Kegelisahan RA Kartini dalam Belajar Islam

Foto, lukisan Raden Ajeng Kartini Jepara

Global7.id – Jepara, 

Beberapa pengamat memaknai “Door Duisternis Tot Licht”, (Habis Gelap Terbitlah Terang) merupakan jabaran dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 257, “minazhzhulumaati ilannuur”.

 


“Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman)”, QS. 2 : 257.


 

Mengada-ada atau klaim belaka? Bukan, sejarah mencatat karena “rengekan” Kartini, kepada Kyai Sholeh Darat, setelah mendengar Kyai tersebut mengurai makna surat Al-fatihah, maka Kartini meminta agar sang Kyai menerjemahkan Al-Qur’an.


 


Permintaan ini dikabulkan (terjemahan Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa. dalam huruf arab pegon).

Terjemahan hanya sempat tertulis 13 juz dari 30 juz lengkap dari Al-Quran, dan diberi hadiah oleh sang Kyai sebagai kado pernikahan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

 



Perubahan cara pandang Kartini setelah bisa mendengar dan membaca terjemahan Al-quran menjadi berbeda

Bacaan Lainnya

 

Awalnya dengan kegelisahan hati, dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”


 

“Al-Quran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca”.

 


“Aku pikir, adalah orang gila diajarkan membaca tapi tidak diajarkan makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya”.

 



Pandangan ini berubah setelah bertemu dan dengan proses panjang Kartini akhirnya mendapat terjemahan Al-Qur’an dari Kyai Sholeh Darat.

 


Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh Darat adalah surat Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat lainnya, karena Kyai Sholeh Darat sudah meninggal dunia.

 



Melalui kitab itu Kartini merasa tersentuh pada QS 2: 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-zhulumaati ilan Nuur), karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

 


Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis; “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang islam sebagai agama yang disukai”.


 

Sedangkan, dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.”

 


Sumber: (Dari berbagai sumber).
Ditulis oleh: Purnomo aktivis Pembina Pengawasan Korupsi dan Pungli (PKP). Cabang Jepara.


Tag

Pos terkait