Suami Nikah Lagi, Seorang Istri Sedang Hamil Telah Habis Kesabarannya..

Foto, ilustrasi suamiku nikah lagi. Sumber: Emak Halu.

Global7.id – Cerita Keluarga,

“SUAMIKU MENGAJAK ANAK TIRIKU PERGI, TAPI KENAPA ALAMAT YANG DIA KASIH ADA ACARA PERNIKAHAN???”


Apa yang sebenarnya terjadi?

DISAAT KESABARANKU TELAH HABIS

Bab 1

“Mas, akhirnya kamu pulang. Kebetulan aku sudah masak makanan kesukaanmu.”

Senyum merekah tersungging di bibir Lina. Rasa rindu terpancar di sorot matanya pada Bayu sang Suami.


 

Wanita yang sedang hamil itu menyambut suami yang selama ini berjauhan karena Bayu bekerja di kota.


 

Pelayanan hangat dan ramah ia tunjukkan agar Bayu senang dan semakin mencintainya.


“Papa … Papa … hore Papa datang. Papa jadi kan ajak Dila ke kota?”


 

Lina tertegun bingung dan menatap Bayu, mendengar Dila–anak dari pernikahan Bayu sebelumnya– mereka menagih janji pada Bayu.


 

Bacaan Lainnya

“Apa maksud Dilla, Mas?” tanya Lina lalu teringat beberapa minggu lalu Bayu memang meneleponnya.


 

Bayu hanya berkata membutuhkan uang tapi tidak membahas akan membawa Dilla ke kota.


 

“Lin … mana uang yang mas minta? Persiapkan juga uang untuk Dilla karena dia akan mas ajak.”


“Tunggu, Mas. Kamu belum menjawab pertanyaanku.”


 

“Ah, kamu banyak tanya. Jadi istri itu nurut aja perintah suami bukan malah mencerca.”


 

Lina kaget, Bayu malah membentaknya. Tak ingin ada pertengkaran, Lina masuk kamar dan mengambil uang. Menyiapkan pakaian untuk Dilla putri tirinya.


 

Gadis kecil itu nampak bahagia, namun membuat kecurigaan Lina muncul dan bertanya-tanya.


 

Seperti ada yang Bayu disembunyikan darinya.


 

“Gimana, sudah siap?”

Bayu beranjak dari duduknya melihat Lina keluar dari kamar dengan membawa tas berisi baju-baju Dilla.


 

Dilla juga sudah cantik dan rapi didandani Lina, Ibu tirinya.


 

Lina melirik Bayu yang duduk di sofa seperti tamu yang sedang berkunjung, tidak seperti biasanya.


 

“Aku sudah siap, Pa.”


Dilla menjawab semangat.


Lina terdiam merasakan firasat buruk yang mungkin akan terjadi.


 

“Buat apa uang ini, Mas?” tanya Lina seraya menyerahkan uang untuk Bayu.


 

“Kamu tidak perlu tahu. Datang saja ke kota tiga hari lagi. Nanti kuberi tahu alamatnya,” sahut Bayu menerima uang dan memasukkan ke tas Dilla.


 

“Emang ada apa di sana?”

“Jangan banyak tanya! Cerewet banget kamu, bikin pusing aja!”


 

Lina menghela nafas mendengar jawaban suaminya, “Maaf, Mas. Nggak makan dulu, tho?” tawar Lina yang sudah susah payah memasak.


 

“Nggak usah. Aku buru-buru!” tolak Bayu.


 

Suami Lina itu lalu menggandeng Dilla keluar menuju mobil yang terparkir di luar pagar, tanpa menoleh lagi ke belakang.


 

“Mas Bayu … tunggu, Mas!”

Bayu tak memedulikan Lina dan terus melangkah.


 

Lina memegang dadanya yang terasa perih. Menatap punggung Bayu yang semakin menjauh.


 

Air mata menetes melihat Bayu pergi membawa Dilla tanpa alasan yang jelas.


 

Tubuh Lina luruh terduduk di lantai dekat pintu.


Kepulangan Bayu yang ia harap akan jadi pengobat rindu, justru sikap acuh dan dingin yang ia dapat.


 

Lina yang sedang hamil besar ingin sekali merasakan dimanja, disayang dan diperhatikan. Ditemani kontrol ke bidan atau sekedar ditanya bagaimana keadaan bayi dalam kandungannya.


 

Selama Bayu di kota pun tidak pernah menelepon menanyakan kabar kehamilannya.


 

Bayu hanya bilang tidak bisa pulang dan mentransfer uang yang cukup untuk kebutuhan Dilla saja.


 

Sedang untuk membiayai dirinya, Lina berjualan kue dan menerima pesanan kuliner dari para tetangga.


 

“Lho … suamimu mana, Nduk? Padahal mbok buru-buru pulang karena ingin melihatnya,” tanya si Mbok yang baru datang dari sawah sambil menyimpan alat bertani di tempatnya.


 

Dengan cepat Lina mengusap air matanya agar si Mbok tidak tahu ia tadi menangis. Susah payah Lina berdiri sambil memegangi perutnya yang buncit.


 

“Kamu nangis, ya, Nduk? Kenapa?”

Wanita sepuh yang itu curiga.


 

Sambil melangkah ke meja makan sederhana yang ada dalam rumah itu si Mbok mendekati Lina.


 

Kedua orang tua Lina sudah meninggal. Dan si Mbok yang tinggal satu desa dengan mereka lalu merawat Lina yang sudah menjadi yatim piatu.


 

“Cuma kelilipan Mbok. Lina temani makan, ya?” Lina duduk di samping si Mbok.


 

“Kok masih utuh? Suamimu belum makan? Dulukan suamimu, Nduk. Mbok nanti saja ….” Ucapan si Mbok mampu membuat hati Lina bergetar hebat.


 

Matanya sendu menatap si Mbok yang selalu mengajarkannya arti sebuah pengabdian.


 

“Mas Bayu sudah kembali ke kota membawa Dilla, Mbok.”


 

Lina terpaksa memberi tahu yang sebenarnya, meski berat. Lina tidak ingin membuat Mbok sedih seperti dirinya.


 

“Apa? Dilla ikut juga?” Si Mbok tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


 

“Ya, Mbok. Dilla nya juga maksa mau ikut. Tapi mas Bayu meminta Lina datang ke kota tiga hari lagi. Mungkin sekalian jemput Dilla pulang.”


 

“Oooh … yaweslah nanti bareng sama Pak Kardi saja. Biasanya kan Pak Kardi antar sayur ke kota.”


 

Si Mbok memang tipikal orang kampung yang lugu dan nerimo. Lina tidak melihat mimik curiga sedikitpun di rautnya. Pikiran si Mbok memang selalu pasrah dan legowo.


 

Setelah Mbok meninggal rumahnya, Lina mencuci piring dan setelah itu pergi ke kamarnya duduk di atas kasur berukuran 160. Linda kembali berfikir mengenai suaminya, memang betul sejak baru beberapa bulan di kota sikap suaminya menunjukkan perubahan. Jarang telpon, paling telpon bicara sama Dila, jika dirinya ingin mengontrol ada saja alasan suaminya untuk menolak, bilang, capek dan mau tidur.


 

Air mata Lina terus keluar melewati pipinya, kesedihannya saat ini tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata hanya diwakili oleh air yang terus mengalir deras matanya sampai dia lelah sendiri dan berbaring menutup matanya sampai sinar matahari pagi menyapanya.


 

Lina membuka matanya, dan bangun dari tidurnya menatap ke arah jendela. Cerahnya pagi hari tak secerah perasaannya yang saat ini membuatnya tidak nyaman.


 

Lina bangkit dari tempat tidurnya meskipun susah karena perutnya yang sudah sangat besar namun dia tetap berusaha. Dia harus melanjutkan harinya dan pekerjaannya sehari-hari membuat kue karena dari hasil itu dia bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

***


 

Bab 2

Tiga hari kemudian ….

Lina benar-benar berangkat ke kota dengan menumpang pick up milik Pak Kardi.


 

Kemarin Bayu juga sudah mengirim alamat yang akan ia tuju nanti. Perjalanan panjang membuat pinggang Lina cepat pegal. Tapi ia bersyukur kenal dengan Pak Kardi yang mengerti keadaannya yang sedang hamil tua.


Beberapa kali Pak Kardi mengajaknya beristirahat. Pria tua yang memberinya tumpangan itu seperti tidak tega melihat Lina.


Dalam hati ia mengumpati Bayu suami Lina.

***


 

Bab 3

“Pak sudah dekat, ya?” tanya Lina yang tidak paham jalan di kota.

“Ini sudah sampai, Lin. Tapi kok gedungnya dihias seperti ada acara pernikahan, ya? Kamu nggak salah alamat kan, Lin?”


 

“Ini Pak alamatnya.” Lina memperlihatkan ponselnya ke Pak Kardi.

“Iya, sudah benar, di sini alamatnya. Terus yang nikah siapa, Lin? Memang kamu diundang, ya?”


 

Pertanyaan Pak Kardi seperti menyadarkan Lina akan sesuatu.

Siapa yang menikah?
Kenapa Bayu memberi alamat gedung pernikahan ke Lina?


***

Penulis : Wiyaningsih.

Sumber: Emak Halu.

Pos terkait