Global7.id – Editorial,
Editorial edisi 10/8/2025.
Hadiah Pahit Menjelang 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia
Delapan dekade merdeka, tapi bangsa ini rupanya masih saja diperbudak oleh lingkaran setan perjudian online. Menjelang perayaan kemerdekaan ke-80, Polda DIY mengumumkan penangkapan lima pelaku judi online di Bantul. Publik tentu mengapresiasi penegakan hukum tetapi juga mengerunyit: mengapa yang ditangkap justru para “pengail di kolam keruh” bandar, bukan hiu-hiu besar yang menguasai samudra bisnis haram ini?
Pernyataan resmi kepolisian terdengar tegas: semua yang terlibat, dari pemain hingga bandar, akan diburu. Namun, rekam jejak penindakan mengisyaratkan cerita lain. Bandar besar seperti hantu, semua tahu mereka ada, tetapi selalu luput dari jaring hukum. Sementara itu, yang tertangkap hanyalah nelayan kecil yang sekadar memanfaatkan celah promosi di situs situs judi untuk mengais keuntungan receh.
Ironisnya, dalam kasus ini yang disebut “korban” justru adalah bandar judi itu sendiri. Para pelaku tidak merampok uang rakyat, tidak menipu nasabah bank, tapi menguras deposit promosi milik bandar. Bagi publik, ini seperti maling memalak copet , sama sama salah, tapi tak sebanding dengan dalang yang menciptakan pasar haram ini.
Modus mereka memang rapi dan terorganisir, belasan akun per orang, dimainkan setiap hari, menghasilkan puluhan juta per bulan. Secara hukum, ya, itu pelanggaran. Tetapi, apakah menumpas ranting kecil akan membuat pohon busuk ini tumbang? Tentu tidak. Bandar besar tetap beroperasi, situs-situs tetap online, uang haram tetap mengalir.
Yang membuat publik semakin heran, penangkapan pemain ini bahkan melibatkan unsur intelijen. Pertanyaannya, seberbahaya itukah para pemain ini hingga harus diintai sedemikian rupa? Apakah mereka lebih mengancam daripada bandar yang mengedarkan racun digital ke jutaan rakyat? Ada apa sebenarnya di balik prioritas penindakan ini?
Menjelang 80 tahun kemerdekaan, bangsa ini berhak mendapatkan hadiah yang lebih besar daripada sekadar penangkapan pemain kelas teri. Hadiah itu adalah keberanian menutup semua situs judi, memutus aliran uang raksasa, dan menjerat para bandar yang selama ini seperti kebal hukum. Tanpa itu, “kemerdekaan” dari perjudian online hanyalah slogan kosong dan publik akan terus bertanya siapa sebenarnya yang merdeka?.
Redaksi Global7.id










