Global7.id – Kudus,
Momentum Agustus-September menjadi berkah bagi Mbah Wan karena permintaan layang-layang meningkat tajam.
Mbah Wan atau Parwan, lansia asal Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus masih terlihat semangat menjadi seorang perajin layang-layang.
Meski usianya kini sudah memasuki 83 tahun, namun dia masih produktif mencari penghasilan dengan memanfaatkan skill membuat layangan.
Mbah Wan mengaku sudah 15 tahun menekuni kerajinan layang-layang yang terus memproduksi layangan dan masih terus mengalir sampai saat ini. Meskipun secara kuantitas mengalami penurunan seiring bertambahnya usia dengan segala keterbatasan tenaga.
Saat ini, dia bisa memproduksi 50 biji layangan biasa (kecil) atau dua biji layang-layang hias (jumbo) dalam satu hari.
Biasanya, Mbah Wan menyetok ratusan biji layang-layang untuk persiapan menyambut musim layangan di bulan Agustus-September.
“Paling ramai biasanya Agustus sampai September seperti sekarang ini. Sampai banyak yang kecelik mau beli, stok sudah habis,” terangnya, Senin (14/8/2023).
Mbah wan saat ini tidak menerima pesanan, dengan alasan tenaga yang ada tidak bisa lagi diforsir untuk produksi layang-layang setiap hari karena dia hanya sekadar memproduksi stok layangan semampunya untuk melayani pembeli langsung.
Tercatat sudah ada 150 biji layangan hias ukuran besar dan lebih dari 1.000 biji layangan biasa yang diproduksi sejak Desember 2022 – awal Agustus 2023 ludes terjual.
Layang- layang original (biasa) dibandrol dengan harga Rp 1.500 – Rp 2.000 per biji. Sedangkan layangan hias dibandrol mulai dari Rp 50.000 – Rp 150.000 per biji, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan dalam pembuatan.
Dari hasil penjualan periode Desember 2022 – Agustus 2023, Mbah Wan mengantongi omzet hingga Rp 20 jutaan.
Jumlah tersebut belum dipotong ongkos pembelian alat dan bahan-bahan pembuatan layangan seperti bambu, benang, lem atau perekat, dan plastik atau kain.
Semua bahan diambil dari wilayah Kabupaten Kudus saja. Terkadang, Mbah Wan memanfaatkan limbah kain atau kertas dan bambu sisa pembangunan untuk mendapatkan harga yang lebih murah.
“Biasanya kulakan bahan-bahan perlengkapan layangan di wilayah komplek Menara Kudus. Seringnya sekarang memanfaatkan bambu bekas bangunan dan kain perca dengan harga yang lebih murah,” ujar dia.
Layang-layang buatan Mbah Wan tembus pasar Kota Semarang, Jepara, Pati, dan beberapa daerah lainnya.
Saat ini, dia sedang bersiap untuk membuat 5 buah layang-layang hias berbentuk burung dan biasanya dia tak lupa selalu menjajal layang-layang buatannya untuk memastikan layangan bisa terbang.
“Sekarang stok sudah habis laku terjual semua. Mulai produksi lagi secara bertahap,” tuturnya.
Mbah Wan berharap, senantiasa diberikan kesehatan agar bisa tetap produksi layang-layang dalam beberapa tahun ke depan.***
Sumber: Tj.
Tag










