Wajib Baca ini, Inilah Hakekat Kebenaran yang Sejati

Foto, Rantastia Nur Alangan (penulis).

Global7.id – Jakarta,

Kehadiran Agama Islam di dunia yaitu membawa rahmatan lil’alamin, kehadirannya untuk menciptakan perdamaian dan untuk menjaga kelestarian alam semesta ini. Agama Islam justru bukan untuk dijadikan alat memecah-belah umat. Karena kata atau istilah Islam secara term mempunyai arti (selamat), dalam arti yang luas. Dan Islam mempunyai misi untuk menyelamatkan umat manusia dari ketidakadilan, kesewenangan, kebiadaban, kedzaliman, keserakahan dan sebagainya.


 

Jadi Islam bukan agama yang membawa kekerasan, tetapi agama yang membawa cinta kasih.


 

Hakekat orang Islam berarti orang selamat, baik di dunia maupun di akhirat, sudah tidak lagi merasakan, sengsara, derita, susah, takut, gelisah dan sebagainya. Sementara dalam pemahaman umum bahwa orang Islam adalah orang yang baru masuk Islam , cukup hanya mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka orang itu sah jadi orang Islam.


 

Pemahaman ini terlalu sempit, sebab pengertian Islam adalah Selamat, dan secara hakiki nya orang yang baru mengucapkan dua kalimat (Syahadat) itu masih calon Islam, bukan orang Islam, sebab orang itu belum (Selamat), nyatanya masih mengalami susah, derita, takut dan gelisah. Selama manusia itu masih merasakan susah, sengsara, gelisah dan takut berarti manusia itu masih belum benar menjalankan Iradat dan KodratNya.


Beriman kepada Tuhan yang Maha Esa

Untuk menuju Selamat, maka kita harus beriman terlebih dahulu, beriman berarti percaya kepada Tuhan. Bagaimana caranya, mari kita kaji berdasarkan: “ Man arofa nafsahu faqud arofa robbahu “ Kenalilah dirimu niscaya akan mengenal Tuhan. Makna ini sangat dalam sekali , artinya kita harus mengenal jati diri kita agar kita Haqulyakin (Keyakinan yang sebenarnya yang sudah dibuktikan dan dirasakannya) bahwa Allah SWT memang Maha Ada, Maha Kuasa, Maha Mulia, dan Maha Segalanya.


 

Beriman yang benar yaitu dapat membuahkan hasil yang baik, saat ini juga dapat kita nikmati buahnya. Karena ada orang yang mengaku telah beriman, tetapi disaat orang itu mengalami kesusahan, orang ini suudzon / berprasangka buruk terhadap sesama makhluk bahkan suudzon kepada Allah SWT, menganggap yang dideritanya, dikarenakan oleh Allah SWT. Orang seperti ini sudah keluar dari makna beriman, karena beriman kepada Allah SWT berarti kita harus selalu ikhlas dan sabar menerima ujian dan cobaan hidup.


 

Mari kita mencoba introspeksi diri, bahwa kehidupan ini berada di dalam Hukum Sebab – Akibat, Aksi – Reaksi, Hukum Kepastian / Alam. Sebab Allah SWT berada di dalam sebab dan akibat atau Hukum Sunatullah, disinilah Allah SWT memperlihatkan KuasaNya. Segala apa yang kita lakukan baik positif maupun negatif, cepat atau lambat kita akan menuainya atau kita akan memetiknya sesuai dengan apa yang kita tanam bibitnya di kehidupan sekarang ini. Jadi segala sesuatu yang menimpa diri kita, sesungguhnya berasal dari perbuatan diri kita sendiri.


 

Bacaan Lainnya

Untuk itulah di dalam setiap kita mengevaluasi atau mengintrospeksi diri, kita harus bisa membedakan Nasib dan Takdir. Secara hakekatnya Nasib itu berasal dari tindakan yang mengandalkan pemikiran yang berasal dari ide pikiran kita sendiri, kita terlalu percaya terhadap kemampuan otak kita yang terbatas. Karena egonya yang menonjol, maka segala niatnya selalu untuk kepentingan diri sendiri, yaitu: keinginannya hanya untuk kesombongan, kekuasaan, jabatan, kekayaan dan sebagainya.Tetapi ketika keinginan ini terwujud lalu berakibat buruk terhadap dirinya, orang ini baru menyadari perbuatan ini hasil dari kemampuannya yang terbatas.


 

Sedangkan hakekat Takdir yaitu segala tindakannya selalu melibatkan ide Allah SWT, selalu ketergantungan dengan kemampuan yang tiada terbatas, setiap niatnya selalu dikarenakan untuk pengabdian dirinya terhadap Allah SWT (Lillahi ta’Allah), sehingga perbuatannya dapat menyelamatkan manusia dari keserakahan, kesewenang-wenangan dan segala egoisme atau nafsu dunia. Dan secara tidak langsung orang ini sudah menjalankan peraturan atau kehendakNya (IradatNya). Maka orang ini dijamin secara otomatis mendapat perlindunganNya (KodratNya) yang abadi. Dan setiap ucapannya selalu terbukti dan pasti.


 

Digambarkan sebagai Logam Mulia atau Mahkota yang berlogam mulia, artinya manusia yang mulia adalah manusia yang selalu menjalankan irodat-Nya / kehendak Nya. Karena manusia yang masih mengandalkan kemampuannya sendiri yang terbatas, maka dia akan menemukan jalan buntu.


 

Berusahalah untuk tidak berusaha, karena bila kita masih berusaha berarti kita masih jauh dari sampai, biarkanlah Allah SWT yang mengendalikan diri kita serahkan kepada Kekuasaan Allah SWT yang tiada terbatas, Kekal Abadi, berlaku sepanjang jaman, bersifat universal tidak membeda-bedakan, ditolak atau diterima Dia selalu berada dalam KebesaranNya.


 

Manusia yang berkualitas adalah manusia yang tidak bisa berbuat apa-apa, karena gerak kehidupannya selalu mengikuti kehendak Allah SWT, otomatis KuasaNya selalu melindunginya setiap detik dan kemanusiaannya telah hilang yang ada hanya sifat ilahiah, memang secara lahiriah manusia itu yang bekerja, padahal Allah SWT yang bekerja, sehingga manusia itu dalam bersikap, bertindak dan berbicaranya selalu benar dan Mulia. Ibarat sebatang besi bila dibakar, maka besi itu akan panas, artinya sifat besi itu sudah diambil alih oleh sifat panas.


 

Beribadah kepada Allah SWT 

Beribadah bukan berarti kita selalu melakukan ritual menjalankan Sholat 5 waktu dalam sehari saja (Sholat 5 waktu) mempunyai arti hubungan manusia dengan Allah bersifat pribadi / hubungan Vertikal, tidak bisa diwakilkan dalam menjalankannya, sifatnya masih belum diaplikasikan, hanya bersifat pribadi tetapi lebih dari itu kita diwajibkan untuk beramal soleh / hubungan horizontal atau ibadah yang diaplikasikan dalam bentuk nyata dan langsung bermanfaat bagi sesama makhluk ciptaanNya yaitu setiap detik terus – menerus tanpa putus selalu berbuat, bertindak, berucap selalu karena Allah SWT (Lillahi ta’Allah), dengan mewujudkan pengabdian diri kita untuk menciptakan perdamaian, saling kasih sayang dan menjaga kelestarian bumi ini dari kerusakan akibat ulah manusia yang lupa diri atau mabuk (padahal belum minum minuman keras sudah mabuk) dari nafsunya untuk mendapat kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya.


 

Beribadah berarti kita menyadari bahwa hidup di alam semesta ini berada di dalam peraturan Pemerintahan atau Kerajaan Allah SWT, peraturanNya berlaku di semua bidang kehidupan, peraturanNya berlaku setiap detik hingga tiada batas akhir. peraturanNya berlaku kepada semua makhluk di alam semesta ini, peraturanNya tidak mengenal Raja, presiden, hakim, polisi, kaya, miskin, tua, muda, agama, suku, dan sebagainya, semuanya wajib mentaati peraturanNya, bila mereka melanggar pasti akan terkena akibatnya sendiri. Apalagi yang merasa menandingiNya, seolah-olah semua miliknya, kuasanya dan sebagainya.


 

Seharusnya semua bangsa-bangsa di dunia patuh dan tunduk kepada peraturan yang diciptakan oleh Allah SWT, jadi bukan peraturan yang diciptakan oleh manusia, karena benar dan salah menurut sudut pandang manusia, masing-masing merasa paling benar.


 

Kebenaran yang Sejati

Kebenaran yang diperdebatkan dan diadu argumentasi kan, sebenarnya sudah melibatkan iblis / syaitan. lalu disetujui oleh orang banyak, belum tentu menjamin dan dapat bertahan lama, walaupun hasil akhirnya mendapat pilihan dengan suara terbanyak, tapi hakekatnya mereka tidak bisa dipersatukan, karena masing-masing merasa paling benar, maka hasilnya hanya bertahan dalam kurun waktu terbatas.


 

Justru kebenaran Tuhanlah yang tidak bisa dibantah atau diperdebatkan, bila kita kembalikan persoalan itu kepada yang berhak maha segalaNya, tentu kita sudah pasti tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kita, karena sudah menjadi satu kata atau bersinergi tanpa ada kecurigaan satu sama lainnya dan tanpa ada rekayasa atau berpura-pura atau basa-basi. Seperti kita sedang bercinta dengan istri kita, pasti tidak ada kata satupun yang keluar, tapi action yang sama-sama merasakan nikmat yang luar biasa, tidak ada kata perdebatan, tapi kenikmatan.


 

Ciri Kebenaran sejati yaitu bersifat universal, tidak membeda-bedakan, tidak memihak, tidak memusuhi / memerangi, diterima atau ditolak, dihina atau dicaci, dijegal atau dihambat Dia selalu tetap berada dalam KebesaranNya. HukumNya berlaku sepanjang jaman. Ibarat emas walaupun berada di dalam lumpur atau kotoran, ia tetap menjadi emas.


 

Kita tidak bisa berbuat apa-apa, tidak punya apa-apa, bahkan nyawa pun kita tidak punya sebab ketika nyawa kita diambil oleh Allah SWT, maka harta, isteri, anak-anak yang kita cintai, jabatan , kekuasaan dan berbagai macam yang sudah kita capai dengan susah payah, ternyata semuanya itu kita tinggalkan, hanya amal soleh yang bisa menyelamatkan kita dari Keadilan Tuhan.


 

Pada kenyataan ini, kenapa NKRI hancur? jawabnya sudah pasti belum beriman secara benar. Banyak para pejabat dan masyarakat pada umumnya merasa beriman tapi dalam kenyataannya masih diliputi dan mengalami perasaan gelisah takut hilang uangnya, takut hilang mobilnya, takut miskin, takut jabatannya digeser, dan sebagainya. Ini semua karena salah menempatkan diri sebagai hamba, kita merasa ini kepunyaanku, aku sudah berjuang dengan susah payah, jadi aku berhak kekayaan ini milikku, orang lain tidak boleh memilikinya. Aku sudah bersusah payah mendapatkan kekuasaan ini, jadi aku bebas melakukan kekuasaanku.


 

Ini kenyataan yang terjadi, sehingga posisi kita sebagai sesama hamba telah terlupakan, karena manusia banyak yang mengaku: “Ini milikku”, “Ini punyaku”, “Ini aku Hakim”, “Ini Aku Polisi”, “Ini Aku Pimpinan” dan sebagainya, sehingga banyak yang lupa diri menganggap dengan jabatannya, hartanya, kekuasaannya bebas melakukan apa saja terhadap hambaNya yang hidup serba kekurangan.


 

Seandainya manusia di dunia tidak mengaku ini milikku, tapi ini milik Allah SWT, manusia hanya boleh menggunakan untuk kepentingan bersama, mungkin betapa indahnya dunia ini, damai dan sejahtera. Karena, hanya Allah SWT yang berhak mengaku, “Ini milikKu”, “Ini punyaKu”, “Ini HukumKu”, “Ini HartaKU”, “Ini KuasaKu” dan sebagainya.


 

Landasan Hakiki

Di dalam kita mengimplementasikan peraturan / kehendak (IradatNya) Allah SWT, maka kita harus melakukan suatu langkah-langkah yang berlandaskan pada:

1. Bismillahirrahmanirrahim.


2. Lahaullah Walla Quwata Illa Billahil Aliyil Adzhim.


3. Lillahi ta’allah.


4. Innallillahi Wainnailaihi Rojiun.


A. Bismillahirrahmanirrahim

1. Bismillahirrahmanirrahim dan Keselamatan

Bismillahirrohmanirrohim yang artinya “Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Secara hakikinya bahwa disaat kita sudah berada di dalam namaNya dan keberadaanNya berarti kita sudah selalu besertaNya dan secara otomatis kita pasti Selamat.


 

2. Bismillahirrahmanirrahim dan Hakekat Hidup

Bismillahirrohmanirrohim mempunyai arti yang sangat dalam dan mempunyai arti menjadikan “Kun Faya Kun”, bagi manusia yang sudah mengerti tentang hakekat hidup dan menjalankan Iradat dan KodratNya, maka manusia ini berhak mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, seketika itu pula, “Jadi, maka Jadilah”.


3. Manusia yang Dilindungi

Manusia ini dalam kehidupannya selalu berada di dalam PerlindunganNya, setiap detik saja lengah dari peraturan atau kehendakNya , detik itu pula terputus dari KuasaNya.


 

4. Manusia yang Ikhlas

Manusia ini tidak lagi merasakan sakit, derita, susah, sengsara dan sebagainya, manusia ini selalu berada dalam keikhlasan dan kesabaran. Maka walaupun senjata yang super canggih pun yang ada di dunia tidak akan dapat menyentuh tubuh dan jiwa dan prinsip hidupnya.


5. Manusia Kodratnya dan KuasaNya

Manusia ini selalu menjalankan Iradat (KehendakNya) dan KodratNya (KuasaNya), baginya kehidupan ini baik sekarang maupun di akherat merupakan hidup di dalam KerajaanNya atau PemerintahanNya yang harus tunduk dan patuh kepada Raja di Raja yaitu Allah SWT, karena peraturan yang berlaku di dalam hidup hanyalah peraturan yang kekal abadi berlaku sepanjang jaman yaitu peraturan yang diciptakan oleh Allah SWT.


 

B. Lahaula Walaa Quwwata Ilabillahil Aliyil Adzim

1. Lahaullah Walla Quwata Illa Billahil Aliyil Adzhim artinya: “Tiada daya upaya kecuali kekuatan Allah”, hakikinya yaitu manusia tidak mempunyai apa-apa, tidak ada yang pandai di dunia, tidak ada yang berkuasa di dunia, tidak ada yang kaya di dunia, tidak ada yang bisa menghukum atau mengadili manusia kecuali Allah SWT.


 

2. Jangan merasa bisa, hanya Allah SWT yang bisa, bagi manusia yang merasa punya, sesungguhnya manusia itu tidak punya apa-apa, hanya Allah SWT yang punya Segalanya baik nyawa, harta, kekuasaan, maupun peraturan kehidupan, dsb milik Allah SWT. Dalam bahasa Jawa yaitu Ojo Rumongso Biso, Biso Ojo Rumongso dan Jagad Suwung.


 

3. Bagi manusia yang merasa mempunyai hak, sesungguhnya manusia itu tidak mempunyai hak, hanya Allah SWT yang mempunyai hak mutlak.


 

4. Manusia tidak berhak menilai dan memvonis sesama makhluk, hanya Allah yang berhak menilai dan memvonis makhlukNya yang bersalah, karena penilaian manusia sangat terbatas, manusia tidak tahu rencana Allah SWT dibalik peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia.


 

5. Di alam akhirat nanti, yang pertama diadili adalah hakim, Polisi dan manusia-manusia yang berkuasa sewenang-wenang, karena mereka selama di dunia melakukan tindakan yang menghukum sesama manusia, padahal yang berhak mengadili manusia hanyalah Allah SWT semata, manusia tidak berhak memvonis dan menghukum. Mereka langsung dijebloskan ke dalam api neraka jahanam.


 

C. Lillahi ta’allah

1. Lillahi ta’ allah artinya: hanya bersandar kepada Allah semata, hakikinya: Segala tindakan, perbuatan, sikap dan ucapan kita selalu hanya bersandar kepada Allah semata, sehingga kita di dalam menjalankan hidup dan kehidupan ini baik di kala suka dan duka, susah dan senang selalu ikhlas dan sabar menerimanya.


 

2. Kita selalu melibatkan Allah dalam setiap perbuatan kita, artinya kita dalam setiap detik selalu menjalankan iradat dan kodratNya.


 

D. Innallillahi Wainnailaihi Rojiun

1. Innallillahi Wainnailaihi Rojiun, artinya : “Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepadaNya” hakikinya, Ketika kita menjalankan kehidupan ini, selama kita masih mempersoalkan materi atau jasad lahiriah, seperti: Jabatan, Kekuasaan, Kekayaan, dan sebagainya, sesungguhnya itu semua tiada yang abadi / kekal, semuanya akan hancur.


 

2. Hanya Allah Yang Maha Wujud, semua ciptaanNya bersifat Maujud / fana. Yang ada Hanya Allah SWT. Janganlah kita terpedaya oleh permainan dunia yang sifatnya sementara. Kita meninggal duniapun tidak ada yang kita bawa. Semuanya hanya barang titipan belaka , baik nyawa kita maupun harta, isteri dan anak-anak kita.


 

Menurut Rantastia Nur Alangan, Kebenaran Sejati bersifat Universal semua orang menerimanya, mengakuinya dan mengikutinya, tanpa terpaksa, sebab tidak pernah memaksakan dan tidak pernah mempromosikan, hukumnya berlaku sepanjang jaman, walaupun dicaci di bully teta dalam KebesaranNYA.***


Penulis: Rantastia Nur Alangan.

Pos terkait