Asal-usul Desa Bugel Jepara di Pertengahan Abad ke-XVI

Foto, makam Islam Syekh Maulana berasal dari Arab dan mengembara hingga ke nusantara untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam ke Jepara

Global7.id – Cerita di Jepara,

Asal Usul Desa Bugel di Jepara yang dikutip dari buku Cerita Rakyat Jawa Tengah, Kabupaten Kudus dan Jepara, terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah (2016).


 

Berikut Asal Usul Desa Bugel di Jepara, Cerita Rakyat Jawa Tengah:

Awal mula berdirinya Desa Bugel terjadi pada pertengahan abad ke-XVI yang saat itu ada seorang Waliullah yang datang ke tanah Jawa yang bernama Maulana Mangun Sejati.


 

Maulana Mangun Sejati atau yang dikenal dengan Syekh Maulana berasal dari Arab dan mengembara hingga ke nusantara untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam.


Perjalananannya ke tanah Jawa tidaklah mudah karena banyak halangan dan rintangan yang dialaminya hal itu tidak menyurutkan semangat juangnya untuk berdakwah.



Kesulitan dan rintangan selama perjalanan itu dihadapi dengan sabar hingga sampailah Maulana Mangun Sejati di suatu tempat di daerah kabupaten Jepara.


 

Di tengah perjalanan itu tiba-tiba ada kawanan perampok yang berjumlah sepuluh orang menghadang Syekh Maulana. Mereka ingin merampas barang-barang bawaan Syekh Maulana.


Menghadapi hal itu Syekh Maulana tidak gentar dan tidak mau menyerahkan barang-barangnya. Syekh Maulana bersikeras untuk mempertahankan hartanya agar tidak jatuh ke tangan perampok.


 

Bacaan Lainnya

Keadaan pun berubah menjadi penuh ketegangan karena para perampok berupaya merampas barang-barang Syekh Maulana hingga perkelahian pun tidak terhindarkan.


 


Kawanan perampok itu menyerang Syekh Maulana dengan menggunakan  senjata bongkahan kayu dan toya. Secara bersama-sama kawanan perampok menyerang Maulana Mangun Sejati.


Bongkahan kayu dan toya dipukulkan ke tubuh Syekh Maulana. Namun, ketika senjata itu mengenai tubuh Syekh Maulana, patahlah kayu dan toya tersebut menjadi potongan kecil-kecil.


 

Tidak diragukan lagi, Maulana Mangun Sejati memiliki kesaktian yang tinggi yang membuat kawanan perampok tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa senjata yang selama ini digunakannya dapat begitu mudah hancur hanya karena mengenai tubuh Syekh Maulana.


 

Para perampok itu pun menyerah dan mengakui kesaktian Maulana Mangun Sejati hingga memaafkan perbuatan kawanan perampok itu.


 

Akhirnya, mereka pun menjadi murid dan pengikut Syekh Maulana. Untuk mengenang peristiwa itu, tempat itu pun dinamakan Bugel. Kata Bugel berasal dari kata (bahasa Jawa) tugel-tugel, yakni bongkahan-bongkahan kayu yang patah-patah (tugel-tugel) secara rapi.


 

Tempat itu pun semakin ramai dihuni sehingga semakin bergembang menjadi sebuah pedukuhan/ pedesaan dan dikenal dengan nama Desa Bugel.


 

Makam Maulana Mangun Sejati yang terdapat di Desa itu pun banyak dikunjungi peziarah. Makam ini diyakini masyarakat memiliki karomah se- hingga banyak peziarah yang datang dari berbagai daerah.


Makam itu diperingati (khauli) setiap tahun, yakni pada 27 Maulid. Pada saat peringatan atau dikenal dengan sebutan khaul banyak peziarah yang nembawa kambing atau sapi untuk disembelih dan disedekahkan.


 

Masyarakat Desa Bugel pun biasa memasaknya di bawah pohon ingas yang terdapat di belakang makam Syekh Maulana. Hingga kini makam tersebut masih terus dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah untuk mendapatkan karomah.***

 

Sumber: Nusantara.


Tag

Pos terkait