Global7.id – Nasional,
Situasi energi global kembali memanas pada Jumat, 27 Maret 2026, setelah kapal tanker milik Pertamina dilaporkan tidak dapat melintasi Selat Hormuz jalur penting yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah disebut sebagai penyebab utama terganggunya arus logistik energi global.
Selat Hormuz sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu choke point paling strategis di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. Gangguan di titik ini langsung memicu kekhawatiran pasar internasional.
Prabowo Instruksikan Langkah Cepat
Merespons kondisi tersebut, Presiden terpilih Prabowo Subianto langsung mengambil langkah sigap. Ia menginstruksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, untuk segera mencari alternatif pasokan minyak mentah dari berbagai negara.
Instruksi ini menjadi bagian dari strategi darurat pemerintah dalam mengantisipasi potensi krisis energi akibat terganggunya rantai pasok global. Pemerintah menilai langkah cepat sangat diperlukan agar dampak tidak meluas ke dalam negeri.
Pemerintah Buka Opsi Impor dari Negara Lain (27 Maret 2026)
Menindaklanjuti arahan tersebut, Bahlil Lahadalia pada 27 Maret 2026 menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah negara produsen minyak. Selain itu, penjajakan kerja sama baru juga terus dilakukan.
“Kami membuka semua opsi, termasuk diversifikasi sumber impor agar tidak bergantung pada satu jalur distribusi saja,” ujarnya.
Langkah ini dinilai penting mengingat kondisi geopolitik yang masih dinamis dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Baca Juga: Ramadan Belum Usai, Impor Minuman Keras dari AS Tuai Polemik, Prabowo Disorot usai MUI Bersuara
Ketergantungan Impor Jadi Tantangan Besar
Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar. Data Kementerian ESDM menunjukkan sebagian kebutuhan energi nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Akibatnya, gangguan pada jalur utama seperti Selat Hormuz dapat memberikan dampak signifikan, baik terhadap ketersediaan pasokan maupun harga energi di dalam negeri.
Stok Energi Nasional Masih Aman Sementara
Meski situasi global memanas, pemerintah memastikan bahwa kondisi pasokan energi nasional masih dalam keadaan aman untuk sementara waktu. Cadangan yang tersedia dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek.
Namun demikian, pemerintah tidak ingin mengambil risiko jika kondisi memburuk. Oleh karena itu, langkah antisipatif terus dilakukan agar ketahanan energi tetap terjaga.
Diversifikasi dan Energi Domestik Jadi Kunci
Para analis energi menilai diversifikasi pasokan menjadi langkah krusial dalam menghadapi ketidakpastian global. Selain itu, penguatan energi dalam negeri juga perlu dipercepat.
Pemerintah saat ini juga terus mendorong peningkatan produksi domestik serta pengembangan energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Dampak Global Bisa Menjalar ke Indonesia
Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas energi sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Gangguan di satu titik strategis seperti Selat Hormuz dapat berdampak luas hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga minyak dunia akan mengalami lonjakan yang berimbas pada harga BBM dalam negeri.
Imbauan: Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Di tengah situasi ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Distribusi BBM masih berjalan normal dan stok dalam kondisi terkendali.
Dengan langkah cepat dari Prabowo Subianto dan koordinasi intensif oleh Bahlil Lahadalia, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tetap terjaga meski dunia tengah menghadapi ketidakpastian.
G7/KMP










