Ayo ke Belakang SMA Sultan Agung Kriyan Jepara, ada Baratan Ratu Kalinyamatan

Foto, pemeran Ratu Kalinyamatan dalam event Festival Baratan di belakang SMA Sultan Agung Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara.

Global7.id – Jepara,

Setiap menjelang bulan Ramadhan, masyarakat Jepara selalu menantikan perayaan Baratan Ratu Kalinyamat di Jepara. Tahun ini, arak-arakan sosok yang baru diangkat pahlawan nasional itu akan digelar hari ini, Sabtu (2/3).

 


Panitia pelaksana Baratan Ratu Kalinyamat, M Hisyam Maliki (33), menyebutkan bahwa baratan tahun ini mengangkat tema Siti Hinggil.

 


Dia menjelaskan, Siti Hinggil merupakan gundukan tanah tinggi yang dipercaya sebagai bekas Kerajaan Kalinyamat. Siti Hinggil diyakini sebagai satu-satunya bekas arsitektur kerajaan Islam di Jawa yang masih ada.


 

“Konon, kerajaan Kalinyamat belum selesai dibangun, dan hanya bisa membuat benteng dan lokasi penting, salah satunya siti hinggil,” kata Hisyam, Jumat (1/3).


 

Lanjut Hisyam, secara bahasa, siti diartikan sebagai tanah, sedangkan hinggil artinya tinggi. Siti Hinggil dimaknai sebagai tanah yang sengaja ditinggikan daripada sekitarnya.


 

Diketahui, lokasi Siti Hinggil berada di belakang SMA Sultan Agung Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Karena menurutnya, selama ini situs sejarah Siti Hinggil yang sebagai peninggalan Ratu Kalinyamat kurang begitu diperhatikan.

 


Oleh karena itu, pihaknya ingin mengangkat Siti Hinggil dalam baratan Ratu Kalinyamat.

 

Bacaan Lainnya

“Sebagai warga sekitar, kami mempunyai keresahan bersama, selama ini situs tersebut dibiarkan dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah, baik dari segi kebersihan maupun publikasinya,” kata Hisyam.


 

Ia menerangkan, baratan tahun ini sedikit berbeda dengan gelaran baratan Ratu Kalinyamat tahun-tahun sebelumnya. Hisyam menyebutkan, misalnya gunungan dan kostum yang dikenakan peserta.

 


“Tahun ini gunungan lebih didominasi apem dan puli, kedua makanan ini menunjukkan adanya bukti kepasrahan diri dan permohonan maaf untuk mensucikan diri,” urainya.

 


Sedangkan kostum yang dikenakan, masyarakat diminta memakai baju putih sebagai wujud kesucian.

 


Kostum tersebut juga menyimbolkan wujud rasa kabung kepada Ratu Kalinyamat yang kehilangan sang suami, Sultan Hadirin.


 

Pihaknya berharap, pelaksanaan baratan ini dapat menggugah kesadaran masyarakat dan peneliti untuk mengulik situs Siti Hinggil lebih dalam lagi.

 


Sehingga, peninggalan sejarah Ratu Kalinyamat di Desa Kriyan itu tidak hanya dikenal sebagai mitos, melainkan juga sebagai situs sejarah yang berisi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting.


 

“Bahwa Siti Hinggil dan peninggalan ratu Kalinyamat lainnya memiliki ilmu pengetahuan dan menyimpan sejarah yang penting bagi kita,” pungkas Hisyam.***

Sumber: SM.

Pos terkait