Global7.id – Jepara,
Di Jepara, kota yang tak hanya dikenal dengan ukiran tetapi juga industri garmen yang terus tumbuh, perempuan menjadi tulang punggung utama. Ribuan dari mereka duduk berjejer di hadapan mesin jahit, dari pagi hingga senja, menghasilkan produk untuk pasar lokal hingga mancanegara. Penyerapan tenaga kerja perempuan di sektor ini jauh melampaui laki-laki. Sebuah fakta yang di satu sisi membanggakan, namun di sisi lain memunculkan pertanyaan mendalam benarkah ini emansipasi, atau justru bentuk perbudakan baru yang terselubung?
Raden Ajeng Kartini, yang lahir dan tumbuh di Jepara, pernah bermimpi tentang perempuan yang merdeka. Merdeka dalam berpikir, berkarya, dan menentukan jalan hidupnya. Ia menggugat kungkungan budaya dan pendidikan yang membatasi perempuan hanya di ruang domestik. Namun lebih dari seabad sejak surat-suratnya mengguncang kesadaran bangsa, apakah cita-cita Kartini telah benar-benar menyatu dalam kehidupan buruh perempuan Jepara hari ini?
Realitanya, banyak buruh perempuan masih bekerja dalam tekanan target produksi yang tinggi, dan minim perlindungan atas hak-hak dasar. Cuti melahirkan kerap diabaikan,cuti hari raya juga tak di terapkan, gaji lembur yang tak di berikan,status buruh kontrak, belum lagi diskriminasi yang sering luput dari penanganan serius. Emansipasi sejatinya bukan sekadar partisipasi dalam dunia kerja, tetapi juga keberdayaan dan perlindungan atas hak-hak asasi.
Ironisnya, perempuan mendominasi jumlah tetapi belum tentu suara. Keberadaan mereka penting bagi ekonomi industri, namun posisi tawarnya masih lemah. Dalam struktur manajemen, posisi strategis masih didominasi laki-laki. Dalam serikat pekerja, suara perempuan sering kalah keras dari tuntutan umum.
Apakah ini yang diinginkan Kartini? Ataukah kita sedang melanggengkan sistem yang hanya mengganti kandang tetapi tetap membatasi kebebasan?
Hari ini, saat kita kembali mengenang Kartini, mestinya kita tidak cukup hanya mengaguminya dalam balutan kebaya. Kita harus menyoroti nasib ribuan “Kartini” di pabrik-pabrik garmen yang menjadi denyut nadi ekonomi Jepara. Sudah saatnya kebijakan tenaga kerja lebih berperspektif gender; menempatkan perempuan tidak hanya sebagai buruh, tetapi sebagai subjek pembangunan yang sepenuhnya dihargai.
Kartini memang lahir di Jepara, tetapi jangan biarkan semangatnya mati di balik deru mesin. Mari kita hidupkan kembali cita-cita besarnya agar emansipasi benar-benar bermakna, bukan sekadar simbol dalam statistik tenaga kerja.***
Sumber: G7/Redaksi.










