Global7.id, Jepara – Warga Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, mulai mematangkan persiapan tradisi tahunan Perang Obor 2026 yang akan digelar pada 24–25 Mei mendatang. Saat ini, proses pembuatan obor sebagai perlengkapan utama telah memasuki tahap krusial.
Tradisi yang menjadi bagian dari ritual Sedekah Bumi ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat, khususnya para pemuda dan sesepuh desa. Mereka bergotong royong menyiapkan bahan-bahan alami untuk memastikan kualitas obor tetap terjaga.
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan obor adalah blarak (daun kelapa kering) dan klaras (daun pisang kering). Blarak diikat kuat sebagai struktur utama, sementara klaras disisipkan untuk memicu api agar cepat menyala dan menghasilkan efek visual saat obor diadu.
Panitia menargetkan produksi sebanyak 400 obor pada tahun ini. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan, di mana sebanyak 40 peserta akan turun sebagai pemain. Setiap pemain diperkirakan menggunakan hingga 10 obor selama atraksi berlangsung.

Kualitas obor menjadi perhatian utama dalam persiapan. Ikatan blarak harus dibuat dengan tingkat kerapatan yang tepat agar api dapat menyala stabil, tidak mudah rontok, namun tetap memiliki ruang untuk “bernapas”.
Perang Obor Tegalsambi akan digelar selama dua hari dengan mengusung tema “Api Semarak, Tradisi Berkobar”. Kegiatan ini berlangsung di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, dan terbuka bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung tradisi budaya khas tersebut.
Sebagai warisan leluhur, Perang Obor tidak sekadar pertunjukan, melainkan simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi. Meski terlihat berbahaya, warga meyakini percikan api yang mengenai tubuh memiliki makna sebagai bentuk pembersihan diri dan “obat” secara spiritual.
Tradisi ini juga menjadi upaya menjaga nilai budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.










