Global7.id – Jepara,
Festival Jembul Tulakan kembali digelar meriah, Senin (5/6). Ada lebih dari 200 jembul yang digabungkan jadi delapan gunungan diarak keliling Desa Tulakan, Donorojo.
Dalam kirab jembul itu, beberapa kali sempat terjadi aksi ricuh dan saling dorong. Hingga ada 2 video berdurasi 30 detik yang viral di media sosial di wilayah Jepara. Namun, kericuhan itu tak berlangsung lama karena sudah diamankan oleh aparat kepolisian dan Babinsa setempat. Setelah dilerai, masing-masing warga yang terlibat ricuh kembali kondusif. Ratusan jembul yang dikirab itu pun jadi bahan rebutan masyarakat.
Setelah ditelusuri awak media, kericuhan itu merupakan salah satu tradisi adat istiadat Desa Tulakan, yang artinya mengekspresikan kegembiraan melalui (aksi kericuhan saling pukul sambil tertawa).
Ada ribuan orang memadati jalanan utama Desa Tulakan. Bahkan ada yang rela menonton dari atas balkon rumah-rumah warga atau sekolah. Prosesinya berlangsung di depan rumah Petinggi atau Kepala Desa Tulakan, Budi Sutrisno.
Tradisi Jembul Tulakan tak lepas dari kehidupan Ratu Kalinyamat. Setelah Sultan Hadirin, terbunuh oleh Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat membuat sumpah dengan bertapa Wuda. Dalam hal ini, tapa Wuda atau telanjang tidak dimaknai telanjang dalam arti sebenarnya. Melainkan, Sang Ratu menjauhi sifat keduniawian dan kemewahan di Istana.
”Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Tidak sekali-kali saya turun dari pertamaan, jika belum bisa membersihkan kaki dengan jambul atau rambut Arya Penangsang),” ucap Budi menirukan sumpah Ratu Kalinyamat.***
Sumber: RK.
Tag










