Minta Rujuk Setelah Tahu Lulus CPNS, Mila: Maaf, Aku Tak Mau Rujuk

Foto, tangkap layar dari penulis (Mila Agatha dirayu oleh keluarga mantan suaminya setelah tahu lulusan CPNS).

Global7.id – Cerita Keluarga,

Aku (Mila Agatha) dipulangkan secara hina, bahkan mahar dan hantaran yang pernah diberi pun diangkut kembali. Dua bulan kemudian setelah tahu aku lulus CPNS, mertuaku itu datang lagi dan meminta rujuk. Ia berjanji akan memperlakukanku dengan baik. Aku tak mau, setelah ku selidiki ternyata..?!


 

Perlu diketahui, setelah lulus seleksi CPNS, Anda akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pengangkatan ini ditandai dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan PNS. 


Sebelum diangkat menjadi PNS, Anda akan menjalani masa percobaan. Anda juga perlu mengikuti program Prajab untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang diperlukan untuk menjadi PNS yang profesional. 

Beberapa pekerjaan yang bisa Anda lakukan setelah lulus CPNS, di antaranya: 
  • Guru dan tenaga pendidik
  • Tenaga kesehatan
  • Administrasi dan kepegawaian
  • Teknologi informasi
  • Hukum dan kepolisian
  • Lingkungan dan kehutanan
  • Perencanaan dan pengembangan wilayah
  • Keuangan dan pajak
  • Diplomat
  • Peneliti di lembaga penelitian pemerintah

Seleksi CPNS merupakan proses yang kompetitif dan memerlukan persiapan yang matang. Jurusan kesehatan seperti kedokteran atau perawat memiliki peluang besar dalam seleksi CPNS. 

Selanjutnya…

“Bang Doni?! Apa yang kamu lakukan di sini?” Mataku membulat sempurna saat mendapati laki-laki tak punya hati itu serta dua orang laki-laki sedang sibuk memindahkan barang-barang dari mobil pickup ke teras rumah. Barang-barang yang sempat diambil paksa beberapa bulan yang lalu setelah mengucapkan talak.


 

“Akhirnya kau pulang, Mil.” Bang Doni tersenyum menatapku yang baru saja turun dari motor matic milikku. Raut wajahnya tidak seperti biasa. Biasanya anak itu selalu acuh dengan apapun. Dan, tak pernah kami bicara seperti ini. Sungguh aneh.


 

“Untuk apa barang-barang ini, Bang?” tanyaku lagi.

“Masuk dulu, Mil. Keluarga kita sudah berkumpul di dalam,” serunya.


 

“Kumpul? Keluarga kita? Maksudmu apa, Bang?” Alisku bertaut. Sebenarnya sudah muak bertemu dan bertegur sapa dengannya. Namun, ini gubuk kami. Tamu harus disambut bukan?

Bacaan Lainnya

 


“Masuklah dulu, Mil. Malu kita didengar tetangga,” ucapnya. Ku perhatikan sekitar memang sudah ada beberapa tetangga yang melirik kami. Di kampung ini hal sekecil apapun bisa menjadi tontonan besar. Maklum saja tidak ada hiburan lain.

 


Lagi-lagi aku dibuat bingung. Kenapa anak ini tiba-tiba berubah manis?

Aku manut, ku langkahkan kaki masuk ke rumah. Banyak alas kaki di luar, itu artinya di dalam sana sudah banyak orang. Bisik-bisik semakin terdengar saat kaki hampir menapak di ambang pintu membuatku semakin deg-degan. Ada apa gerangan?


“Assa …!”

Hah? Kejutan apa ini? Kenapa semua pada kumpul di sini.


 

“Duduk, Mil. Mantan mertuaku berseru. Ia tersenyum. Sesuatu yang tak pernah kudapatkan saat menjadi menantunya. Lia, Lani, Hendri, dan beberapa kerabat mereka sudah duduk dengan manis di ruang tamu yang beralaskan tikar. Mereka sempat menghadiahi ku senyuman, senyuman palsu tentunya.


 

Bang Doni pun ikut menyusul ku dari belakang. Dia duduk tepat di samping Pak Togar. Sementara aku, aku masih bingung akan duduk dimana.


 

“Alhamdulillah kamu pulang, Nak. Sudah selesai urusannya?” seru ibu mertuaku. Ku tatap dirinya sekilas dengan raut aneh. Sejak kapan dia mengetahui aku pergi karena sebuah urusan?


 

Akhirnya ku putuskan untuk duduk di samping Mamak dengan melewati para tamu-tamu itu.

“Ada apa ini, Mak?” bisikku pada Mamak setelah menjatuhkan tubuhku di atas tikar tepat di sampingnya.


 

“Dengarkan saja, Mil,” bisiknya.

“Jadi, Nang. Maksud kedatangan kami ke sini ….” Bukannya Mamak yang menjawab pertanyaanku, malah Pak Togar– Tulang (Paman) Bang Doni.


 

“Kami ingin meluruskan, memperbaiki, menjalin silaturahmi, sekaligus menjemput Boru kami kembali.” Boru (anak perempuan) dalam masyarakat Batak, si istri akan diangkat menjadi anak oleh saudara laki-laki dari pihak ibu mertua. Fungsinya sebagai pelindung, apapun yang terjadi di dalam rumah tangga kami hendaknya diberitahukan terlebih dahulu pada orang tua angkat itu.


 

“Jadi, Nang. Doni sudah menceritakan seluruhnya pada Bapak. Dia khilaf sampai memulangkan mu ke rumah mamakmu ini. Sebagai pengganti orang tuamu, Bapak meminta maaf sekaligus memintamu untuk ikut kembali pulang bersama kami,” ucap Pak Togar. Doni yang dimaksud diam menunduk di sudut ruang tamu ini.


 

Kembali pulang? Setelah mengucapkan kata kasar dan mengucapkan talak padaku, Bang Doni masih ingin aku pulang? Ingin merujuk ku begitu? Aneh, sekali?


 

“Kenapa baru datang sekarang? Maksudku kenapa baru sekarang datang meminta maaf?” tanyaku.


 

“Justru itu, Boru. Kalau tidak salah, lusa masa iddahmu akan berakhir. Jadi hari ini masih ada waktu untuk kalian kembali bersama. Tepat sekali di ruangan ini lebih dari dua orang saksi. Jadi Doni bisa merujukmu sekarang juga.” Aku tersenyum miring. Kenapa seperti dipaksa begitu rasanya? Pak Togar sampai tahu sedetail itu tentang masa Iddahku. Ah, tentu saja. Pak Togar pastilah sudah diberi tahu.


 

“Oh, iya, Bou dengar-dengar kamu akhirnya lulus CPNS itu, ya? Bou turut bahagia. Akhirnya doa Bou terkabul,” sela ibu mertuaku itu dengan lembut. Selembut sutra.


 

Doa Bou? Apa karena itu mereka ingin aku kembali? Karena akhirnya aku lulus CPNS? Doa Bou? Keren sekali, aku ingin bertepuk tangan. Aku ingin tertawa. Namun, aku masih menghargai Pak Togar, saudara laki-laki Bou Marta–mantan mertuaku yang disebut Tulang oleh Bang Doni dan saudara-saudaranya. Di dalam adat Batak, Tulang itu sosok yang amat disegani. Bahkan ada istilah yang dikenal di masyarakat Batak ‘Sambola Langit’ yang artinya ‘berkat dari Tulang setengah dari langit’. Jika baik hubungan dengan Tulang maka baiklah rezekinya, jika kita memuliakan Tulang maka mulia lah seluruh keturunannya. Namun, apa peduliku? Aku bukan menantang adat, tapi sakit hati yang kurasakan lebih dari apapun.


 

Aku bergeming. Tak berniat mengucapkan sepatah kata pun. Bukan karena takut, tapi aku sudah malas berhadapan dengan manusia-manusia seperti mereka.


 

“Mila, mamakmu pun sudah setuju. Dia pun ingin kalian kembali bersatu.” Melihatku yang tak berkutik, ia kembali berseru dengan nada yang lebih lembut. Bibirku tersungging. Banyak sekali drama yang dimainkan mantan ibu mertuaku ini.


 

Kerasukan jin baik darimana dia? Kenapa sikapnya berubah manis seperti ini? Ah, iya, tentu karena ada maunya. Bukankah saat meminang ku pun dulu sikapnya seperti ini? Manis, semanis gula. Mereka sekeluarga memang pintar bermain drama. Cocoknya menjadi pemain sinetron saja.


 

“Mil ….” Kali ini Mamak yang berseru. Ia meraih tangan kananku lantas mengelusnya. “Pertimbangkanlah, Boru. Maksud mereka baik. Keluarga suamimu sudah sampai membawa Tulang m serta para kerabat, itu artinya kedepan kau akan diperlakukan dengan baik. Ingat pesan Mamak dulu, Nang, di dalam rumah tangga itu ada beragam cobaan. Tidak melulu manis. Ada pahit, asam, apalagi pernikahan kalian masih berjalan sekian bulan. Kalian itu dijodohkan, kalian belum mengenal satu sama lain. Kalian harus belajar saling memahami,” terang Mamak setengah berbisik. Ah, andai Mamak tahu sumber dari masalah rumah tanggaku bukan hanya dari menantunya itu.

 


Ku ulas senyum tipis pada Ibu yang melahirkan ku itu sebagai pertanda bahwa aku tetap kekeuh pada pendirianku untuk tidak akan rujuk dengan laki-laki tak punya hati itu. Lagi pula rasanya cukup aneh. Sepertinya Mamak begitu takut. Apa sebelum kedatanganku tadi mereka sudah mengancamnya?


 

“Mil, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kami menyayangimu, Nang. Yang kemarin itu hanya khilaf. Bou minta maaf soal itu. Tolong jangan diambil hati. Bou mengaku salah atas itu.” Aku jelas syok. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu setelah menghinaku dan seluruh keluargaku.


 

“Nah, Mil, mertuamu sudah meminta maaf. Itu sudah lebih dari cukup. Bapak jamin masalah ini tak akan pernah terulang. Kamu tahu ‘kan dalam adat kita, jika sampai kejadian yang sama terulang kembali maka tidak ada pilihan lain selain cerai. Kami akan menanggung malu. Ya, Nak Mil, ya. Bisa kan kalian bersatu lagi?

 


Lagipula Nak Mila tahu ‘kan siapa Bapak di kampung ini?” tutupnya dengan raut yang sulit ku artikan. Dia menatapku dengan tatapan entah, lantas tersenyum. Senyum yang sulit kuartikan.


 

Apakah itu artinya dia sedang mengancamku??

Bersambung…

Jangan lupa tinggalkan jejak ya.

Boru, sebutan orang tua untuk anak perempuan. Nang juga sama, panggilan untuk anak perempuan juga, namun lebih kepada panggilan sayang.***

 

Penulis: Khaurinoer.

Pos terkait