Global7.id – Jepara,
Masjid Mantingan dibangun pada abad ke-16 sesuai dengan sengkalan yang berada di atas mihrab masjid yang berbunyi “Rupa Brahmana Warna Sari”, jika dikonversikan maka muncul tahun angka 1481 Saka atau 1559 Masehi, dan masjid ini didirikan di atas sebuah dataran tinggi di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara.
Pada tahun 1982 diadakan pameran kepurbakalaan di kota Pekalongan, seorang arkeolog Universitas Gajah Mada (UGM) bernama Drs. Kusen sangat tertarik dengan beberapa panel batu relief dari masjid Mantingan yang ikut dipamerkan.
Dalam penelitiannya, Drs. Kusen menjumpai beberapa kenyataan bahwa panel batu tersebut diukir pada kedua sisinya dan memiliki gaya ukir yang berbeda, satu sisi menggambarkan episode (epos Ramayana) dan motif dedaunan pada sisi yang sebaliknya.
Panel batu tampak sengaja dipotong untuk untuk membentuk relief dedaunan sehingga panel relief Ramayana menjadi tidak sempurna, dan yang menarik perhatiannya lagi adalah wajah sosok Rama, Laksmana dan sosok kera pada panel-panel batu tersebut sengaja dirusak sedangkan bagian yang lain tidak.
Drs. Kusen berpendapat bahwa dimungkinkan bangunan masjid Mantingan dulunya merupakan bangunan suci yang bercorak Hindu, mengingat masjid Mantingan dirikan pada masa transisi dari kepercayaan Hindu-Budha menuju ke agama Islam.
Kebenaran klaim bahwa masjid Mantingan dulunya merupakan bangunan suci umat Hindu memang tidak dipastikan kebenarannya, namun keberadaan masjid Mantingan dengan ornamen reliefnya membuktikan bahwa pemuka agama Islam pada masa itu menunjukkan betapa tingginya pengertian mereka terhadap kondisi masyarakat saat itu.
Benarkah Masjid Mantingan adalah Bangunan Suci Umat Hindu?
Menanggapi hal tersebut, awak media mengkondisikan tokoh-tokoh Islam di Jepara, salah satunya Hisyam Zamroni yang merupakan wakil ketua PCNU Jepara , “Secara historis, masjid Mantingan adalah bukti nyata bahwa Ratu Kalinyamat memiliki wawasan toleransi yang kuat karena Jepara adalah wilayah pesisiran yang terbuka dan wilayah pegunungan muria yang adem ayem, ” ujarnya, Senin (28/10/2024).
Ia menambahkan, “Sehingga simbol ukiran relief dindingnya pun menunjukkan perpaduan yang eksotis yaitu perpaduan antara budaya pesisiran dan pegunungan yang membentuk karakter orang-orang Jepara yang terbuka, responsif sekaligus santun, bersahaja dan ramah, ” imbuh Hisyam Zamroni yang pernah mengenyam pendidikan Pasca Sarjana (S2) Prodi Religi and Cultural Studies di Universitas Katholik Sanata Dharma Jogjakarta.
Selain itu, Hadi Priyanto sebagai budayawan dan wartawan senior di Jepara juga menanggapi hal tersebut, “Memang benar, masjid Mantingan yang dibangun bada tahun 1559 merupakan perpaduan budaya Islam, Hindu, Cina dan Jawa. Ini nampak pada arsitektur bangunan salah satu masjid tertua di Indonesia ini, ” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima awak media.
Menurut Hadi, mulai dari gapura makam yang mengadopsi arsitektur candi Bentar dan ornamen ukiran dengan memadukan motif Cina dan Islam. Karena itu untuk menggambarkan hewan dilakukan dengan sterilisasi. Hal Ini tak lepas dari peran patih Cie Hwio Gwan yang dikenal juga dengan sebutan Sungging Badar Duwung yang menjadi desainer masjid Mantingan.
Lanjut kata Hadi, “Hal ini juga menunjukkan sikap toleran Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Muslim yang menghormati budaya Hindu, ” pungkasnya.
Sebagai informasi, ternyata masjid Mantingan dibuat oleh Ratu Kalinyamat untuk suami yang dicintainya yakni sultan Hadlirin.
Diketahui, masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah masjid agung Demak. Dibangun pada 1481 Saka, atau 1559 Masehi oleh Ratu Kalinyamat. Tahun pembangunan masjid itu diketahui berdasarkan candra sengkala yang terukir di mihrab, yang berbunyi “Rupo Brahmana Wanasari”.
Dikisahkan satu peristiwa pembunuhan Sultan Hadlirin yang dilakukan oleh Arya Penangsang. Peristiwa tragis ini dipicu oleh perselisihan yang terjadi selepas meninggalnya Raja Demak, Raden Trenggono. Istri Sultan Hadiri yang bernama Ratu Kalinyamat sangat bersedih dan terpukul. Untuk mengatasi kesedihannya itu, Ratu Kalinyamat membuat makam beserta masjid di daerah Mantingan, Jepara, yang sekarang kita kenal dengan Masjid Mantingan. Kisah ini sekilas mirip dengan kisah seorang Raja di India yang membangun Taj Mahal yang dipersembahkan kepada istrinya yang sudah meninggal.
Dalam mempersembahkan bangunan untuk mendiang Sultan Hadlirin, Sang Ratu meminta bantuan guru spiritual sekaligus ayah angkat Sultan Hadiri ketika menimba ilmu di China. Ia adalah Chi Hui Gwan, yang lebih dikenal dengan Patih Sungging Badar Duwung. Patih inilah yang menjadi arsitek Masjid Mantingan. Dalam mendirikan masjid ini Patih dibantu oleh masyarakat setempat.***
Sumber: BS/Hadi Priyanto/Hisyam Zamroni.