Global7.id – Nasional,
Media sosial kembali diramaikan perdebatan soal penghasilan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah video yang memperlihatkan seorang relawan membuka amplop berisi uang tunai mendadak viral dan memicu gelombang komentar dari berbagai kalangan.
Video tersebut diunggah oleh akun TikTok bernama Dua Putri. Dalam tayangan itu, sang pemilik akun terlihat tersenyum sambil perlahan membuka amplop cokelat yang disebutnya sebagai gaji pertama setelah bekerja selama 10 hari di dapur MBG. Ia kemudian menghitung lembaran uang pecahan Rp100 ribu, Rp50 ribu, Rp10 ribu, hingga Rp5 ribu dengan teliti.
Jumlah uang yang dihitung mencapai Rp1.320.000. Keterangan dalam video menyebutkan bahwa nominal tersebut merupakan hasil kerja selama 10 hari sebagai pegawai SPPG.
Unggahan ini dengan cepat menarik perhatian publik. Hingga Senin siang, 16 Februari 2026, video tersebut telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali dan memicu diskusi panjang di kolom komentar.
Warganet Terbelah: Ada yang Mendukung, Ada yang Membandingkan
Tak butuh waktu lama, berbagai respons bermunculan. Sebagian warganet menilai besaran upah itu cukup besar untuk durasi kerja yang relatif singkat. Perbandingan dengan profesi lain pun tak terhindarkan, terutama dengan guru honorer yang selama ini sering menjadi sorotan terkait rendahnya kesejahteraan.
Sejumlah komentar mengekspresikan rasa ironi. Ada yang menilai penghasilan tersebut bahkan lebih tinggi dibanding gaji bulanan guru honorer di sejumlah daerah. Pernyataan seperti ini kemudian memicu empati sekaligus perdebatan baru mengenai ketimpangan upah antar profesi.
Namun di sisi lain, banyak pula warganet yang mengingatkan agar tidak saling membandingkan pekerjaan. Menurut mereka, besaran gaji seharusnya dilihat berdasarkan beban kerja, tanggung jawab, serta kondisi lapangan yang dihadapi masing-masing profesi.
Sebagian komentar bahkan menekankan pentingnya rasa syukur dan penghargaan terhadap semua pekerjaan, tanpa harus menjadikan nominal gaji sebagai bahan perbandingan publik.
Fenomena Flexing Gaji di Media Sosial Kembali Diperdebatkan
Video tersebut juga memunculkan diskusi baru mengenai tren membagikan nominal penghasilan di media sosial. Ada yang menilai konten semacam ini transparan dan bisa menjadi motivasi bagi orang lain yang ingin bekerja di bidang serupa.
Namun tidak sedikit pula yang menganggap hal itu sensitif. Beberapa warganet berpendapat bahwa mempublikasikan gaji berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum merata.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga arena diskusi sosial yang bisa berkembang menjadi isu lebih luas, termasuk soal keadilan ekonomi dan penghargaan terhadap profesi tertentu.
Program MBG dan Sorotan Publik
Program Makan Bergizi Gratis sendiri selama ini menjadi perhatian masyarakat karena dianggap sebagai salah satu upaya meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Keberadaan relawan maupun pegawai dapur MBG memiliki peran penting dalam memastikan distribusi makanan berjalan lancar setiap hari.
Kinerja di dapur program seperti ini dinilai tidak ringan. Aktivitas dimulai sejak pagi, dengan ritme kerja cepat serta tuntutan kebersihan dan ketepatan waktu. Karena itu, sebagian warganet menilai upah yang diterima relawan masih dalam batas wajar apabila disesuaikan dengan beban kerja fisik yang dijalani.
Meski begitu, perdebatan tetap muncul karena publik cenderung melihat nominal semata tanpa memahami konteks pekerjaan di baliknya.
Mengapa Konten Seperti Ini Cepat Viral?
Pengamat media sosial menilai ada beberapa alasan mengapa video sederhana seperti membuka amplop gaji bisa meledak dalam waktu singkat. Pertama, isu penghasilan selalu dekat dengan kehidupan banyak orang. Kedua, adanya unsur emosional ketika profesi tertentu dibandingkan dengan profesi lain.
Selain itu, algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang memicu interaksi tinggi, termasuk komentar pro dan kontra. Semakin banyak perdebatan, semakin luas pula penyebaran video tersebut di beranda pengguna.
Pelajaran dari Viral-nya Gaji Relawan SPPG
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa isu kesejahteraan pekerja masih sangat sensitif di tengah masyarakat. Banyak orang merasa perlu didengar ketika membicarakan soal penghargaan terhadap profesi mereka.
Di sisi lain, viralnya video tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat semakin terbuka membahas transparansi pendapatan. Namun, diskusi yang sehat tetap membutuhkan empati agar tidak berubah menjadi ajang saling membandingkan atau merendahkan pekerjaan tertentu.
Apapun sudut pandangnya, satu hal yang jelas: konten sederhana tentang amplop gaji ini berhasil memantik percakapan nasional tentang nilai kerja, penghargaan profesi, dan dinamika sosial di era digital.
G7/GLN










