Global7.id – Jepara,
Orang-orang akan berbondong ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih calon Bupati dan wakil Bupati di kabupaten Jepara pada tanggal 27 November 2024 (Pilkada serentak 2024).
Namun, tak jarang ditemukan pula ada orang yang ogah atau malas mengikuti ajang ini. Biasanya mereka disebut golongan putih (Golput). Lantas, pernahkah Anda terpikir kenapa mereka disebut golongan putih? Atau kenapa harus warna putih yang disertakan?
Perlu diketahui, awal mula golput dapat ditarik mundur ke tahun 1971. Saat itu sekelompok pemuda pimpinan Arif Budiman memproklamirkan gerakan moral bernama Golongan Putih. Gerakan ini timbul sebagai reaksi kekecewaan terhadap Pemilu 1971 yang tidak demokratis.
Pasalnya, dengan mekanisme Pemilu yang ditentukan, Golkar yang didukung oleh militer dan Presiden Soeharto bagaimanapun pasti bakal menang. Dalam pikiran mereka, ini sama saja mematikan kekuatan politik baru dalam Pemilu pertama era Orde Baru tersebut.
Atas dasar inilah mereka menyerukan Golput. Golput ditunjukkan bagi semua masyarakat yang tidak ingin memilih siapapun dalam Pemilu. Namun, mekanisme Golput bukan berarti tidak memilih sama sekali.
Masyarakat tetap datang ke TPS untuk mencoblos. Hanya saja yang dicoblos bukan nomor atau gambar partai, melainkan kertas putih di sekitar gambar. Hal ini membuat suaranya menjadi tidak sah dan mengurangi potensi penyalahgunaan kertas suara.
Seiring berjalannya waktu, gerakan Golput terus berlanjut tidak hanya di Pemilu 1971. Di seluruh Pemilu era Orde Baru, gerakan Golput selalu mengiringi sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pembungkaman demokrasi. Sampai Orde Baru berakhir dan diganti reformasi yang memberi kebebasan demokrasi, Golput masih tetap eksis dan jadi alternatif masyarakat menghadapi Pemilu.
Dari hasil informasi yang awak media terima, banyak sejumlah masyarakat Jepara yang mau memberikan hak suaranya apabila mendapat sejumlah uang yang diisi pada amplop.
Hal ini menunjukkan kekecewaan masyarakat Jepara akan kinerja Bupati menurutnya tidak ada perkembangan.
Salah satu warga Jepara yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, “Yo mas. Malas aku untuk ikut nyoblos Pemilu Bupati Jepara, kalau gak ada duitnya ya gak mau aku, ” ujar pria umur 30an, Senin (8/7/2024).
Selain itu, ada beberapa warga Jepara yang menjelaskan kenapa tidak mau memberikan hak suaranya pada Pilbup Jepara akan datang, “Gak mau mas, klo sudah jadi Bupati juga aku tetap aja nganggur. Cari pekerjaan sulit di Jepara. Ya terpaksa aku ngulik mas. Trus di Jepara Yo gak ada perubahan apa-apa,” kata pria umur 40an warga Jepara yang tidak mau disebutkan namanya.
Tak hanya itu, seorang ibu-ibu muda pun ikut apa kata suaminya yang golput saat pemilu, “Tetep Podo wae (sama saja) kalau Bupati Jepara yang lama dan baru. Bojoku yang kerjane serabutan. Dulunya natah (memahat kayu) terus nganggur dan kerja apa aja, kecuali aku dikasih duit ya baru mau tak coblos, ” tuturnya dengan nada malas soal politik.
Komentar lainnya pun di lontarkan perihal Pemilu Bupati Jepara mendatang, “Ada duit tak coblos. Wani Piro (berani berapa). Trus garap jalan area Mlonggo aja blom rak pecus, ” tulis komentar di group Facebook.
Itulah beragam alasan masyarakat Jepara yang memilih untuk golput dengan kekecewaan pada perkembangan kabupaten Jepara.***
Sumber: G7.










