Gokil, Akbar El Ramadhan asal Jepara Peraih Juara I Kontes Kartun dan Komik Internasional

Foto, Akbar El Ramadhan tunjukkan prestasi.

Global7.id – Jepara,

Satu lagi putra daerah Jepara yang berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional, yakni Akbar El Ramadhan yang memiliki kegemaran menggambar sejak kecil di tembok rumahnya.

Orang tua dari Akbar El Ramadhan mendukung untuk terus mengembangkan bakat itu. Dari membiarkan corat-coret tembok rumah hingga masuk sekolah jurusan animasi dan menjadi freelance illustrator.

Pria kelahiran 1 Desember 2000 tersebut, mulanya tampak sibuk dengan piranti digitalnya. Pemuda yang berhasil mengharumkan nama daerah itu, Akbar El Ramadhan, warga Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara.

Akbar terlihat fokus menggoreskan beberapa garis di ipad-nya menggunakan drawing pen. Kegiatan gambar-menggambar bukan suatu hal yang baru dilakoninya. Melainkan aktivitas yang telah menjadi kebiasaannya sedari kecil.

”Waktu kecil saya sering menggambar di tembok rumah. Alih-alih marah, ibu saya malah support. Saya dimasukkan les gambar saat kelas V hingga kelas VI SD atau sekitar 2011-2012 di Bima Lukis,” kenangnya.

Setelah lulus dari SD Negeri 2 Tegalsambi, dia melanjutkan di SMP Negeri 1 Jepara. Keterampilan mendesainnya kian matang saat duduk di SMK Negeri 2 Jepara jurusan animasi. Saat inilah dia mengenal dan mahir mengoperasikan aplikasi desain grafis, utamanya Adobe Flash.

”Sejak kecil saya juga sudah terbiasa megang komputer. Termasuk sering diajak ibu saya ke perpustakaan. Jadi terbiasa dengan buku. Saya juga punya art book import seharga Rp 11 juta,” sebutnya.

Kebiasaan dan persinggungan tersebutlah yang juga membentuk kepribadian pria bertubuh subur ini. Terlebih dalam proses mencari dan mengembangkan ide serta berbagai inspirasi.

Diketahui, Akbar juga sempat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan desain komunikasi visual. Namun, karena pandemi merebak baru dapat tiga semester, dia tidak melanjutkan studinya.

Dia juga kaya akan prestasi. Bermula dari ikut lomba kompetensi siswa tingkat Jawa Tengah (Jateng) animasi 2017. Kemudian pernah juara II tingkat ASEAN pada 2018.

Prestasi teranyar-nya sekaliber internasional, juara I dalam International Cartoon & Comic Contest yang digelar Bentara Budaya, House of Cartoon Mania atau HOCA, dan PT China Indonesia Global, di Bentara Budaya Jakarta pada Kamis (5/12) lalu.

Kontes kartun dan komik tersebut, dibuka sejak 22 September hingga 20 November 2024. Diikuti oleh 579 peserta yang mengirimkan 814 karya, terdiri dari 627 kartun dan 187 komik.

Pada awalnya kontes ditujukan untuk para seniman dari negara-negara anggota ASEAN (Seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam) serta China. Namun yang mengirimkan karya juga berasal dari 34 negara lain.

Akbar menyajikan karya berjudul Admiral Agung Cheng Ho. Dia menampilkan sepenggal sejarah ekspedisi Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok ke Nusantara yang mendorong akulturasi yang masih lestari hingga saat ini.

”Saya mengirim empat halaman yang saya selesaikan dalam waktu satu bulan. Kematangan inspirasi saya diperkuat dengan memori cerita ibu saya, tentang kiprah dan napak tilas Cheng Ho di berbagai tempat. Salah satunya Malaka bahkan Jepara,” ungkapnya.

Sementara itu, beberapa pengalaman kerja Akbar, di antaranya freelance animator di Sweatbox 2017 mengerjakan Si Juki The Movie, Primary School Textbook Ilustrator 2019, freelance graphic designer Little Tokyo Takoyaki 2020, serta Children Book Ilustrator Alrajhi Education Dubai 2021.

”Proyek terakhir ini, sebetulnya dari orang Kanada sejak 2021 hingga 2023 akhir. Tiga tahun baru selesai. Saya mengerjakan 17 buku anak untuk instansi pendidikan,” terangnya.

Tak hanya itu, secara gamblang Akbar menceritakan ketertarikannya terhadap sosio-kultural masyarakat Jepara. Ke depan, dirinya memiliki tekad mengangkat tema berdasarkan budaya setempat. Seperti secara pakaian yang mengenakan baju adat.

”Saya ingin buat komik atau animasi yang mengangkat soal realitas sosial masyarakat Jepara. Paman saya sendiri mengukir dan jualan mebel. Sementara itu, budaya sendiri bukan hanya ini ukir, ini batik, tapi bagaimana teraplikasi dalam kehidupan,” ungkapnya.

Akbar melanjutkan, dirinya juga tertarik terkait dengan Macan Kurung, tenun, terlebih kehidupan masyarakat pesisir. Termasuk historical RA Kartini.

”Kalau saya sendiri mengamati seperti terjadi degradasi kebudayaan. Padahal ada banyak hal yang bisa diangkat. Entah kapan nanti semoga terwujud. Tidak seperti sinetron,” ujarnya.

Hingga saat ini, Akbar masih aktif mengunjungi Perpustakaan Daerah Jepara.

”Biasanya seminggu sekali ke perpus. Nyari tempat baca, inspirasi, ataupun nge-game, maupun sekadar wifi-an,” Pungkasnya.***
Sumber: RK.

Pos terkait