Tanah Longsor di Embung Kalimati Bapangan Jepara, Edi: Wartawan Kok Dianggap Penyidik?

Foto, tangkap layar dari video kejadian longsor di jalan menuju Embung Kalimati Bapangan Jepara yang beredar.

Global7.id – Jepara,

Ramainya pemberitaan media online tentang pengerukan tebing yang berada di tempat wisata Embung Kalimati, tepatnya RT03/RW05, kelurahan Bapangan, Jepara mengakibatkan longsor dan membuat pengguna jalan merasa kawatir dikarenakan hujan masih berlangsung.


 

Diketahui, jalan yang ada diatas tebing tersebut termasuk jalan Kabupaten dan sudah pernah dilakukan perbaikan oleh Disperkim Jepara sesuai SK Bupati.


 

Diberitakan sebelumnya, adanya kerusakan yang timbul (tanah longsor) membawa korban, karena longsor sudah sampai pada tepi jalan aspal, sampai saat ini pemilik lahan sudah sepakat dengan masyarakat sekitar untuk memperbaiki kondisi tanah, jalan serta drainase agar kembali seperti semula dengan kurun waktu pengerjaan 90 hari.

 


Jika dalam waktu tersebut tidak bisa dilakukan (belum selesai) maka pemerintah Daerah melalui Satpol PP akan memasang satpol line pada area lahan tersebut.


 

Selain itu, ada kerusakan jalan yang lebih parah lagi, yaitu jalan berlubang yang sangat memprihatinkan menuju arah Mlonggo, Bangsri, Kelet dan Keling.


Setelah itu, FKPM dari Desa Mambak dan relawan giat melakukan aksi peduli dengan penambalan jalan Jepara ke Bangsri. Hal tersebut terjadi, karena sebelumnya terjadi kecelakaan akibat jalan berlubang yang terjadi pada Senin (6/1/2025) dini hari yang merenggut nyawa Abdul Rohman (38), warga Dukuh Kiyong Sari Desa Sekuro Jepara.


 

Namun, beda halnya dengan berita tanah longsor yang ada di Embung Kalimati, kelurahan Bapangan, Jepara yang tidak banyak yang membantu pemberitaan, seolah-olah terkesan ada yang membungkam pemberitaan.


 

Edy Wibowo, Ketua DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Jepara mengecam keras adanya kerusakan dan longsor yang terjadi di tempat wisata Embung Kalimati, Bapangan.

Bacaan Lainnya

“Wartawan melakukan liputan dan pemberitaan tetapi ada juga suatu tugas besar di dalamnya, yaitu menjadi bagian dari kontrol sosial, ” ujarnya, Senin (13/1/2025).


 

“Jadi wartawan itu tidak hanya membutuhkan skill, tetapi juga bagian dari kontrol sosial. Wartawan juga tidak semata-mata ilmu menulis berita tetapi mendorong orang untuk berfikir dan kritis, ” imbuhnya.


 

Menurut Edi Wibowo, sebagai wartawan perlu mengetahui bahwa ilmu jurnalistik bukan semata-mata sebagai profesi dan mencari informasi, tapi ada suatu tugas besar di balik profesi itu, yakni membangun kesadaran masyarakat dan edukasi pentingnya informasi situasi yang sedang terjadi.


 

Selanjutnya, Edi Wibowo saat wawancara dengan pemilik lahan di lokasi Embung Kalimati yakni Sutikno, wartawan malah di anggap seperti penyidik.


 

Selain itu, Edi menjelaskan, “Ya, di grup WA (Panggung Rakyat Jepara) malah ditulis dengan judul “Mengaku Oknum Tukang Tulis Senior, Berlagak Seperti Penyidik saat Mewawancarai Narasumber di Sebuah Embung di Negeri Entah Berantah”, ” lanjutnya.


 

Kemudian, Edi menjawab tuduhan dari Sutikno, “Masa iya? seorang wartawan menemui nara sumber hanya sekedar ngopi, tanpa tanya jawab. Kalau pun pertanyaan ada yang tajam pada nara sumber itu tidak bisa di anggap sebagai penyidikan, jadi kita bisa belajar dari jurnalis Najwa Shihab yang terkenal tajam saat bertanya pada nara sumber, ” Puungkasnya.***


Sumber: L7.

Pos terkait