Global7.id – Jepara,
Keresahan pedagang Pasar Jepara 2 kembali memuncak. Isu lama tentang hilangnya barang dagangan, termasuk alat timbang dan perlengkapan jualan, kini mengarah pada tudingan serius terhadap penjaga malam berinisial K. Yang lebih memprihatinkan, para pedagang menyebut kepala pasar tidak berani bertindak, bahkan terkesan melempar tanggung jawab.
“Kami sudah lelah dan kecewa. Bukannya dilindungi, malah kami merasa dibiarkan,” ujar C sebagai pedagang kepada awak media Global7, Kamis (7/8).
Menurut para pedagang, setiap laporan kehilangan yang disampaikan kepada kepala pasar tidak pernah ditindaklanjuti. Kepala pasar selalu menyatakan bahwa urusan keamanan bukan tanggung jawabnya, melainkan tanggung jawab penjaga malam dan pengurus paguyuban, karena penjaga malam ditunjuk langsung oleh paguyuban, bukan oleh pihak pasar.
“Setiap kali kami lapor, jawabannya cuma satu Itu urusan paguyuban, bukan saya.’ Jadi untuk apa ada kepala pasar kalau tidak bisa menjaga keamanan?” kata C pedagang dengan nada kesal.
Lebih mengejutkan lagi, para pedagang menyebut kepala pasar takut menegur penjaga malam, yang diduga kuat sebagai aktor utama di balik hilangnya barang barang dagangan mereka. Ketakutan ini menurut mereka bukan karena kurang bukti, tetapi karena ketergantungan struktur pengelolaan pasar terhadap paguyuban, sehingga kepala pasar hanya berani ‘ikut arus’.
Saat dikonfirmasi, kepala pasar B membenarkan pernyataan tersebut, bahwa penjaga malam adalah “produk lama dari paguyuban” dan karena itu segala bentuk pelaporan harus diarahkan ke ketua paguyuban. Bahkan, ia mengaku sudah beberapa kali mengadakan rapat dengan pihak-pihak terkait, termasuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas, namun tidak ada perubahan nyata.
“Sudah sering dirapatkan, baik di kantor pasar maupun di Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Tapi hasilnya ya begini-begini saja,” ucap B kepala pasar dengan nada pasrah.
Namun hari ini Kamis 7/8 rapat lanjutan antara pedagang, kepala pasar, dan pengurus paguyuban digelar kembali. Dalam rapat tersebut, akhirnya disepakati bahwa 1 dari 5 penjaga malam akan diganti, sebagai solusi awal. Calon pengganti akan diusulkan oleh paguyuban dan diajukan ke Dinas Perindag untuk disetujui.
“Kalau nanti masih ada kehilangan, kami akan ganti kelima-limanya,” tegas B, kepala pasar.
Meski begitu, pedagang belum sepenuhnya puas. Mereka masih meragukan apakah langkah ini benar-benar akan mengubah keadaan atau hanya meredam kemarahan untuk sementara waktu. Terlebih, kriteria penjaga malam profesional yang dimaksud pun belum jelas, dan baru akan dibahas kemudian.
Pedagang pasar yang tergabung dalam paguyuban berjumlah sekitar 1.300 orang, dengan kewajiban iuran bulanan sebesar Rp10.000–Rp15.000. Sementara itu, retribusi resmi yang ditarik oleh petugas pasar mencapai Rp1,7 juta per hari dari lapak los dan Rp25–30 juta per bulan dari kios.
Dengan perputaran dana sebesar itu, para pedagang menilai tidak ada alasan bagi pihak pengelola untuk lalai dalam menjamin keamanan. Mereka menuntut adanya perjanjian kerja resmi bagi penjaga malam, yang memuat tanggung jawab, sanksi tegas, dan sistem evaluasi berkala.
“Pasar ini milik rakyat, bukan milik segelintir oknum yang bermain aman demi jabatan,” ucap C lantang saat rapat.
Kini, seluruh mata tertuju pada implementasi hasil rapat hari ini. Apakah benar akan ada perubahan? Atau, akankah Pasar Jepara 2 tetap menjadi ladang pembiaran dan ketakutan?
Masyarakat khususnya pedagang menanti jawaban yang nyata, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.
G7/AR










