Global7.id – Jepara,
Jepara kota ukir ternyata mempunyai sejarah yang panjang dan tradisi adiluhung. Di Jepara juga kaya dengan macam tradisi yang dijaga turun temurun. Salah satu tradisi dari Jepara adalah sedekah bumi Jembul Tulakan.
Tradisi Jembul Tulakan sudah diakui sebagai warisan budaya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tradisi ini masuk dalam kategori warisan budaya tak benda (WBTB) tingkat nasional tahun 2021.
Tradisi yang dilakukan setiap Senin Pahing pada bulan Apit ini bermula dari mimpi beberapa warga desa secara bersamaan. Hingga saat ini, Tradisi Jembul Tulakan masih terus dilestarikan.
Asal Usul Tradisi Jembul Tulakan
Jembul Tulakan merupakan tradisi budaya yang ada di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Bermula dari mimpi delapan warga desa setempat pada saat yang bersamaan, tepatnya pada Jumat Wage.
Mereka bermimpi Ratu Kalinyamat meminta kepada mereka untuk mencari dan merawat tempat pertapaannya. Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan sebagai usaha mencari keadilan atas kematian suaminya yang dibunuh oleh Arya Panangsang.
Pertapaan ini berada di Pedukuhan Alas Tuwo (sekarang Desa Tulakan) tempat mereka tinggal. Tempat itu pun mulai dicari dengan petunjuk dari hasil melakukan tirakat. Mereka mendatangi tempat-tempat yang dianggap wingit.
Hingga akhirnya ditemukan tempat yang dianggap sebagai lokasi Ratu Kalinyamat bertapa. Dalam tempat itu ditemukan dua buah tabung bambu yang berisi catatan kisah pertapaan Ratu Kalinyamat dan satunya lagi berisi rambut sangat panjang yang diperkirakan milik Ratu Kalinyamat.
Sejak saat itu, setiap Senin Pahing bulan Apit (Zulkaidah) diselenggarakan syukuran berupa sedekah bumi. Acara ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki yang diberikan pada penduduk Alas Tuwo (Tulakan). Sebelum syukuran juga diadakan acara manganan di tempat pertapaan Ratu Kalinyamat di Jumat Wage.
Arti Jembul Tulakan
Sedekah bumi ini dilakukan dengan membawa berbagai makanan kecil ke rumah Ki Demang (pemimpin desa) yang sudah memimpin padukuhan. Makanan itu diletakkan dalam dua ancak dengan menambahkan belahan bambu tipis di atas makanannya sebagai simbol rambut jambul. Ancak dengan rambut jambul ini dinamakan Jembul Tulakan.
Jembul merupakan lambang dari perkataan Ratu Kalinyamat saat melakukan pertapaan, yaitu ora pati-pati wudhar tapaningsun yen during keramas keset jumbule Arya Panangsang (tidak akan menyudahi tapa kalau belum keramas dengan darah dan keset rambut Arya Penangsang).
Diakui sebagai Warisan Budaya
Tradisi Jembul Tulakan ini sudah mendapatkan sertifikat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) tingkat nasional pada tahun 2021.
Tradisi ini didaftarkan atas inisiatif Pemkab Jepara bersama dengan dua tradisi lainnya, yaitu Lomban dan Perang Obor. Dengan dinobatkannya sebagai warisan budaya, Tradisi Jembul Tulakan ini memperoleh perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Meriahnya Tradisi Jembul Tulakan
Tradisi ini diawali dengan mencuci kaki kepala desa dengan kembang setaman yang dilakukan oleh perangkat desa. Kegiatan ini digunakan sebagai simbol kepada Ratu Kalinyamat. Setelahnya, dilakukan selamatan sebagai permohonan untuk Desa Tulakan kepada Tuhan.
Acara ini dilakukan dengan mengitari Jembul sebanyak tiga kali sebagai inti dari tradisi ini. Pengitaran Jembul dilakukan oleh petinggi dan diikuti oleh ledek atau penari tayub dan perangkat desa.
Jembul ini berupa gunungan yang berisi berbagai makanan seperti nasi, gemblong, jenang, tape, dan makanan tradisional lainnya. Di atas gunungan tersebut terdapat patung yang menyimbolkan seorang tokoh bernama Sayyid Usman, seorang ulama yang menyertai Ratu Kalinyamat saat bertapa di Siti Wangi. Kemudian Jembul diarak oleh seluruh masyarakat Desa Tulakan.
Selanjutnya dilakukan acara Resikan sebagai penutup Tradisi Jembul Tulakan. Seluruh masyarakat Desa Tulakan bersama-sama membersihkan tempat yang telah dipakai untuk melakukan tradisi. Hal ini ditujukan sebagai bentuk pengusiran terhadap penyakit dan tindak kejahatan dari Desa Tulakan.***
Sumber: Merdeka, Antara.
Tag










