Global7.id – Jepara,
Karya dua siswa yakni Shifa Nur Intania dan Lulu Ulmaknun dari MAN 1 Jepara, telah mendapat penghargaan tingkat kabupaten hingga nasional.
Mereka berdua lebih dari sebulan untuk menciptakan sebuah karya media tanam berbahan limbah mebel. Dari karyanya itu, salah satu dari keduanya mendapat kesempatan masuk kuliah tanpa tes.
Karya Media Tanam
Ide muncul dari serbuk gergaji dari beragam jenis kayu dikumpulkan Shifa Nur Intania dan Lulu Ulmaknun dalam wadah yang disimpan di laboratorium MAN 1 Jepara.
Serbuk-serbuk tersebut, didapatkannya dari beberapa industri mebel yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Serbuk tersebut, merupakan sisa dari bahan riset mereka yang telah sukses menciptakan sebuah nanocell hidroton, atau media tanam, yang berasal dari limbah mebel.
Diketahui, Hidroton atau lightweight expanded clay aggregate (LECA) atau expanded clay (exclay) adalah agregat ringan dibuat dengan memanaskan tanah liat pada suhu 1.200 C dalam rotary kiln.
Pemanasan dengan Gas menghasilkan gelembung tanah liat kecil. Hidroton adalah media tanam yg dpt dipakai berulang-ulang, Bentuknya yang tetap memungkinkan pertukaran oksigen dpt secara terus menerus, sehingga dpt menjaga kesehatan akar tanaman. Hidroton dapat digunakan untuk berbagai sistem hidroponik. Bentuk bulat merah seperti batu bata.
Berdasarkan pengalaman, penggunaan hidroton dalam pertanian dipandang lebih baik daripada menggunakan media hidroton padatan yang berukuran kecil seperti pasir malang, vermi kulit dan sejenisnya karena perkembangan akar yang leluasa dan menghindari clogging (penyumbatan) pada aliran nutrisi, terutama pada sistem drip tetes. Akar berkembang dan terhindar dari pembusukan akar akibat terendam nutrisi.
Karya ilmiah itu, tercipta setelah keduanya melihat banyaknya limbah mebel yang tak terpakai begitu saja. Entah itu di sekitar rumah Shifa di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara, atau di sekitar rumah Lulu di Desa Kecapi, Tahunan.
”Sebagian besar kalau selesai dibakar begitu saja,” ujar Shifa.
Senada dengan Lu’lu, Shifa menilai selama ini limbah kayu mebel berupa serbuk gergaji itu, tak ada harganya. Mereka pun berpikir keras, bagaimana bisa membuat terobosan menarik dari barang yang berharga, menjadi bermanfaat.
Akhirnya, setelah melakukan beberapa kali percobaan, mereka sepakat menjadikan limbah mebel berupa serbuk gergaji kayu untuk jadi media tanam.
”Kami riset selama kurang lebih sebulan untuk trial error dari komposisinya, bahan-bahannya. Kami memiliki pembaharuan. Dari biasanya hidroton menggunakan cocopeat kami gunakan limbah kayu mebel yang diformulasikan dengan limbah tanah liat,” jelas Shifa.
Hasilnya, karya mereka terbukti ampuh. Mereka melakukan uji coba dengan tiga pohon cabe rawit dengan media tanam yang berbeda. Hasilnya berupa nanocell hidroton, hidroton komersial dan hidroton tanah liat.
Dari ketiga variasi hidroton itu, cabe rawit yang ditanam di media nanocell hidroton ciptaan Shifa dan Lulu lebih subur.
”Catatannya cukup signifikan. Pertambahan daun, akarnya, cukup tinggi,” ungkapnya mereka berdua.
Atas capaian itu, mereka pun sepakat mengikutkan hasil karya ilmiah mereka itu ke beberapa ajang perlombaan di tangka kabupaten hingga nasional. Hasilnya, di tingkat Kabupaten Jepara di ajang Jepara Inovation Award. Keduanya diganjar juara harapan III.
Sementara di tingkat nasional dalam lomba Airnology yang diselenggarakan Universitas Airlangga Surabaya, kedua siswa kelas XII MAN 1 Jepara itu, mendapat juara II.
Tak hanya itu, prestasi tersebut dimanfaatkan oleh Lulu untuk mendaftar kuliah.
Hasilnya, ia diterima kuliah jurusan Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Semarang (Unnes) tanpa tes.
Sedangkan Shifa, memutuskan untuk mendaftar jurusan kedokteran di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.
Keduanya sepakat, hasil karya tersebut tak akan berhenti sampai di situ. Namun, mereka bertekad untuk bisa terus mengembangkan.***
Sumber: RK.










