Global7.id – Jepara,
Sekelompok pegiat dan pekerja seni di Kabupaten Jepara menggelar aksi tabur bunga dan pembacaan puisi di depan Gedung DPRD Jepara pada Minggu, (31/8/2025) , pukul 16.30 WIB.
Aksi damai ini dilakukan sebagai respons atas peristiwa pembakaran gedung tersebut oleh demonstran pada Sabtu malam, (30/8/2025) . Terlihat pengamanan ketat dari pihak Kodim Jepara turut mengawal jalannya kegiatan.
Didid Endro S. Saat di temui awak media Global7.id kegiatan ini bertujuan menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi.
“Kami prihatin dengan kondisi DPRD Jepara. Kami tidak ingin terjebak dalam anarkisme dan tidak ingin masyarakat menjadi korban,” ujar Didid.
Ia menegaskan pentingnya menjaga kondisi agar tidak semakin keruh dan mengajak semua pihak untuk kembali berpikir jernih.
Didid juga menambahkan,
“Kami tidak menyalahkan apa yang sudah terjadi di Gedung DPRD Jepara, mungkin karena saking marahnya. Saya yakin mereka yg melakukan kekerasan bukan tanpa alasan. Mungkin mereka saking marahnya terhadap oknum DPRD dan pejabat lain sehingga perlu dilakukan hal seperti itu.”
Dalam kesempatan tersebut, Didid juga menyampaikan pesan tegas kepada para wakil rakyat dan lembaga pemerintahan di seluruh Indonesia.
“Kami ini rakyat, pemilik sah seluruh negeri ini. Kami yang menggaji mereka. Semiskin-miskinnya kami, kami rela untuk iuran agar kalian tetap gajian setiap bulan. Jadi, tolong jangan aniaya kami, jangan sakiti kami, jangan sengsarakan kami,” tegasnya.
Aksi ini menjadi bukti kuat bahwa solidaritas perlawanan rakyat sangatlah kuat. Melalui seni dan aksi damai, para pegiat seni mengingatkan para pejabat untuk menggunakan akal dan ucapan dengan baik, serta tidak lagi menantang rakyat. Mereka menekankan bahwa sudah saatnya para pejabat berintrospeksi dan memahami bahwa kedaulatan sejati berada di tangan rakyat.
Pernyataan Sikap Front Masyarakat Kesenian Jepara
Menyikapi situasi politik yang kian memanas, Front Masyarakat Kesenian Jepara mengeluarkan pernyataan sikap:
Menolak keras segala tindakan anarkis, vandalisme, dan kriminal yang merugikan masyarakat umum.
Mendesak Pemerintah dan DPRD Jepara untuk segera mengambil langkah tegas guna menjamin stabilitas keamanan.
Mendesak Pemda dan DPRD untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh masyarakat demi meyakinkan publik bahwa tindakan taktis keamanan masyarakat akan segera diambil.
Mengadakan Sidang Istimewa Rakyat Jepara dalam waktu paling lambat dua minggu, yang secara representatif mewakili semua pihak.
Pernyataan ini dibuat atas nama kesadaran berbangsa dan bernegara, tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun. Aksi damai ini diakhiri dengan seruan, “Kembalikan kedaulatan rakyat!”
G7/YA










