Cocoknya Ditanam Pohon Pisang? Inilah 3 Persoalan Pokok Jalan Rusak di Jepara

Foto, seorang pengendara sepeda motor melintas di dekat pohon pisang di jalan raya Jepara ke kecamatan Mlonggo.

Global7.id – Jepara,

Kritik bisa disampaikan melalui berbagai media sosial yang berbeda, bisa saran, usulan atau umpatan dengan kata-kata keras, pedas, cemoohan atau ejekan kasar yang dalam peribahasa sering disebut sebagai sarkasme. Sarkasme biasanya erat hubungannya dengan ironi. Majas ini menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya karena ditujukan untuk menyindir dengan cara mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya.

 

Salah satunya dengan menyampaikan perasaannya dan bahkan kritik terhadap kinerja pelayanan publik soal jalan rusak dan berlubang di wilayah Jepara utara. Hal ini diutarakan oleh warga Jepara utara melalui komentar di media sosial Facebook yang dinilai merugikan masyarakat umum.


Ungkapan kesal dilakukan oleh beberapa warga masyarakat di wilayah kecamatan Mlonggo, tepatnya di sebelah lampu merah sebelum pasar Mlonggo, pada Jumat (10/1/2025).

Ungkapan itu bukan dalam bentuk kata-kata sindiran yang pedas, tetapi dengan menanami jalan yang penuh lubang dengan pohon pisang, ketela, dan bunga. Ini ekspresi sindiran, umpatan dan bahkan cemoohan warga atas kinerja pelayanan publik di bidang infrastruktur, tanpa mau memahami kewenangan atas jalan tersebut.

Mereka kesal karena jalan yang menjadi kewenangan provinsi itu rusak parah dan tak kunjung diperbaiki. Kerusakan jalan di sekitaran lampu merah Mlonggo itu hanya sebagian kecil dari jalan yang rusak di ruang jalan Jepara – Keling.

 


Bukan hanya kali ini, jalan tersebut rusak tetapi telah puluhan tahun jalan tersebut tak pernah ditangani tuntas. Kalaupun ada penanganan itu hanya penembelan, itupun kualitasnya layak dipertanyakan.  Karena itu baru beberapa hari kemudian jalan tersebut telah mengelupas dan kembali berlubang.

 


Ada 3 persoalan pokok menurut penulis (SB) mengapa sebagian besar ruas jalan Jepara ke Keling tak pernah tuntas terselesaikan. 


 

Pertama

Jeleknya saluran drainase sehingga mengakibatkan di sebagian titik jalan saat hujan tiba berubah menjadi sungai dan mempercepat proses kerusakan jalan.


 

Kedua

Kualitas perbaikan jalan yang memunculkan pertanyaan warga. Sebab sulit di ukur kualitas dan efesiensinya dalam hal pembiayaan.


 

Bacaan Lainnya

Ketiga

Tonase atau beban muatan yang berlebihan. Pembangunan jalan selalu harus dipertimbangkan kelas jalan. Salah satunya untuk mengukur beban maksimal yang diperbolehkan untuk melewati jalan tersebut. Jika beban kendaraan jauh melampaui kekuatan jalan, maka dipastikan akan mempercepat proses kerusakan jalan. Apalagi dengan kualitas jalan yang tidak baik.


“SOLUSINYA, yaitu dana ratusan miliar untuk mengecor jalan dari Desa Mambak sampai ke Desa Keling, ” ujar netizen X.


 

Harapan warga tentu dengan cara mengkritik, sindiran dan bahkan umpatan kepada para pemangku kepentingan untuk segera bergegas menyelesaikan jalan rusak tersebut tidak dengan sekedar penambalan yang usianya hanya dapat dihitung dengan hari.***

Sumber: SB/Hadepe.

Pos terkait