukum terhadap pencemaran laut dan eksploitasi ilegal.
2. Diversifikasi Komoditas dan Usaha
– Mendorong diversifikasi hasil laut seperti budidaya rumput laut, kerang, dan teripang.
– Pelatihan masyarakat pesisir dalam mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tinggi, seperti abon ikan, kerupuk, atau makanan beku.
3. Penguatan Infrastruktur dan Teknologi
– Pembangunan cold storage dan fasilitas pengolahan ikan untuk mengurangi kerugian pasca panen.
– Penyediaan alat tangkap yang ramah lingkungan dan teknologi modern.
4. Edukasi dan Inovasi
– Program pelatihan untuk nelayan dan keluarganya terkait pengelolaan usaha, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi.
– Kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi berbasis komunitas.
5. Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir
– Pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis wisata pesisir, seperti pengembangan desa wisata dan kuliner laut.
– Penyediaan akses permodalan dengan bunga rendah bagi pelaku usaha kecil di pesisir.
Beberapa komoditas pangan perikanan yang dapat menjadi penunjang utama di Kabupaten Jepara meliputi:
1. Ikan Tangkap
– Ikan Kembung
Banyak tersedia di perairan Jepara dan bernilai ekonomis tinggi.
– Ikan Tongkol dan Tongkol Ambon
Komoditas yang diminati untuk kebutuhan lokal maupun ekspor.
– Ikan Teri
Cocok untuk pengolahan skala kecil dan produk olahan seperti teri asin.
2. Ikan Budidaya
– Bandeng
Budidaya tambak di pesisir Jepara sudah berkembang, mendukung produksi berkelanjutan.
– Udang Windu dan Udang Vaname: Komoditas unggulan dengan potensi pasar luas.
– Ikan Nila Salin dan Lele
Budidaya air payau dan tawar untuk konsumsi lokal.
3. Hasil Laut Non-Ikan
– Rumput Laut (Eucheuma cottonii): Sebagai bahan baku untuk industri agar-agar dan kosmetik.
– Kerang Hijau dan Kerang Darah
Bernilai ekonomis tinggi, cocok untuk pemberdayaan nelayan.
– Rajungan
Banyak ditemukan di pesisir Jepara, potensial untuk ekspor.
4. Produk Olahan Perikanan
– Pindang Ikan
Produk khas Jepara yang mendukung ketahanan pangan dan bernilai jual.
– Ikan Asin dan Ikan Kering
Cocok sebagai produk pangan tahan lama untuk diversifikasi.
– Abon Ikan dan Nugget Ikan
Mendukung industri kecil dan rumah tangga.
5. Diversifikasi Produk Pangan Laut
– Snack Rumput Laut: Inovasi modern yang digemari generasi muda.
– Kerupuk Udang dan Kerupuk Ikan: Mendukung UMKM di pesisir.
– Olahan Kuliner Lokal: Seperti otak-otak ikan, bakso ikan, atau sate lilit.
Strategi Pendukung: untuk meningkatkan ekonomi pesisir
1. Pengembangan Blue Economy
Konsep ekonomi biru yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi pesisir dengan keberlanjutan lingkungan perlu menjadi fokus utama. Ini mencakup perikanan berkelanjutan, energi terbarukan dari laut, dan pengembangan ekowisata.
2. Digitalisasi Nelayan
– Pembuatan aplikasi berbasis teknologi untuk pemasaran hasil laut secara langsung ke konsumen atau pasar.
– Penyediaan pelatihan literasi digital bagi masyarakat pesisir.
3. Kolaborasi Multisektoral
Menggandeng pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil untuk menciptakan program pemberdayaan terpadu.
4. Penguatan Rantai Pasok Pangan Pesisir
Membangun sistem logistik yang efisien untuk mendistribusikan hasil laut dari Jepara ke pasar regional dan nasional, sehingga nilai ekonomi meningkat.
5. Penguatan SDM dan Teknologi
Pelatihan nelayan dan pengusaha untuk mengolah hasil perikanan dengan teknologi modern.
6. Pemasaran dan Branding
Memanfaatkan branding produk pesisir Jepara sebagai daya tarik pasar regional dan nasional.
7. Kerjasama dengan UMKM dan Industri
Memperluas akses pasar bagi produk olahan perikanan.
Rembug Pangan Pesisir 2024 merupakan langkah strategis dalam menyatukan visi dan misi berbagai pihak untuk mewujudkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Jepara. Dengan mengatasi permasalahan utama melalui solusi inovatif dan terobosan berbasis keberlanjutan, masyarakat pesisir dapat lebih sejahtera dan berdaya saing di masa depan.
DPD KNTI Jepara diharapkan menjadi penggerak utama dalam merealisasikan potensi pesisir yang optimal melalui kolaborasi yang kuat dan komitmen bersama.
Dengan memanfaatkan komoditas ini, Rembug Pangan Pesisir dapat menjadi momentum untuk memperkuat sektor perikanan dan ekonomi lokal Kabupaten Jepara di tahun 2025.
(Jepara, 7 Desember 2024)
Oleh: Pembina.
Sumber: Djoko Tjahyo Purnomo.










