Ngapunten Berasal dari Bahasa Arab? Inilah 6 Kata Serapan Arab ke Bahasa Jawa

Foto, penutup kepala dari budaya Jawa (Blangkon) dan penutup kepala dari budaya Arab.

Global7.id – Jepara,

Para penyebar agama Islam di Jawa mayoritas merupakan para pedagang. Ketika berdagang, mereka tidak membawa istrinya. Kemudian mereka menikah dengan wanita pribumi yang berasal dari keluarga bangsawan, dan sebagai syaratnya wanita tersebut harus terlebih dahulu memeluk Islam.


Dikutip dari buku Sejarah Wali Songo oleh Zulham Farobi (2019), penyebaran Islam di Jawa berjalan dengan damai. Para Wali Songo menyebarkan agama Islam dengan pendekatan budaya, yaitu dengan memadukan seni budaya lokal dengan ajaran Islam. Menurut B.J.O Schrieke, Islam masuk ke Jawa pada 1416, didasarkan pada berita Ma Huan.


 

Tokoh Wali Songo pertama yang menyebarkan ajaran Islam adalah Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Oleh sebab itu, Sunan Gresik dianggap sebagai wali pertama yang mengislamkan Jawa. Berkat Sunan Gresik, ajaran Islam pun mulai dikenal dan mengalami perkembangan yang signifikan di Pulau Jawa.

Dari hal itu muncullah sebuah kata serapan dari bahasa Arab yang kemudian ditiru dan diucapkan oleh masyarakat Jawa dengan logat bahasa Jawa. Berikut beberapa kata serapan dari bahasa Arab yang kemudian diucapkan oleh masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-hari.


 

1. Gapura

Gapura pada waktu itu adalah sebuah bangunan sebagai pintu masuk menuju masjid. Gapura berasal dari bahasa Arab Ghafura yang berarti Pengampunan. Zaman dulu sebelum masuk masjid ada sebuah kolam sebagai tempat bersuci.


 

2. Sekaten

Sekaten adalah sebuah perayaan Maulid atau kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Sekaten berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimah syahadat yang berbunyi, “Laa ila ha illallah Muhammadurrasulullah”.


 

3. Kalimasada

Pusaka Kalimasada dikenal sebagai ‘Pusaka’ yang sangat sakti. Konon istilah Pusaka Kalimasada dikenalkan pertama kali oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Kalimasada berasal dari kata (kalimat syahadat). Sebagai syarat masuk Islam.

Bacaan Lainnya

 

4. Ngapunten

Ungkapan minta maaf, “ngapunten”, itupun dari Bahasa Arab “afwun atau afwan”. Hanya karena ada intensi penghalusan, maka ditambahlah akhiran “nten”, dan hanya karena ada gambaran “perbuatan meminta”, maka ditambah pula awalan “Nga”. Sumber : (Buletin Jum’at Masjid Jendral Sudirman, Jum’at 7 Agustus 2015).


 

5. Ki Ageng atau Ki Gede

Dalam masyarakat Jawa seseorang yang mempunyai ‘keramat’ atau tokoh masyarakat yang disepuhkan biasa dipanggil dengan sebutan Ki Ageng/Ki Gede. Ada Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Giring dst. Hal ini sama dalam istillah Arab ‘As-Syaikh al-Akbar’.


 

6. Ketan/Kolak/Apem

Ketan dari kata khothoan, yang artinya kesalahan. Kolak dari kata qola/qowlan yang berarti berkata/perkataan. Apem dari kata, “Afwun, yang berarti permohonan maaf. Ketika dihidangkan atau disaling-tukarkan, ketan, kolak, apem sebenarnya sedang ditunjuk untuk menjadi juru bicara permohonan maaf atas kekhilafan dan kesalahan masing-masing pihak. Dikutip dari (Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman).***

Sumber: SB.

 

Pos terkait