Global7.id – Redaksi,
Perayaan HUT ke-80 Jawa Tengah lewat acara Mlaku Bareng di Jepara seharusnya menjadi panggung kebanggaan kita. Namun, yang tersaji justru 10 ribu mangkok soto hidangan yang tidak punya ciri khas Jepara. Di mana identitas kuliner kita?
Jepara bukan sekadar lokasi acara. Jepara adalah tuan rumah! Dan sebagai tuan rumah, kita punya hak sekaligus kewajiban untuk menonjolkan kekayaan budaya kita sendiri. Salah satu simbol kebanggaan itu adalah horok-horok hidangan khas Jepara yang unik, berbahan dasar sagu, dan tidak dimiliki daerah lain.
Mengapa horok-horok? Karena kuliner bukan hanya soal kenyang, tapi soal identitas. Horok-horok adalah cerita panjang tentang ketahanan pangan, kreativitas masyarakat tengger , dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Jika bukan kita yang mengangkatnya, siapa lagi?
Bayangkan jika 10 ribu porsi horok-horok tersaji di Alun-Alun Jepara kemarin. Bukan hanya perut yang terisi, tapi kebanggaan kita pun ikut mengalir. UMKM lokal ikut bergerak, petani sagu tersenyum, dan wisata kuliner Jepara mendapat sorotan. Itulah yang seharusnya terjadi.
Acara besar seperti ini harus jadi momentum untuk menonjolkan identitas lokal, bukan sekadar mengikuti menu umum yang bisa ditemui di kota mana saja. Kita tidak menolak soto, tetapi Jepara punya horok-horok ikon yang seharusnya diperjuangkan.
Semoga ke depan, ketika Jepara kembali dipercaya menjadi tuan rumah, tidak ada lagi keraguan. Sajikan yang terbaik dari kita, untuk kita, dan untuk Jawa Tengah. Horok-horok adalah Jepara, dan Jepara harus bangga!
G7/AR










