Global7.id – Jepara,
Ditengah hangatnya sorotan publik terkait persoalan bendungan Buyutan di Desa Srikandang, Kecamatan Bangsri, Pemerintah Desa akhirnya memberikan penjelasan resmi. Klarifikasi ini disampaikan agar masyarakat memahami duduk perkara yang sebenarnya, tanpa prasangka dan tanpa menuding pihak tertentu.
Carik Desa Srikandang, Nandhirin, menjelaskan bahwa kejadian yang sempat menimbulkan kegaduhan tersebut bukanlah tindakan yang melibatkan perangkat desa, melainkan perselisihan antarwarga yang perlu disikapi dengan bijak dan hati tenang.
“Hambo mumet, mas. Asline tidak ada kaitannya dengan pemerintah desa. Ini murni persoalan antara Pak Zaini dan keluarga dengan para petani Buyutan,” ungkap Nandhirin dengan nada menenangkan saat dikonfirmasi, Selasa (14/10/2025).
Ia menjelaskan, permasalahan berawal dari bendungan Buyutan yang jebol akibat banjir beberapa waktu lalu, yang menyebabkan tanah milik keluarga Muh. Zaini ikut rusak. Saat kemudian ada kegiatan perbaikan menggunakan bronjong, penempatannya ternyata menimbulkan perbedaan pandangan antara pihak Zaini dan kelompok petani.
“Karena belum ada solusi atas kerusakan lahan itu, muncul inisiatif memperkuat tanggul. Tapi karena penempatannya tidak seperti sebelumnya, pihak Zaini merasa bendung buatan petani sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” jelasnya.
Kesalahpahaman itu berujung pada tindakan pembongkaran sebagian bendungan oleh pihak Zaini menggunakan alat berat, tanpa adanya koordinasi dengan kelompok petani maupun pihak desa.
Nandhirin meneyampaikan bahwa pemerintah desa tidak tinggal diam. Sejak awal, pihaknya terus berusaha menengahi agar persoalan tidak melebar dan hubungan antartetangga tetap terjaga.
“Petani hanya meminta agar bendung yang dijebol dikembalikan seperti semula supaya air bisa kembali mengalir normal. Kami pahami itu tuntutan wajar. Tapi di sisi lain, Pak Zaini juga ingin melindungi tanah keluarganya yang terdampak. Jadi kami dorong agar ada jalan tengah,” terangnya.
Menurutnya, penyelesaian masalah semacam ini sebaiknya tidak dibawa ke ranah konflik terbuka, melainkan diselesaikan dengan musyawarah dan kesadaran bersama bahwa air, tanah, dan hasil bumi adalah sumber kehidupan yang mestinya dijaga bersama.
“Kami di desa berkomitmen menengahi dengan kepala dingin, agar tidak ada yang merasa kalah atau menang. Yang penting, air bisa kembali mengalir, sawah tetap subur, dan warga rukun seperti sediakala,” tutur Nandhirin dengan nada teduh.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Desa mendukung langkah Dinas PUPR Kabupaten Jepara untuk memfasilitasi perbaikan jaringan irigasi Buyutan secara permanen. Harapannya, bendungan tersebut bisa kembali berfungsi optimal dan menjadi sumber manfaat bagi seluruh warga.
“Kita ingin persoalan ini selesai dengan hati, bukan dengan amarah. Semoga menjadi pelajaran bersama agar setiap langkah yang diambil selalu berlandaskan komunikasi dan musyawarah,” pungkasnya.
Dengan penjelasan ini, Pemerintah Desa Srikandang berharap masyarakat dapat melihat persoalan secara utuh, tidak hanya dari sisi konflik, tetapi juga sebagai ujian kebersamaan agar warga semakin bijak dalam menjaga harmoni dan saling pengertian di lingkungan desa.
G7/AR










