Global7.id – Situbondo,
Desa di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, berubah mencekam pada Senin, 2 Februari 2026. Apa yang semula diduga hanya pertengkaran rumah tangga, meledak menjadi aksi kekerasan brutal berantai yang melukai banyak orang, termasuk anak-anak. Seorang suami tega membacok istri yang sedang hamil, lalu mengamuk ke lingkungan sekitar dengan senjata tajam.
Peristiwa ini menyisakan trauma mendalam bagi warga. Jerit minta tolong, darah yang berceceran, hingga kepanikan massal menjadi gambaran dini hari yang tak akan mudah dilupakan.
Istri Hamil Dibacok di Dalam Rumah
Pelaku berinisial TA (25), diduga kuat menganiaya istrinya SA (23) yang tengah hamil muda (sekitar 2 bulan). Sumber di lapangan menyebut, cekcok dipicu masalah ekonomi yang telah lama membebani rumah tangga mereka. Pertengkaran memanas dan berujung tindakan keji: pisau dapur diayunkan berkali-kali ke tubuh korban.
Akibatnya, SA mengalami luka serius dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif. Kondisinya sempat kritis. Kabar ini dengan cepat menyebar dan memicu kemarahan warga sekitar.
Kabur, Lalu Mengamuk Tanpa Kendali
Alih-alih menenangkan diri, TA melarikan diri dari rumah. Di luar dugaan, pelariannya berubah menjadi amukan brutal. Dengan membawa senjata tajam, pelaku menyerang siapa saja yang berada di jalurnya. Sedikitnya lima orang dilaporkan terluka mulai dari tetangga hingga anak-anak yang berada di sekitar lokasi.
Tak hanya melukai, pelaku juga merusak fasilitas warga. Pintu, etalase, dan properti umum dilaporkan hancur. Dalam kekacauan itu, TA juga diduga merampas sepeda motor milik warga untuk melanjutkan pelarian.
Ayah Pelaku Turut Terlibat
Situasi semakin runyam ketika ayah pelaku, Sam (50), ikut terseret dalam pusaran kekerasan. Berdasarkan keterangan kepolisian, Sam datang ke lokasi dan memukul salah satu warga, memicu pengeroyokan. Aksi ini menambah daftar korban dan memperkeruh suasana yang sudah panas.
Keterlibatan orang tua pelaku mempertegas bahwa insiden ini bukan sekadar KDRT biasa, melainkan kekerasan massal yang membahayakan keselamatan publik.
Warga Nyaris Main Hakim Sendiri
Amarah warga memuncak. TA dan ayahnya sempat dikepung massa yang nyaris melakukan tindakan main hakim sendiri. Beruntung, aparat bergerak cepat. Polisi dari Polres Situbondo turun tangan, mengevakuasi pelaku, dan menenangkan situasi agar tidak terjadi korban tambahan.
Dalam operasi pengamanan, polisi menyita sejumlah senjata tajam pisau, celurit, dan parang yang diduga digunakan pelaku saat mengamuk. Sepeda motor yang dirampas juga diamankan sebagai barang bukti.
Polisi: Murni KDRT, Dipicu Tekanan Ekonomi
Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan, menegaskan bahwa peristiwa ini berawal dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Faktor depresi akibat masalah ekonomi disebut sebagai pemicu utama yang membuat pelaku kehilangan kendali.
“Kasus ini kami tangani serius. Pelaku dan ayahnya telah ditahan dan akan dijerat pasal berlapis,” tegasnya. Keduanya kini mendekam di sel tahanan untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Jeratan Pasal Berlapis
Penyidik menyiapkan sejumlah pasal berat, antara lain:
- KDRT dengan korban istri hamil
- Penganiayaan berat
- Pengeroyokan
- Perusakan fasilitas warga
- Perampasan/penjarahan (terkait sepeda motor)
Ancaman hukuman belasan tahun penjara mengintai pelaku, terlebih karena korban utama adalah perempuan hamil dan terdapat korban anak-anak.
Trauma Warga dan Alarm Bahaya
Insiden ini menjadi alarm keras bagi masyarakat dan aparat. Kekerasan domestik yang tidak tertangani bisa berubah menjadi ancaman publik. Warga Besuki masih trauma; sebagian orang tua memilih menahan anak-anak di rumah, sementara tokoh masyarakat mendesak pendampingan psikologis bagi korban.
Aktivis perlindungan perempuan menilai kasus ini menunjukkan pentingnya deteksi dini konflik rumah tangga, akses bantuan ekonomi, dan layanan kesehatan mental. “Jika tekanan hidup dibiarkan menumpuk tanpa bantuan, ledakannya bisa memakan banyak korban,” ujar salah satu pemerhati sosial setempat.
Tragedi di Situbondo menorehkan luka mendalam. Seorang istri hamil menjadi korban kebrutalan suaminya, warga tak berdosa ikut terluka, dan anak-anak menjadi saksi horor yang tak seharusnya mereka lihat. Kini, publik menanti keadilan ditegakkan dan berharap kasus ini menjadi pelajaran agar KDRT tidak lagi dianggap urusan privat, melainkan kejahatan serius yang mengancam keselamatan bersama.
G7/GLN










