Global7.id – Pati,
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam publik. Setelah sebelumnya muncul di sejumlah daerah, kasus dugaan keracunan kembali terjadi, kali ini menimpa puluhan siswa SMK Negeri 4 Pati, Jawa Tengah. Insiden ini sekaligus memperpanjang daftar persoalan serius dalam pelaksanaan program nasional yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi pelajar.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin siang (9/2/2026), tak lama setelah makanan MBG dibagikan kepada para siswa. Beberapa menit usai menyantap menu makan siang gratis, siswa mulai mengeluhkan mual, pusing, nyeri perut, hingga muntah-muntah. Kondisi itu dengan cepat menyebar, membuat suasana sekolah berubah panik.
Melihat situasi tidak wajar, pihak sekolah langsung menghentikan pembagian makanan MBG dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan. Guru-guru membantu mengevakuasi siswa yang kondisinya memburuk ke ruang kesehatan sekolah, sebelum akhirnya puluhan siswa dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans dan kendaraan darurat.
Puluhan Siswa Dilarikan ke Rumah Sakit
Berdasarkan data sementara hingga Senin sore, tercatat puluhan siswa terdampak dengan gejala yang hampir seragam. Sebagian besar harus menjalani pemeriksaan dan perawatan intensif di ruang gawat darurat. Meski tidak ada laporan korban jiwa, insiden ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan orang tua dan masyarakat.
Sejumlah orang tua siswa mendatangi sekolah dan rumah sakit setelah mendapat kabar anaknya mengalami dugaan keracunan. Mereka meminta kejelasan terkait keamanan makanan MBG yang dikonsumsi anak-anak mereka di lingkungan sekolah.
Menu MBG Disorot, Sampel Diamankan
Menu MBG yang disajikan hari itu disebut terdiri dari nasi, lauk berbahan ayam, sayuran, buah, serta minuman pendamping. Secara kasat mata, menu tersebut tampak normal dan sesuai standar gizi. Namun, dugaan sementara mengarah pada kontaminasi makanan, baik dari proses pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi.
Tim dari dinas kesehatan bersama dinas pendidikan langsung mengamankan sampel makanan MBG untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan penyebab pasti keracunan, sekaligus menjadi dasar evaluasi lanjutan terhadap penyedia makanan.
Pemerintah daerah memastikan bahwa penanganan korban menjadi prioritas utama, sementara distribusi MBG di sekolah tersebut dihentikan sementara hingga hasil pemeriksaan keluar.
Terjadi Lagi, MBG Kembali Dipertanyakan
Kasus di Pati ini kembali memantik kritik publik karena bukan kejadian pertama. Sejak program MBG digulirkan secara luas, sejumlah daerah di Indonesia telah melaporkan insiden serupa dengan korban siswa sekolah.
Program MBG sejatinya dirancang untuk menekan angka kekurangan gizi dan stunting. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengawasan keamanan pangan masih menjadi titik lemah. Skala program yang besar dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sumber daya, standar dapur, serta pengawasan berlapis.
Pengamat pendidikan menilai, jika evaluasi tidak dilakukan secara menyeluruh, kasus serupa berpotensi terus berulang dan merusak kepercayaan publik terhadap program strategis nasional tersebut.
Kekhawatiran Orang Tua dan Dampak Psikologis
Selain dampak kesehatan, insiden ini juga memunculkan trauma psikologis bagi siswa. Beberapa siswa mengaku takut kembali mengonsumsi makanan yang dibagikan di sekolah. Orang tua pun menyuarakan kecemasan, bahkan meminta agar anaknya sementara waktu tidak mengikuti program MBG.
Di media sosial, video dan foto evakuasi siswa beredar luas dan memicu reaksi keras warganet. Banyak pihak mendesak pemerintah untuk tidak menutup-nutupi hasil investigasi dan menyampaikan secara terbuka kepada publik.
Evaluasi Mendesak dan Tuntutan Transparansi
Kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi lagi ini menjadi peringatan keras bahwa program bantuan pangan sekolah tidak boleh dijalankan sekadar mengejar target distribusi. Keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama.
Publik menuntut evaluasi menyeluruh terhadap:
sistem dapur produksi MBG,
standar kebersihan dan penyimpanan,
kualitas bahan baku,
serta mekanisme pengawasan di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu. Masyarakat berharap insiden di Pati tidak berlalu tanpa kejelasan, dan menjadi momentum perbaikan serius agar kasus keracunan MBG tidak terus terulang di daerah lain.
G7/GLN










