Global7.id – Jepara, Jika selama ini semangat Raden Ajeng Kartini sering berhenti pada seremoni dan kutipan, di Batealit ia menjelma menjadi aksi yang berani dan menggugah. Selasa, 21 April 2026, bertepatan dengan Hari Kartini sekaligus ulang tahun ke-38 Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), klub panjat tebing Gopala Jepara menggebrak dengan cara yang tak biasa: memanjat dinding vertikal dengan balutan simbol-simbol Kartini di Batealit Sport Center.

Bukan sekadar peringatan, ini perlawanan terhadap batas.
Para atlet muda perempuan tampil bukan hanya mengandalkan teknik, tapi juga membawa narasi besar.
perempuan tidak lagi berdiri di pinggir, melainkan menaklukkan ketinggian, menantang risiko, dan meruntuhkan stigma.
Tebing menjadi panggung, dan tubuh yang menggantung di ketinggian menjelma pesan kuat bahwa emansipasi bukan lagi wacana, ia hidup, berdenyut, dan berani.
“Dengan semangat Kartini kita berani bermimpi untuk mencapai tujuan yang seakan sulit digapai. Kartini tidak pernah putus asa mengejar mimpinya,” tegas Salsa Adelia.
Zahira Syamsa Sabatia menambahkan bahwa pengalaman tersebut lebih dari sekadar aktivitas fisik.
“Kami benar-benar bisa menghayati beratnya perjuangan Kartini. Ini bukan hanya memanjat, ini merasakan,” ujarnya.
Sementara Sahitya Zatayu menggarisbawahi satu hal yang sering diremehkan, ketangguhan perempuan.
“Di sini terasa sekali bagaimana menjadi wanita tangguh. Bukan cuma kuat fisik, tapi mental juga diuji,” katanya.
Di balik aksi yang menyita perhatian itu, berdiri sosok pelatih yang membangun mental juang para atlet yaitu Abdul Kholiq, pelatih Gopala Jepara, menyebut apa yang dilakukan anak didiknya sebagai bukti keberanian generasi baru.

“Saya bangga. Mereka punya semangat dan nyali besar. Ini bukan hanya soal olahraga, tapi tentang keberanian menghadapi batas diri,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah setempat. Camat Batealit, Yenny Diah Sulistiyani mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai ruang positif bagi generasi muda.
“Kami sangat mengapresiasi dan memberi ruang pemuda dalam meraih mimpi,” ungkapnya.
Apa yang terjadi di Batealit bukan sekadar perayaan. Ini adalah peringatan keras bahwa ruang-ruang yang dulu dianggap “bukan untuk perempuan” kini sedang direbut kembali, bahkan ditaklukkan.
Di usia ke-38, FPTI tidak hanya bicara prestasi, tapi juga membuka jalan bagi narasi yang lebih besar : inklusivitas, keberanian, dan kesetaraan. Dan Gopala Jepara lewat aksi ini mengirim pesan yang tak bisa diabaikan ; Kartini tidak lagi hanya dikenang, ia sedang hidup, memanjat, dan menantang dunia dari ketinggian.
G7/OBG










