Global7 Selasa 30 November 2021.
Jepara Global7-Karimunjawa ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional. Meskipun ada beberapa masyarakat yang terjun di pariwisata, dan Karimunjawa termasuk daerah tujuan pariwisata, namun kegiatan Seni Tari masyarakat Karimunjawa sangat kurang. Padahal tari merupakan warisan kebudayaan bangsa Indonesia yang harus dilestarikan, juga menjadi Melihat hal ini beberapa guru dan warga yang memiliki kepedulian terhadap seni membentuk sebuah sanggar tari yang diberi nama “Jaladri”. Sanggar Tari Jaladri berdiri sejak tahun 2013 di Desa Karimunjawa Jepara. Karena berada di kepulauan yang dikelilingi oleh lautan maka diberi nama Jaladri yang artinya Segara. Pendiri sanggar ini adalah para guru seperti Eko Cahayo, Maulidatul Solecha, S.Pd, Sutarni, S.Pd, dan Bu Eko Cahayo dan Tri Fadmawati, S.Pd.
“Sejak awal Sanggar Tari Jaladri ingin melatih dan membimbing generasi muda untuk mengangkat, memelihara, dan melestarikan seni tari. Juga ingin membantu pemerintah daerah dalam melestarikan dan mengembangkan seni tari dan kebudayaan daerah,” ujar Ketua Sanggar Tari Jaladri, Tri Fadmawati, S.Pd.
Semula Eko Cahayo adalah ketua sanggar. Namun karena yang bersangkutan mutasi ke Demak, posisinya digantikan oleh Tri Fadmawati, S.Pd yang juga guru SDN 7 Karimunjawa. Sanggar ini mempunyai anak didik sebanyak 30 orang, mulai dari usia 5 tahun, usia SD, usia SMP, SMA, bahkan beberapa diantaranya sudah menikah.
Tujuan mereka mendirikan Sanggar Tari Jaladri adalah untuk melestarikan dan mengembangkan seni tari tradisional yang sangat beragam di kepulauan tersebut. Sebab penduduk Karimunjawa terdiri dari 6 suku yaitu suku Jawa, suku Bugis, Bajoe, Mandar, Buton dan suku Madura. Masing-masing tentu memiliki kekhasan sendiri.
Disamping itu Sanggar Tari Jaladri juga mengembangkan seni tari kreasi baru
Disamping itu juga berharap ada bantuan Kostum dari pemerintah daerah, karena selama ini untuk semua keperluan pementasan dan kehidupan sanggar hanya mengandalkan dari Kas yang di dapat dari pementasan,” ujar Tri Fadmawati, S.Pd.
“Kami berharap Indonesia segera pulih, sehingga kehidupan sanggar kami bisa berjalan dengan baik. Sebab selama ini hidup sanggar hanya mengandalkan dari pementasan. Untuk kebutuhan make up, properti, kostum, aksesoris dan semua kebutuhan pementasan kami dapatkan dari setiap pementasan. Kami tidak memungut biaya dari anak didik,” tutur Tri Fadmawati.***










