Innalillahi… Petir Maut Sambar Sawah Seyegan, Dua Petani Tewas Seketika Saat Berteduh

Foto, Petir Maut Sambar Sawah Seyegan, Dua Petani Tewas Seketika Saat Berteduh

Global7.id – Sleman, 

Cuaca ekstrem kembali memakan korban. Dua warga Padukuhan Barak, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, meninggal dunia akibat tersambar petir saat berteduh di gubuk sawah, Senin (9/2/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Satu orang lainnya selamat dalam insiden yang terjadi di tengah areal persawahan tersebut.

 

Peristiwa memilukan ini terjadi ketika ketiga warga sedang menanam padi. Hujan yang turun tiba-tiba disertai kilat memaksa mereka menghentikan aktivitas dan beristirahat di sebuah gubuk kecil di tengah sawah. Namun, tanpa disangka, sambaran petir menyambar lokasi mereka berteduh. Dua korban dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian, sementara satu korban lainnya berhasil selamat dan segera mendapatkan pertolongan.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada saat itu memang sangat tidak bersahabat. “Tiga orang sedang menanam padi di sawah. Saat hujan turun, mereka istirahat di gubuk kecil, lalu tersambar petir,” ujarnya saat dikonfirmasi.

 

Menurut Bambang, petir menjadi ancaman serius di area terbuka seperti persawahan, terlebih ketika hujan lebat disertai angin kencang. Gubuk kecil yang umumnya terbuat dari bambu dan atap sederhana tidak mampu memberikan perlindungan memadai dari sambaran petir. “Kami selalu mengingatkan masyarakat untuk segera menjauh dari area terbuka ketika hujan disertai kilat,” tegasnya.

 

Berdasarkan peringatan dini cuaca yang diterima BPBD, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko kejadian serupa, khususnya di kawasan pertanian, lapangan terbuka, dan perbukitan.

 

Tak hanya menelan korban jiwa, hujan disertai angin kencang juga menimbulkan dampak di sejumlah titik di Sleman. Di wilayah Karangploso, Kalurahan Maguwoharjo, pohon tumbang dilaporkan menimpa atap bangunan parkir, menyebabkan kerusakan material. Sementara di Sumberadi, Kapanewon Mlati, pohon tumbang melintang di badan jalan sehingga sempat mengganggu arus lalu lintas warga.

 

BPBD Sleman bergerak cepat melakukan asesmen dan penanganan darurat di lokasi terdampak. Petugas diterjunkan untuk mengevakuasi pohon tumbang, membersihkan akses jalan, serta memastikan tidak ada korban tambahan. “Upaya dilakukan, mulai dari asesmen hingga penanganan darurat di lapangan. Kami juga terus memantau perkembangan cuaca,” kata Bambang.

 

Bacaan Lainnya

Peristiwa petir maut di Seyegan ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat, khususnya para petani yang sehari-hari beraktivitas di ruang terbuka. Musim hujan yang disertai cuaca ekstrem menuntut kewaspadaan ekstra. BPBD Sleman mengimbau warga untuk menghentikan aktivitas luar ruang ketika awan gelap mulai muncul dan terdengar suara guntur.

 

“Jika hujan disertai kilat, segera cari tempat yang benar-benar aman. Hindari berteduh di gubuk sawah, bawah pohon, atau area terbuka. Jika memungkinkan, berlindung di bangunan permanen yang memiliki penangkal petir,” imbau Bambang.

 

Selain itu, masyarakat juga diminta rutin memantau informasi cuaca dari sumber resmi dan mengikuti arahan petugas. Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi.

 

Duka mendalam menyelimuti warga Margoluwih atas meninggalnya dua petani yang tengah mencari nafkah. Pemerintah daerah bersama BPBD Sleman menyatakan akan terus meningkatkan edukasi kebencanaan kepada masyarakat desa, terutama di wilayah rawan cuaca ekstrem.

 

Tragedi ini sekaligus menegaskan bahwa perubahan cuaca tidak bisa dianggap sepele. Ketika alam menunjukkan tanda bahaya, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Waspada, patuhi peringatan dini, dan jangan memaksakan aktivitas di tengah ancaman petir dan angin kencang karena satu keputusan terlambat bisa berujung fatal.

 

G7/GLN

Pos terkait