Global7.id – Jepara,
Kondisi pendidikan di Kabupaten Jepara kembali menjadi sorotan. Data terbaru dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara menunjukkan, sebanyak 5.026 anak di Bumi Kartini masih belum mengenyam pendidikan formal.
Angka tersebut terdiri dari 1.052 anak yang sama sekali tidak pernah sekolah, serta 1.661 anak yang putus sekolah (drop out). Sementara itu, 2.313 anak lainnya tercatat masih berpeluang melanjutkan sekolah.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal Disdikpora Jepara, Aries Nurwiyanto, menjelaskan bahwa data itu merupakan hasil validasi terakhir per 6 Oktober 2025 dengan rentang usia 7–18 tahun.
“Dari hasil validasi, 26,5 persen atau 1.330 anak tidak sekolah karena sudah bekerja. Sebagian lain karena keterbatasan biaya, disabilitas, hingga tidak adanya kemauan untuk sekolah,” ungkap Aries, Sabtu (1/11/2025).
Fakta tersebut membuat banyak pihak prihatin. Pasalnya, Jepara selama ini dikenal sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia (IPM) yang cukup tinggi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang tertinggal dari sisi pendidikan.
Disdikpora mengaku telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga Satkordikcam (Satuan Koordinasi Pendidikan Kecamatan), untuk mencari solusi konkret dalam menangani Anak Tidak Sekolah (ATS).
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan ATS ini harus dilakukan bersama-sama, termasuk melibatkan masyarakat dan dunia usaha,” tambah Aries.
Setelah melakukan validasi tersebut, lanjut Aries, Disdikpora Jepara sudah berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Diantaranya dengan pihak pemerintah desa, Kecamatan dan Satkordikcam.
“Nantinya, penanganan anak tidak sekolah (ATS) dilakukan bersama-sama,” kata dia.
Namun sebelum itu, Aries menyatakan, data itu masih akan dilakukan verifikasi lagi untuk memantapkan data. Kini verifikasi masih berjalan dan ditargetkan rampung pada pekan depan.
Selama proses verifikasi itu, para anak tidak sekolah (ATS) juga dilakukan upaya pendekatan agar mereka bisa kembali ke bangku sekolah. Untuk anak yang kembali berminat sekolah, akan dimasukkan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tanpa dipungut biaya.
“Sedangkan bagi anak yang memang tidak mau sekolah, nantinya data itu akan dilaporkan dulu kepada bupati. Soal penanganannya seperti apa, nanti kita tunggu arahan pak bupati,” pungkas Aries.
Dengan jumlah 5.026 anak tidak sekolah, Jepara kini dihadapkan pada pekerjaan besar: memastikan seluruh generasi mudanya mendapatkan pendidikan layak agar tidak tertinggal dalam arus kemajuan zaman.
G7/MN










